
Shanaz mengulum senyumnya mendengar ucapan suaminya yang selama ini sangat menjaga cintanya. Ia baru menyadari jika Bara hanya menginginkan Widia untuk mendapatkan seorang anak bukan untuk mencintai gadis itu sebesar cinta Bara untuk dirinya.
Tapi perkataan Bara yang hendak membawa pergi baby Tisha membuatnya meradang. Dia tidak ingin putri sambungnya itu diambil oleh Widia.
Ketika Bara hendak ke kamar mengambil baby Tisha, Shanaz lebih dulu mencegahnya.
"Mau apa kamu Bara ...?" Tanya Shanaz begitu Bara sudah mendekati baby Tisha.
"Mengembalikan baby Tisha pada wanita yang itu."
"Jangan ..! Antar dia pulang ke apartemennya tanpa membawa pergi baby Tisha dari rumah ini."
"Tapi sayang....! Dia akan tetap memilih tinggal di sini dengan alasan Tisha."
"Usir dia dari sini dan jangan pernah bermimpi bahwa Tisha Adalah putrinya." Ucap Shanaz sengit.
"Sayang ....! Biarkan dua membawa pulang Tisha karena saat ini kamu harus fokus pada kehamilanmu yang sebentar lagi akan melahirkan." Ucap Bara membujuk Shanaz untuk merelakan baby Tisha pergi.
"Apakah kamu tidak lihat, dia sedang tidur? Kenapa harus membawanya dalam keadaan tidur?"
Bara juga tidak tega membawa putrinya pergi, tapi perubahan sifatnya Widia membuat ia juga merasa geram.
"Biarkan saja Widia tinggal di sini Bara ..! Tapi kamarnya di ruang tamu dan posisinya di rumah ini adalah tamuku dan aku tidak mau dia mengatur aturan di rumah ini." Ucap Shanaz tegas lalu merebahkan tubuhnya.
"Sayang...! Apakah kamu yakin mengijinkan dia tinggal di sini, sementara keadaanmu butuh waktu tenang untuk melakukan proses persalinan." Ucap Bara cemas.
"Jangan cemaskan diriku, tapi cemaskan dirimu bagaimana kamu harus memperlakukan kami dengan secara adil." Ucap Shanaz memilih untuk tidur.
"Itu yang membuat aku sulit melakukannya di saat kalian tinggal dalam satu atap bersamaku." Tolak Bara.
"Itu resiko mu, kenapa kamu memilih untuk memiliki dua istri." Acuh Shanaz.
"Astaga....! Apakah kamu ingin melihat aku setress menghadapi kalian berdua? jadi kamu sengaja balas dendam kepadaku?"
__ADS_1
"Untuk apa balas dendam? Tanpa aku membalas mu, hidupmu sebenarnya sudah berada di dalam neraka." Ucap Shanaz.
Bara mengusap wajahnya kasar. Mengacak-acak rambutnya seakan sudah kehilangan solusi untuk memperbaiki keadaan.
Satu-satunya saat ini yang ingin ia temui adalah Eki. Hanya dengan asistennya itu ia bisa mencurahkan perasaan gundahnya saat ini.
Sementara itu di lantai bawah, Widia sedari tadi uring-uringan karena nasibnya belum jelas saat ini.
Apakah dua diijinkan tinggal di sini ataukah kembali lagi ke apartemennya dan melakukan apapun sendiri walaupun Bara sudah menawarkan untuk menyewa suster untuk mengurusnya.
Nyatanya saat ini, ia lebih kerasan tinggal di sini walaupun harus bersaing dengan Shanaz.
Bara turun dari lantai atas sambil bicara pada pelayan lain untuk mengantarkan Widia ke kamar tamu.
"Kamarmu di kamar tamu dan kedudukan mu di sini sebagai tamu bukan sebagai pemilik rumah. Tidak usah banyak bantah maupun keluhan karena kamu ke sini bukan aku dan Shanaz yang menginginkan kamu tinggal disini.'' Ucap Bara sambil berlalu menuju mobilnya.
Widia tersenyum penuh kemenangan karena usahanya untuk bisa tinggal di rumah ibu akhirnya berhasil.
"Tidak apa aku tinggal di kamar tamu. Sebentar lagi aku akan mengusai rumah ini dan menendang Shanaz keluar dari rumah ini." Batin Widia.
Di perusahaan, Bara mencurahkan semua isi hatinya pada Eki yang setia mendengarkan curhatan Bara.
Eki juga kaget mendengar aksi nekat Widia yang makin tidak tahu diri pulang ke mansion Bara.
"Sekarang kamu lihat sendiri sikap Widia padamu. Dia hanya bersikap lembut hanya diawal saja untuk merebut hatimu. Selebihnya dia ingin kamu tunduk semua apa yang diinginkannya. Benar-benar wanita yang licik." Ucap Eki.
"Aku menyukai Widia karena dia berjanji akan menjaga batasannya sebagai istri keduaku saja. Dia tidak menuntut apapun asalkan saat dua sangat membutuhkan aku, aku harus ada untungnya." Ucap Bara.
"Hati-hati dengan istri keduamu itu Bara ! Jangan sampai ia nekat menyakiti Shanaz dan anak kalian yang sebentar lagi akan melahirkan." Ucap Eki cukup membuat Bara tertegun.
"Jangan berpikir yang terlalu buruk, Eki!! Aku yakin Widia tidak sejahat itu." Bantah Bara.
"Wanita kalau sudah terbakar cemburu dan iri hati biasanya nurani mereka tertutup akan kebaikan. Jangan lupa ada setan yang menjadi ke tiga diantara kalian." Ucap Eki.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, telepon berdering di mana Widia ingin di antarkan ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan pada kakinya.
Bara hanya menyanggupinya namun ia mengirim sopir untuk mengantar Widia ke rumah sakit.
Widia terlihat girang kalau pada akhirnya ia bisa jalan berduaan lagi dengan Bara.
Shanaz yang sedang berlatih senam hamil di ruang keluarga melihat Widia keluar dari kamarnya dengan penampilan yang terlihat cantik.
Shanaz tidak mempedulikan Widia. Ia memperhatikan televisi mengikuti setiap gerakan senam hamil sesuai dengan gerakan instruktur senam.
"Oh akhirnya, suamiku mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku merindukan saat-saat kebersamaan kami seperti dulu." Ucap Widia sengaja menyebarkan racunnya di hadapan Shanaz untuk menyakiti hati ibu mil itu.
"Permisi nyonya...! Tuan Bara meminta saya untuk mengantar anda ke rumah sakit." Ucap Pak Yudi.
"Kenapa pak Yudi yang antar saya. Bukankah Bara yang mau antar saya..?" Ucap Widia terlihat kesal.
"Katanya tuan ada meeting mendadak nyonya." Ujar pak Yudi.
"Kalau begitu aku tidak jadi terapi hari ini." Sungut Widia kembali lagi ke kamarnya sambil membanting pintu.
Shanaz yang mendengar itu menarik sudut bibirnya." Apakah kamu mengira bisa mengusai hati suamiku semudah itu..? Kamu salah besar Widia. Suamiku hanya milikku dan termasuk putrimu Tisha." Ucap Shanaz lirih.
Keesokan harinya, Bara mengantar Shanaz ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya Shanaz. Melihat Bara yang lebih perhatian pada Shanaz , membuat emosi Widia meledak.
"kemarin kamu menolak mengantar aku untuk terapi, tapi kenapa giliran sekarang kamu malah mengantar Shanaz ke rumah sakit? bukankah aku juga istrimu?" Omel Widia.
"Bukankah kemarin aku sedang meeting dan sekarang waktuku luang untuk bisa bersama Widia." Ucap Bara.
"Baiklah kalau begitu aku juga ikut ke rumah sakit bersama kalian berdua."
"Bukankah hari ini tidak ada jadwal terapi di rumah sakit itu?" Ucap Shanaz membuat Widia mengepalkan kedua tangannya menahan geram yang amat sangat.
Bara menggendong Widia menuju mobilnya dan itu membuat hati Widia makin panas.
__ADS_1
"Sialan...! Wanita itu ternyata juga licik. Pantas dua jadi pengacara. Bukankah pengacara juga punya banyak sejuta kata untuk bisa menekan lawannya di pengadilan?" Batin Widia.
Mobil mewah itu meluncur dengan kecepatan stabil meninggalkan kediaman Bara .