Terpaksa Merawat Anak Pelakor

Terpaksa Merawat Anak Pelakor
30. Kenangan Terakhir


__ADS_3

Prosesi pemakaman Shanaz yang langsung di urus oleh menantunya Rangga dan besannya tuan Husein Ibrahim, serta asisten pribadi suaminya tuan Eki.


Ketidakhadiran kedua putrinya yang sama-sama terbaring lemah di rumah sakit belum sadarkan diri. Rahma yang sedang menunggu sahabatnya Tisha dan bibi Ima yang menunggu anak majikannya Tasya.


"Non ....! Semoga kalian berdua segera sembuh agar pengorbanan ibu kalian tidak sia-sia." Ucap bibi Ima yang sedari tadi mengusap air matanya.


Wanita ini yang menyaksikan perjalanan kehidupan Tasya dan Tisha yang harus kehilangan ayah di usia mereka masih bayi. Dan sekarang kehilangan seorang sosok ibu yang membesarkan mereka penuh kasih sayang.


Dua hari kemudian Tasya yang mulai siuman duluan. Ia menanyakan keberadaan ibunya yang membuat bibi Ima tidak mampu menjelaskan sendirian kecuali menunggu kedatangan tuan Eki.


"Bibi di mana mami?"


"Mama lagi pergi sebentar, non."


"Mami ada sidang ya bibi?"


"A...iya non." Ucap bibi gugup."


"Bibi...! Apakah aku sudah mendapatkan donor hati? Sekarang Tasya merasa tubuh Tasya sangat baik. Siapa yang telah mendonorkan hati untuk Tasya?" Tanya Tasya penasaran.


"Non.. kalau urusan itu bibi tidak tahu menahu non. Mungkin dokter bisa menjelaskannya." Sahut bibi Ima makin berkeringat dingin dengan tubuh yang sudah terlihat gemetaran.


"Bibi Ima sakit? kalau begitu bibi Ima pulang saja ya agar bisa istirahat. Biar mami yang nungguin Tasya. Pasti mami tahu siapa orang yang baik hatinya yang telah mendonorkan hati buat Tasya." Gumam Tasya terlihat bahagia.


Ia segera mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan pada ibunya. Usai mengirim pesan Tasya hendak melihat berita yang sedang viral saat ini di konten YouTube. Bibi Ima segera mencegahnya agar Tasya tidak melihat apapun pada ponselnya.


"Non ...kata dokter. Nona tidak boleh memegang ponsel dulu karena hati yang baru di donor itu perlu penyesuaian dengan pemilik barunya." Ucap bibi Ima bohong.


"Oh begitu. Baiklah. Terimakasih ya bibi, sudah diingatkan." Senyum Tasya terlihat sangat manis.


Tapi duka bibi Ima terlihat perih menyaksikan Tasya yang belum mengetahui keadaan ibu kandungnya dan juga saudara kandungnya yang juga masih koma.


Tidak lama kemudian tuan Eki dan Tuan Ibrahim menemui Tasya. Gadis ini menyambut kedatangan keduanya dengan suka cita.


"Apa kabar Tasya!"


"Alhamdulillah. Baik paman." Ucap Tasya sambil mencium punggung tangan keduanya.


"Apakah mami ku masih di gedung pengadilan, paman Husein?" Tanya Tasya.

__ADS_1


Tuan Husein menatap wajah tuan Eki yang sedang menarik nafas dalam. Tuan Eki sengaja meminta tuan Ibrahim untuk menjelaskan kasus kematian nyonya Shanaz karena tuan Ibrahim lebih pintar bicara dari pada dirinya.


Bukan hanya tuan Ibrahim yang melakukan pendekatan secara agama tapi juga ada dokter psikologi yang mereka libatkan untuk bisa menenangkan Tasya agar bisa menerima kenyataan yang menyakitkan baginya.


Tuan Husein yang mulai duluan dengan membaca doa terlebih dahulu untuk di mudahkan dirinya menyampaikan kabar duka itu.


"Tasya ...! Kedatangan kami ke sini bukan hanya ingin menjenguk kamu saja tapi ada yang harus kami katakan padamu walaupun ini sangat tidak enak menurut kami. Tapi apapun yang terjadi, kamu bukan lagi gadis kecil yang akan mudah hancur setelah mendengar apa yang akan kami katakan kepadamu." Ucap tuan Ibrahim hati-hati.


"Katakan saja paman, Tasya siap mendengarkan hal terburuk sekalipun." Ucap Tasya mengingatkan tuan Ibrahim selalu mendengar ucapan Shanaz sama persis yang dikatakan Tasya padanya.


"Sebenarnya, mami kamu yaitu nyonya Shanaz telah meninggal dunia karena beliau mengalami kecelakaan lalu lintas bersamaan dengan kakak kandung mu Tisha."


Duaaarrr.....


"Tidakkk....tidakkkkk....!" Tasya langsung memeluk bibi Ima yang juga sudah meraung duluan.


"Bibi....! Ini tidak benarkan?"


"Nyonya memang sudah meninggal non. Nyonya yang telah mendonorkan hatinya untuk non Tasya." Ucap bibi Ima.


Tuan Eki dan Tuan Ibrahim menyampaikan duka mereka pada Tasya lalu meninggalkan kamar inap itu.


Tiga bulan berlalu, Tasya dan Tisha beserta Rangga sedang mengunjungi makamnya kedua orangtuanya mereka. Makan Nyonya Shanaz bersebelahan dengan makamnya Baratayudha, suaminya.


Ketiganya berdoa dengan khusyuk di pimpin oleh Rangga. Sementara itu tuan Eki dan putranya Bimantara ikut ziarah ibunya Bimantara. Eki memperkenalkan putranya Tara pada Tasya. Tara adalah seorang perwira angkatan udara.


"Tara ..! Kamu masih ingat dengan paman Baratayudha sahabat ayah?"


"Iya ayah."


"Ini putrinya Tasya yang sekarang menjadi bos Ayah di perusahaan." Ucap tuan Eki.


Tara menatap wajah cantik Tasya penuh rasa kagum. Begitu Tasya yang tampak malu-malu menatap wajah tampan Tara.


"Apakah kamu sudah punya kekasih Tasya?" Tanya Tara langsung tembak pada sasarannya.


Tasya menggeleng sambil senyam-senyum membuat Tisha tergelitik untuk menggoda adiknya ini.


"Sudah bungkus, bawa pulang Tara. Gadis seperti ini susah dapatnya. Di jamin masih ori. Adikku ini paling kaya. Cantik sudah kamu lihat sendiri dan ibadahnya, insya Allah bisa menjamin kamu masuk surga." Ucap Tisha seperti sedang iklan sabun mandi.

__ADS_1


"Kamu ini apa-apaan sih kak, kayak aku nggak laku aja." Sungut Tasya.


"Iya nich. Jatohin pasar aja." Celetuk Rangga belain adik iparnya.


"Nanti aku dan papa akan melamarmu." Ucap Tara terlihat serius.


Tasya dan Tisha saling berpandangan satu sama lain." Akhirnya aku tidak sendirian jadi mak-mak." Goda Tisha.


Akhirnya mereka meninggalkan pemakaman itu kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Satu bulan kemudian Tara dan Tasya akhirnya menikah. Rangga dan Tisha melanjutkan bulan madu mereka ke Paris bersama dengan pengantin baru itu. Mereka menggunakan pesawat jet pribadi milik ayah mereka. Dan uniknya pesawat jet itu di bawa sendiri oleh Tara sebagai Pilotnya.


"Berapa anak yang kamu inginkan sayang?" Tanya Tisha pada Rangga.


"Empat orang."


"Emang nggak kesedikitan?"


"Kasihan anaknya."


"Emang kenapa?"


"Ikutan bawel seperti maminya."


"Yang penting aku tidak menyuruh mereka jualan obat."


Keduanya terkekeh.


Setahun kemudian, kedua putrinya Baratayudha akhirnya lahir bersama dan Tisha lahir seorang bayi laki-laki dan Tasya lahir bayi perempuan.


Tisha memberikan nama ayahnya pada putranya diikuti nama mertuanya. Sementara Tasya menyemaikan nama putrinya dengan nama maminya Shanaz.


Rangga dan Tisha kembali menempati rumah mereka di London. Sementara Tasya tetap mengelola perusahaan ayahnya dan di bantu oleh suaminya yang memilih menjadi asisten istrinya.


Lima tahun berlalu kehidupan mereka di hadiri lagi oleh kehamilan kedua hingga dianugerahi sepasang anak. Rangga berencana kembali ke Indonesia dan membuka perusahaannya sendiri di tanah air.


Sementara Tisha membuka klinik kecantikan sendiri mengikuti trend perkembangan jaman karena permintaan pasar. Kehidupan keluarga kedua gadis ini jauh dari gosip karena kesetiaan suami mereka.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2