The Chance (Kesempatan)

The Chance (Kesempatan)
sepuluh


__ADS_3

Pletak


Bram memukul kepala adiknya itu dengan file di tangannya "Braaam" Bianca memekik


"Kau ini sudah tahu kau itu punya lambung yang lemah masih saja tidak makan" kesal Bram


"Iya aku minta maaf, aku berjanji akan makan" Seru Bianca mengusap kepalanya yang sakit


"Dan Kau Jordy, bagaimana kerjamu hingga membiarkan Bianca bisa melewatkan jam makannya, Kau kupotong gajimu setengah" Ucap Bram berlalu dari sana dan menelpon seseorang dan disusul oleh Bianca dari belakang


"Haish Tuan Bram ini, jika Marah sungguh mengerikan" Gumam Jordy pelan


"Permisi Tuan, ini obatnya" Ujar apoteker yang memberikan resep obat kepada Jordy


Lalu membayarnya dan pergi menyusul kedua bosnya yang selalu membuatnya kerepotan itu


.


.


.


Malam hari pun tiba


"Nona, aku mohon padamu jangan lupa makan" tutur Jordy kepada Bianca yang mengangguk dengan rasa lelah keluar dari mobilnya, Jordy yang tidak ikut kedalam karena harus segera kembali ke Big House hanya menghela nafas berat


"Jangan sampai Tuan Bram memotong gajiku lagi" Gumamnya


Bianca yang sudah tiba di Rumah Utama bergegas menuju kamarnya karena Ia ingin mandi, merasa kegerahan karena aktivitas nya seharian ini


"Nyonya, silahkan minum dulu" Ucap Pak Li menahan Bianca yang hendak naik tangga


"Apa ini Pak Li?


"Wedang Jahe Nyonya"


Bianca pun meminumnya hingga habis, lalu menyerahkannya kembali kepada Pak Li "Terimakasih Pak Li, apa kakakku mengomeli mu? Tanya Bianca


Pak Li hanya tersenyum karena Bianca sudah mengetahuinya, Siang ini Bram menelpon Pak Li untuk memperhatikan jam makan Bianca dan setiap hari Pagi dan Malam membuatkan Bianca wedang Jahe hangat, Bram melakukan itu disatu sisi karena sangat menyayangi adik perempuan satu-satunya juga Ia tahu bahwa Gery pasti tidak akan memperhatikan hal tersebut karena Gery dan Bianca seperti kucing dan anjing yang selalu bertengkar

__ADS_1


Bianca yang merasa sangat nyaman merendam dirinya di bathtub tanpa sadar tertidur sejenak, Ia sungguh merasa rileks apalagi dengan lilin aromaterapi dan juga sebuah music yang indah


Dug..dug..dug


Suara yang merusak kenyamanan Bianca


"Hei Tarzan cepatlah aku juga ingin mandi" pekik Gery dari luar


"Ck...apa sih si tengil narsis itu, ganggu aja" Seru Bianca cemberut dan kesal karena diganggu, Ia pun berdiri dan keluar dari bathtub lalu mengambil handuk dan bergegas menuju lemarinya untuk mengenakan baju


"Kenapa Kau lama sekali" Gery yang kesal melihat Bianca keluar dengan tatapan sinis padanya


Bianca cuek saja dan berjalan melewati Gery, Ia mengeringkan rambutnya, dan kembali ke sofa untuk membuka laptopnya melanjutkan pekerjaannya "Apa ini yang dikatakan Gery" Bianca membaca dan mempelajari proyek yang dikirim oleh Gery padanya beberapa waktu lalu


Tok...tok...tok


"Masuk"


"Tuan-Nyonya, makan malamnya sudah siap" Ujar Pak Li


Bersamaan dengan itu Gery yang keluar dari kamar mandi, mengelap rambutnya yang basah lalu mengambil ponselnya di nakas dan pergi keluar menuju meja makan, sedangkan Bianca masih berkutat pada Laptop nya


"Nyonya, Tuan Gery sudah turun kebawah" Ujar Pak Li


"Iya-iya Pak Li, aku matikan dulu laptop ku" Seru Bianca lalu bergegas berjalan keluar disusul oleh Pak Li


Makan malam yang sangat tenang tanpa ada gangguan apa pun hanya terdengar suara sendok serta garpu yang terkadang tak sengaja menyentuh dasar piring


"Aku sudah selesai" Ucap Gery mengambil serbet lalu berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya


Bianca yang fokus pada ponselnya sedari tadi pun selesai makan, dan beranjak dari sana menuju kamarnya


"Hedeeeh" Pak Li lagi-lagi menghela nafas dengan berat, Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon Tuan besar, seperti Biasa untuk memberikan laporan yang terjadi di Rumah Utama


"Baiklah aku mengerti" Ujar Tuan Dean di sebrang, lalu Pak Li mematikan ponselnya


.....


Jam menunjukan pukul 11, Gery yang hari ini sudah selesai dengan kerjaan yang Ia bawa pulang, kini menatap layar ponselnya yang masih memasang wallpaper foto dirinya dan Anaya

__ADS_1


"Nay, dimana kau sekarang, apa yang sedang kau lakukan saat ini" Ucap Gery mengusap layar ponselnya


Gery kembali mengingat ketika Ia pertama kali bertemu Anaya saat SMP, seorang gadis yang sangat susah Gery taklukkan, bahkan saat itu Ia harus berurusan dengan bodyguard Anaya. Namun itu semua membuahkan hasil, Ia bisa pacaran dengan Anaya


Akan tetapi, yang Gery tidak tahu adalah perpisahan nya dengan Anaya, fakta jika Anaya meninggalkannya ketika lagi sayang-sayangnya.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu menyadarkan Gery


"Masuk"


"Hai, apa kau sudah tidur" tanya Bianca mengintip sekilas dengan membuka pintu sedikit, sembari memegang laptop ditangannya


"Belum, ada apa kau kesini... Apa kau tidak bisa tidur karena aku tidak di kamar"


"Hii, kenarsisanmu itu lama-lama bisa mendatangkan penyakit kau tahu" Ucap Bianca kesal


Gery terkekeh kecil melihat Bianca "Kau itu tidak pernah berubah, selalu saja arogan" Gery bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Sofa yang ada di ruang kerjanya


"Duduklah, sepertinya kau ingin membicarakan sesuatu" Tatap Gery, Bianca pun masuk lalu duduk di sofa tepat di samping Gery membuat Gery tertawa kecil dalam hati


Dasar perempuan gila kerja, jika bukan karena kerjaan kau pasti akan menyadari kau duduk disisi ku. Gumam Gery menahan tawa


"Lihat ini, aku sudah selesai merancang sistem teknologi yang seperti kau mau dan aku sedikit menambah fitur lainnya, tiap kamar berbeda sesuai lantai dan juga fasilitas yang disediakan di setiap kamar" Bianca menunjukan Laptopnya yang Ia letakkan dimeja


"Menarik, tapi apa fitur yang kau tambahkan ini tidak merusak sistem jaringan lainnya, contohnya ini" tunjuk Gery


"Ya itu dia yang sedang ku pikirkan, sebab itu aku ingin berdiskusi denganmu" seru Bianca yang menyandarkan dirinya di sandaran sofa


Bianca dan Gery memang sering berargumen namun jika soal kerjaan mereka berdua sama-sama kompak, seperti saat ini.. damai melihat mereka


"Tunggu dulu, sepertinya aku punya sesuatu disini, mungkin bisa membantumu, karena ini catatan Papa dan Ayah ketika mereka membangun Big House dan juga Rumah Utama" Gery berdiri melangkahkan kakinya kembali kebelakang Sofa dimana meja kerjanya berada


Bianca yang masih berpikir keras sambil mengigit kukunya itu mengambil Laptop dan meletakkan nya diatas bantal agar Ia bisa tetap menyandar "Bagaimana dengan timbangan atau lemari ini, kau tahu aku menemukan hal yang menarik di laboratorium HS.Tech" Bianca sedang mencari file tersebut di Laptopnya, sementara Gery sudah berdiri dibelakangnya dengan dokumen yang ia temukan


"Lihat Ini" seru Bianca yang gembira tidak sabar menunjukannya kepada Gery


"Apa ini, lemari dan timbangan" Gery yang langsung menunduk dan mendekatkan wajahnya tepat di samping Bianca sehingga membuat Bianca terkejut sampai terdiam tak bergerak, Gery yang tak menyadarinya hanya fokus kepada Laptop dan menggeser kursor pada Laptop yang ada dipangkuan Bianca

__ADS_1


__ADS_2