
MC Hospital
"Untunglah masih sempat Bram" Ujar Sasa menepuk bahu Bram
"Thanks Sa" Bram menatap Bianca yang masih terbaring
"Terimakasih Sasa" Tutur Gery
"Bram, apa gak sebaiknya kita panggil Andrew saja" Sasa memberi masukan pada Bram
"Andrew" Gery menoleh ke Bram "Andrew siapa"
"Andrew Newton, dia psikiater di rumah sakit ini" Bram menghela nafasnya lalu menoleh ke Sasa "Thanks Sa, nanti aku akan bicara sama Andrew....
"Ada apa dengan ku" Andrew yang muncul tiba-tiba, mengagetkan mereka yang ada di ruangan itu
"Kau ini, kenapa tiba-tiba ada disini" Sasa memukul Andrew
"Hei Nona mysophobia ini UGD, dan aku juga dokter, emang tidak bisa aku kesini, aku sedang memeriksa pasien di sebelah kalian ini" Tutur Andrew yang di balas tatapan sinis oleh Sasa lalu pamit pada semuanya dan pergi
(Visual Dokter Sasa)
Bram menoleh ke Andrew lalu menceritakan hal yang terjadi pada Andrew "Hem, kalau begitu sebaiknya kalian tanya saja Bianca dulu, kalau dari mendengar cerita mu, adikmu ini orangnya tidak mudah, jika kau tiba-tiba menyuruhnya untuk menemui ku maka itu akan memicu emosinya" Ucap Andrew
"Lalu...." Tanya Bram
"Aku akan memberikan beberapa obat untuk Adikmu, dan coba lah sering mengobrol dengannya, jangan meninggalakannya sendiri supaya pikirannya tidak kosong"
"Mengalihkan pikirannya" Celetuk Gery yang di jawab anggukan oleh Dokter Andrew
"Baiklah, thanks ya Drew" Tepuk Bram
"Terimakasih Dokter Andrew" Gery berjabat tangan dengan Andrew
__ADS_1
(Visual Dokter Andrew)
######
Disebuah Negara J, dimana orang tengah sibuk mengadakan kampanye pemilihan di Negara J untuk para petinggi.
"Wanita ini berasal dari Ermeth Town?
"Ya Tuan, dan lebih spesial lagi" Pria itu menyuruh pria lainnya membuka penutup muka yang menutup wajah perempuan di depannya
Sraakk
"Na....." Pria yang duduk itu terdiam sangking terkejut nya
"Bagaimana Tuan Prama"
"Rio, urus semuanya"
"Baik Tuan.....
Hotel di Negara J
"Apa yang sudah terjadi padamu selama ini" Pria yang duduk di kursi roda itu membelai dengan lembut wanita yang terbaring di atas kasur tersebut
"Emh..." Wanita itu membuka matanya dan berusaha sadar, samar-samar Ia melihat sosok pria di depannya "Aaakh, pergi... Pergi jangan sentuh aku...." wanita itu tiba-tiba menjadi histeris menarik selimut menutupi dirinya
"Nay... Naya ini aku Adit" Pria itu mencoba berbicara dengan lembut, wanita yang di panggil Naya perlahan mulai melihat dengan saksama, dan dengan mata yang berkaca-kaca
"Adddiiiit...." Tangisnya pecah ketika menghampiri Adit dan memeluknya
"Iya Nay, ini aku Adit" Ucap Adit menepuk pundak Naya yang menangis tanpa henti dalam dekapannya
Setelah 20 menit berlalu...
__ADS_1
"Minumlah supaya kamu merasa lebih baikan" Ucap Adit
"Makasih" Seru Naya mengambil gelas berisi coklat panas dan meminumnya
"Sir, the dinner is ready"
"Nay, makan dulu yuk" ajak Adit
"Aku masih rasa kenyang Dit" ucap Naya dan Adit menyuruh pelayannya untuk menunda makan malamnya
"Mau jalan-jalan ke beranda" tawar Adit memutar kursi rodanya dengan senyuman, dan Anaya pun mengangguk kecil
"Biar saya aja Pak" Anaya meraih pegangan kursi roda Adit dan mereka pun berjalan menuju beranda dan bersantai di tempat duduk yang ada di situ
"Kamu pasti penasaran kenapa aku bisa berakhir ditempat seperti itu" Anaya bersuara lebih dulu
"Jika Kau tak ingin menceritakannya juga tidak apa" Balas Adit dengan senyuman
"Terimakasih ya Dit udah tolongin aku, kalau suasana hati aku udah tenang, pasti aku cerita"
"Santai aja Nay" Adit tersenyum kembali
"Aku hanya berharap jika yang terjadi padamu tidak ada sangkut pautnya dengan Gery, jika benar ini semua karena dia... Maka aku tidak akan pernah memaafkan dirinya" Gumam Adit dalam hatinya
(fb beberapa tahun silam, University)
Gery dan Adit sama-sama babak belur, dan keduanya sama-sama terbaring di lantai
"Aku akan pergi ke Negara J" Ucap Adit
"Apa karena Aku dan Anaya" tebak Gery
"Ya itu juga salah satunya, dan Papaku sedang terbaring koma di rumah sakit, aku harus melanjutkan perusahaannya di negara J"
__ADS_1
"Apa Anaya tahu" Tanya Gery uang di balas gelengan oleh Adit
"Jangan beritahu Naya, subuh ini aku akan berangkat" Adit berdiri dengan sempoyongan lalu melihat ke Gery yang duduk menyandar pada tiang "Aku serahkan Anaya padamu, kau harus janji untuk membahagiakan Anaya, jika kau menyakiti nya maka aku orang pertama yang akan membalas lebih sakit lagi" Tutur Adit dengan sedikit nada ancaman di akhir katanya lalu pergi....