
Sepanjang jalan Bianca merasa tidak tenang "Finick, apa Papa ku selama ini sakit" tanya nya
"Setahu saya beliau hanya punya kolesterol dan juga masalah jantung karena kolestrol nya itu Nona" ucap Finick
"Hah.... Kenapa bisa masuk rumah sakit ya"
Huuf, tenang Ca tenang Papa pasti akan baik-baik saja. Batin Bianca, dan ponselnya berbunyi "Bram" Bianca pun mangangkatnya
"Hal...." Belum selesai Bianca mengatakan Halo, Bram sudah meneriakinya
"APA YANG SEBENARNYA KAU LAKUKAN" Bram sangat marah
"Bram ada apa denganmu, mengapa kau marah"
"Kau masih berani bertanya kenapa aku marah, bisakah sekali saja kau tidak membuat Papa berada situasi yang sulit"
"Kak, apa maksud mu... Mengapa kau begini"
"Kau jaga Papa dengan baik sampai aku tiba disana bersama dengan istriku"
Tut...tut...tut... Bianca menatap bingung pada ponselnya yang sudah mati, baru kali ini lagi Ia melihat Bram kakaknya marah padanya hingga begitu.
Sesampainya di rumah sakit milik MC. Corp, Bianca berlari menuju ruang informasi, dan di ketahui bahwa Papanya sedang menjalani operasi, Bianca pun bergegas menuju kesana
"Mamah" panggilnya
"Anca...hh...hh..Papa Ca" Nyonya Via memeluk anaknya sambil menangis tersedu-sedu
"Mah, tenang ya... Papa akan baik-baik saja kok" Ucap Bianca dan dokter pun keluar
"Sandra... Gimana keadaan Papa" tanya Gery yang dekat dengan pintu operasi disusul dengan Bianca dan Nyonya Via serta Tuan Dean
"Om Ken, sudah mulai membaik dan harus segera di operasi, namun saat ini Ia masih sangat lemah, Om Ken ingin berbicara dengan Om Dean" tutur Leo
Operasi. Bianca berpikir keras dalam diam
__ADS_1
Lima belas menit kemudian
"Ayah gimana Papa" tanya Bianca
"Papamu sedang istirahat, ia juga tak ingin di operasi, tadi dia berpesan untuk segera menikahkan kalian disini, ia ingin melihatnya"
"Apa..." Bianca masih tidak percaya Ia beralih ke Sandra " Sandra, bisakah aku masuk, aku mohon ijinkan aku masuk" Bianca memohon
"San, izinkan kami masuk, sebentar saja lima menit saja" Gery pun maju kedepan
"Baiklah, tapi hanya sebentar"
.....
"Pah" Bianca terkejut, tak kuasa melihat kondisi Papahnya yang terdapat selang pada beberapa bagian tubuhnya, Gery menyadari itu, Ia mengelus pundak Bianca untuk menguatkannya
"Ca..." Lirih Papa Ken
"Iya Pa, ini Bianca..."
Papa Ken tidak bisa banyak bicara, Ia berusaha meraih tangan keduanya Bianca dan Gery lalu menyatukannya dan tersenyum
"Oke, tapi Papa harus janji di Operasi" imbuh Bianca dengan sedikit nada negoisasi, seperti yang biasa Papanya lakukan kepadanya dari dulu
Papa Ken menoleh ke Sandra seakan mengisyaratkan sesuatu, Sandra pun berjalan maju "Ca, bisa ngomong sebentar" Ucap Sandra
....
"Jadi maksudmu, operasi yang di jalani Papa nantinya juga belum tentu berhasil?! Tutur Bianca dengan mata sembabnya
"Ca, ini kanker stadium 3, dan letak kanker ini berada di daerah yang rawan sebab itu Om Ken tidak ingin menandatanganinya, kesalahan sedikit saja bisa berakibat buruk bagi saraf Om Ken, karena tumornya terletak di kepala bagian yang sangat rawan"
"Tapi ada kemungkinankan" Bianca menatap Leo dengan penuh harap
"Ada Ca, tapi kemungkinan nya sangat tipis, jika pun berhasil di umur om Ken sekarang sedikit sulit, bisa juga menyebabkan komplikasi dan bisa mengakibatkan koma berkepanjangan, Kau bisa tanyakan pada Bram" tutur Sandra dan Leo mengangguk kecil
__ADS_1
Bianca memejamkan matanya dan menangis "San, aku tadi... Beberapa jam lalu aku mengatakan bahwa Papaku jahat San, didepannya aku memarahinya seperti anak kecil, aku belum sempat meminta maaf San" isak Bianca
Gery memberikan sapu tangannya kepada Bianca dan mengusap bahunya "Aku akan mencoba sekuat tenaga, dan kau berdoalah agar Om Ken tetap kuat" ujar sandra lalu memberi isyarat kepada asisten perawat nya untuk membawa dokumen agar Bianca bisa menandatanganinya
"Ini, sebaiknya kau menelpon Bram terlebih dulu" Sandra memberikan telponnya pada Bianca yang sudah terhubung kepada Bram
Selesai Bianca mengobrol dengan Bram, telpon itu beralih ke Sandra.
Sandra dan Bram adalah dua dokter yang sangat ahli di bidang mereka.
.
.
.
Sore hari pun tiba, Ruang ICU VIP yang sudah di sediakan untuk Papa Ken di datangi biro pencatatan sipil untuk menikahkan Bianca dan juga Gery
Bianca dengan gaun putih elegannya kini berdiri disisi kiri Gery dan menggandeng Gery yang sudah berstatus kan Sah menjadi suaminya, Finick, Sandra, Nyonya Via dan Ayah Dean menjadi Saksi yang hadir kala itu
Bianca hanya diam saja tanpa ekspresi, Ia melihat dari balik kaca Papanya yang terbaring sedang melihat dirinya
///Code blue, code blue, code blue///
Sandra berlari masuk kedalam melihat Tuan Ken yang menurun drastis, Ia pun sibuk dengan para perawat yang lain menyuntikkan Sesuatu kedalam tubuh Tuan Ken, lalu memberi pompa kejut pada dada Tuan Ken, semua dapat melihat dari balik kaca dan sangat cemas
"Papah..." Suara Bianca lirih, Gery yang berada disisi Bianca kala itu hanya bisa mengelus atau menepuk bahu Bianca
Bianca, Gery, Tuan Dean serta Nyonya Via sudah 2 jam duduk di kursi tunggu, menunggu pintu ruang operasi yang berada di hadapan mereka terbuka
"Tuan Finick......" Bawahan Finick membisikkan sesuatu kepadanya
"Baiklah, kau pergi dulu dan pastikan Ia tidak masuk kesini, aku akan menyusulmu nanti"
"Baik Tuan" ujar bawahan Finick berlalu, Finick berjalan perlahan lalu setengah membungkuk namun tetap dalam jarak yang wajar
__ADS_1
"Nona saya permisi sebentar, ini adalah J & Q... mereka akan berjaga disini, saya tidak akan lama" ujar Finick yang di jawab anggukan oleh Bianca
Setelah beberapa menit, Sandra keluar dari ruangan dan langsung di hampiri oleh semuanya, Operasi yang berjalan dengan baik, hanya tinggal menunggu respon balik dari Tuan Ken