The Chance (Kesempatan)

The Chance (Kesempatan)
Dua dua


__ADS_3

Nina meletakan teh hangat dimeja depan Mama Via sementara Bianca duduk disisi mamanya sambil mengelus pundak mamanya


Bram sudah mengatakan semua yang Ia ingin katakan tentang kondisi Papanya


"Kamu menyerah sama Papa Bram" Mama Via menatap anak tertuanya


"Nggak Mah" lirih Bram "Mama jangan berpikir seperti itu" Bram memegang kedua tangan Mamanya "Mama percaya sama Bram, Bram gak pernah menyerah hanya saja....


"Permisi Tuan-Nyonya" Pak Jang datang bersama seseorang "Pengacara Matias datang" Ujar Pak Jang menghentikan pembicaraan


Ruang Kerja/Belajar


"Pesan" ujar Bianca


"Ya Nona, Tuan Ken pernah datang kepada saya beberapa bulan lalu untuk membuat wasiat begitu juga sebuah pesan video untuk bisa di lihat semuanya" Imbuh Tuan Matias sang pengacara


"Lewatin saja bagian wasiatnya Pak gak penting" Ucap Bram "Pesan video apa yang Pak Matias maksud" Bram penasaran


"Baiklah Tuan, saya akan memutar Video nya" jawab pengacara


(Video di putar)


"Sudah rekam ini" Papa Ken menunjuk ke arah Kamera


"Sudah Pak" jawab yang merekam


"Hem, baiklah" Papa Ken membetulkan posisi duduknya membuat semua yang menonton tersenyum sedih


"Hai Mah, Bram, Nina apa kabar oh iya Caca lupa sebut" canda Papa Ken "Kalau kalian lihat video ini berarti Papa sudah tidak bisa berbicara lagi dengan kalian....


"Papa minta maaf kalau selama ini Papa tidak pernah ada waktu buat kalian, Mamah terimakasih sudah selalu menemani Papa dan setia sama Papa, kamu istri yang hebat, terimakasih ya Mah sudah melahirkan anak-anak yang sehat dan luarbiasa. Sarangeo" kedua tangan Papa Ken membentuk love


"Hikss... Keen..." Mama Viandra menangis dalam dekapan Bram


"Bram..." Papa Ken tersenyum "Terimakasih ya Nak sudah mengajarkan Papa bagaimana menjadi orang tua yang baik, maaf kalau selama ini Papa selalu menuntut kamu menjadi seperti Papa, ikut campur dengan urusan hati dan cinta kamu" Tuan Ken terlihat menahan tangis "Papa bangga sama kamu, semoga kamu bisa menjadi seorang ayah yang lebih dari Papa, jaga Nina baik-baik, sayangi Nina seperti kamu menyayangi Mama dan Adikmu "Papa Ken tersenyum Papa titip Mamah dan Bianca ya Nak" Suara berat Papa Ken menahan tangis

__ADS_1


Bram mengepalkan tangan kanannya sedang kan tangan satunya masih mendekap Mama Via "Bram akan menjaga semuanya Pa" gumam Bram dalam hatinya


"Pak, apa masih mau lanjut" Ujar seseorang di dalam video itu sebab Papa Ken terhenti sejenak


"Ah, iya-iya..."Papa Ken menarik nafasnya


"Ini yang paling berat" Ia tertawa kecil "Caca... Hahaha, kamu pasti lagi kesal ya Papa manggil kamu Caca" Papa Ken tertawa di dalam video


"Papaah....." Bianca nangis dan di peluk oleh Gery


"Ca, Papa tu sayang sekali sama kamu, Kamu itu mengajarkan Papa banyak hal, kamu itu permata hati Papa yang Papa jaga dengan sangat hati-hati" Ada getaran dalam suara Papa Ken "Maafin Papa Ca, maafin Papa karena memaksa kamu menikah dengan Gery, Papa punya keyakinan jika kelak Gery akan menjaga kamu dengan baik, menggantikan Papa" tanpa sadar Papa Ken menitikkan air matanya "Ca Papa selalu di hati Caca, gak pernah pergi kemanapun, denger-denger sama Gery ya Nak" Papa Ken menyeka air matanya "Papa berharap sekali bisa menggandeng tangan kamu untuk mengantarkan kamu ke suamimu di altar, tapi sepertinya Papa belum bisa, Papa Harap di kehidupan selanjutnya Papa bisa menggandeng tangan kamu ke altar ya"



"Papaaaa....." Bianca berlutut sembari memegang layar tv yang berada diruangan tersebut dimana pantulan video itu terputar


"Papa sayang banget sama Kamu Caca... Mah, Bram.. I love you my family"


Akhir dari Video.... Semua yang ada di ruangan pun hanya bisa menangis, terlebih Bianca yang masih berada di lantai di depan TV, Gery hanya bisa duduk disisi Bianca menemaninya hingga Ia dengan puas melepas semua tangisnya


##### Seminggu Kemudian #####


Pemakaman Santerelli Hill


"Tuan silahkan" Gery memapah Mama Viandra untuk menebar bunga di atas makam Suaminya, disusul dengan Bram, Nina, Gery dan Bianca


Prosesi pemakaman pun selesai, beberapa orang pamit, para kolega dan mitra bisnis yang datang tak lupa memberi salam kepada Keluarga


"Turut berempati ya Pak Dean" sapa yang lainnya memberi hormat


"Terimakasih... Terimakasih" balas Ayah Dean


Big House


"Kak, makan dulu ya, aku bawain paela kesukaan Kak Caca" tutur Gina duduk di tepi kasur dimana Bianca sedang duduk

__ADS_1


"Aku gak lapar Na" Bianca menjawab dengan pelan


Gina menghela nafasnya dengan senyuman sembari meletakkan piring disisinya, dan mengusap punggung Bianca


"Aku harus gimana Na" Tangis Bianca kembali pecah dalam pelukan Gina, tanpa sadar Gina pun kembali menitikkan air matanya, Gina memeluk Bianca dengan erat, berharap dengan ini bisa menghibur Bianca


30 menit kemudian...


Gina keluar dari kamar dan terkejut melihat Gery di depannya "Kakak, kau mengagetkan ku" ucapnya


"Bagaimana dengan Bianca" tanya Gery "Dia mau makan"


"Mau kah meski hanya sedikit, setidaknya setengah dari ini cukup" Gina tersenyum, Gery mengusap kepala adiknya


"Thank ya Na, kamu bakalan balik lagi ke Overseas" Gina menggeleng pada Gery


"Gak kak, aku akan melakukan pembelajaran secara online, Ayah udah mengurus semuanya, aku akan disini temani kalian semua" Ucapnya


"Mengganggu maksudnya" Goda Gery dan Gina langsung cemberut "Haha, Kakak pun lebih tenang jika kamu disisi Kakak" Gery tersenyum begitu pun Gina


"Bianca ada di dalam Na" sebuah Suara yang muncul


"Kak Bram, iya Kak Bianca udah tidur tadi setelah makan Kak Bianca meminum obat lalu langsung tidur" Ujar Gina


"Obat?! Serentak Gery dan Bram menatap ke Gina


"I-iya, katanya obat untuk lambungnya" Jawab Gina lagi, raut kedua orang itu pun berubah, dengan lugas keduanya masuk kedalam kamar dan melihat Bianca terbaring di atas kasur


"Bianca.... Biancaaaa" Gery mencoba membangunkan Bianca


"Ger, bawa dia kerumah sakit" Tutur Bram memegang botol obat di lantai


"Apa" Gery terdiam sesaat


"TAKE HER TO THE HOSPITAL, NOOWW" Pekik Bram, Gery menggendong Bianca dan melesat keluar

__ADS_1


"Bram ada apa" Mama Viandra khawatir


"Tenang ya Ma, aku kerumah sakit dulu" Bram berlari menuju mobilnya


__ADS_2