The Chance (Kesempatan)

The Chance (Kesempatan)
Dua puluh


__ADS_3

"Bram" Gery menyapa sahabatnya itu "loh si junior Bram juga ikut" Tutur Gery memainkan tangan kecil Bams ** Hasa


"Sepertinya kau sudah cocok Ger" Bram menepuk bahu Gery


"Benarkah, nanti aku akan buat satu... Iyakan sayang" Gery menoleh pada Bianca yang sedang membawa baki berisi minuman dan hampir membuat Bianca terjatuh jika Nina tidak segera memegang bakinya


"Kamu gak apa-apa" tanya Nina tersenyum


"Hehe Iya" Jawab Bianca lalu menoleh dengan tajam ke Gery dan Bram "Kalau ngomong jangan asal nyabalak, baru juga pdkt udah pengen punya anak, sana toko boneka banyak anak boneka" Bianca mulai mengeluarkan taringnya lagi


Bram dan Gery saling memandang dan bersamaan dalam hati mereka "Tarzan betina bangun" Serentak mereka bertelepati


"Hah, kalian pasti sedang mengumpatku kan" tunjuk Bianca


"Kok tahu sih" Bram mengerut


"Sudah-sudah" Nina menengahi sembari mengambil anaknya dari dekapan Bram membawa ke sofa


"Hai ponakan onty Anca..." Bianca mulai bermain bersama Bams


Gery mengajak Bram untuk ke halaman belakang di gazebo untuk mengobrol santai


(Visual Rumah Utama {sumber google})


Hari pun berlalu begitu cepat tak terasa langit yang cerah telah berubah menjadi gelap dan bintang-bintang mulai memperlihatkan gemerlap kelap kelipnya


"Makasih ya Ca" Nina memberi salam cipika cipiki pada Bianca


"Aku kali yang makasih udah mau datang temenin aku disini" Tutur Bianca lalu menoleh ke Bams yang sudah tertidur pulas di car seat miliknya "Kapan-kapan tidur disini ya, aku pengen bobo sama Bams" Suara manja Bianca membuat seseorang tersenyum gemas mendengarnya


"Makanya cepat punya satu, biar bisa dimainin kayak gini" Ujar Bram yang memegang Car seat Bams tapi malah dapat tepukan sayang dari Nina

__ADS_1


"Kamu ini" Ucap Nina "ya udah kita pamit ya, Kak Gery terimakasih ya" Sapa Nina


"Sama-sama, hati-hati di jalan" balas Gery


Bianca terus melambai tangannya hingga Bram dan Nina masuk kedalam mobil, dan pergi hilang dari pandangannya lalu wajahnya berubah sedih


"Kenapa" Gery memperhatikan


"Sepi lagi deh" sahut Bianca, lalu Gery tersenyum jahil


"Ca" Gery mendekatkan dirinya lalu menunduk sedikit agar bisa membisikan sesuatu pada telinga Bianca "Buat satu yuk" Ucapnya dan seketika itu Bianca refleks mendorong Gery


"Apaan Sih" Bianca merona dan jadi salah tingkah


"Biar rame, gimana Ca" Gery maju satu langkah dan Bianca mundur selangkah, namun karena kaki Bianca tak seimbang Ia pun akan jatuh, beruntung Gery menangkapnya "Kamu tuh kenapa sih gerak gak bisa pelan-pelan" Kesal Gery


"Akh, Ger... Kau mau apa... Hei turunkan aku" Tutur Bianca yang kaget Gery tiba-tiba menggendong nya ala bridal style


"Baiklah sudah sampai, aku matikan lampu dulu" Ucap Gery


"Hah kenapa" Bianca bingung, alisnya mengerut


"Bukannya kita mau buat satu yang kayak Bram dan Nina" Polos Gery dengan raut wajah tanpa ekspresi


"GERY" pekik Bianca namun dengan nada manjanya membuat telinga Gery berdengung gemas mendengarnya, pikirannya membawa Gery jauh "Sudah lah aku mau menelpon Mama, aku rindu" Ujar Bianca mengambil ponselnya


Gery terkekeh kecil sambil menggeleng "Dasar Tarzan wanita" Gery melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ia tak ingin mengganggu Bianca yang hendak berbicara dengan Mamahnya


####


"Apa, melepas selang pembantu nafas dari Papa Ken" Gery berdiri dari kursi menoleh pada Bram yang duduk di pembatas Gazebo "haha kau gila Bram, tanpa itu Papa akan...." Gery terdiam tak meneruskan kata-katanya

__ADS_1


"Aku tahu Ger, hanya saja melihatnya seperti itu membuat aku juga sakit, Papa juga menahan sakit yang luarbiasa meski Ia sedang koma" Tutur Bram dengan pandangan yang jauh


Bram pun menceritakan kondisi Papa Ken saat ini, dan Ia juga sudah memberitahukan pada Papa Ken jauh-jauh hari sebelumnya bahkan Papa Ken pernah meminta Bram dan Sasa untuk tidak membantunya hidup kembali jika ajal datang menjemput nya


"Bagaimana dengan Mama Via Bram" Gery menatap ke arah Bram "lalu Anca"


Bram menghela nafas berat "Aku juga gak tahu Ger, gimana bilangnya ke mereka tentang kondisi Papa" Lirih Bram


"Ger, apa kau bisa mengatakan hal ini dengan hati-hati ke Bianca"


Ucapan Bram dengan nada rendah ini terngiang-ngiang di pikiran Gery


Gery masuk kedalam kamarnya dan melihat Bianca sedang bermain ponselnya, ia menghela nafasnya berusaha memasang wajah biasanya saja


"Udah selesai ya telponannya, Belum tidur, ini sudah jam sebelas malam loh" Ucap Gery


"Aku lagi liat-liat pameran robot nih di Negara J yang aku lewatin" Ucap Bianca "Sekalian cari hadiah untuk Papa" Bianca tersenyum


Gery seakan tercekat sesuatu pada lehernya, Ia berjalan ke sisi tempat tidur satunya dan naik ke kasur sambil melihat ponsel Bianca "Papa minggu depan ulang tahun kan" Bianca mengangguk dengan semangat menjawab Gery


"Aku berharap Papa bisa cepat bangun sebelum ulang tahunnya, atau pas ulang tahunnya juga boleh, Miracle can happend right? Bianca menoleh ke Gery dengan tatapan penuh harap Gery dapat melihat itu di mata Bianca


"Iya sayang" Gery mengelus kepala Bianca "Bram bagaimana caranya aku bisa mengatakan pada Bianca" Gumam Gery dalam hatinya


"Aku sangat menyesal ketika mengatakan hal buruk pada Papa" lirih Bianca "Papa begitu gara-gara aku kan" air mata Bianca tak sengaja terjatuh Ia dengan cepat menyekanya


Bianca adalah anak kesayangan Papa Ken, Apa saja yang Ia mau selalu dituruti Papa Ken, Bianca juga suka dengan teknologi sama seperti Papanya berbanding terbalik dengan Bram yang ingin menjadi dokter. Bianca juga sangat dekat dengan Papanya.


Bisa terlihat bagaimana manjanya Bianca dan juga perlawanannya yang berani terhadap papanya, namun begitu Bianca sangat mencintai cinta pertama, Pria pertama dalam hidupnya itu.


"Ca, ada hal yang mau aku omongin" Gery menatap Bianca yang menoleh padanya

__ADS_1


"Apa" Bianca memperbaiki posisi duduknya yang tadi setengah berbaring


__ADS_2