
"Tadi aku mengobrol dengan Bram tentang Papa" Gery berbicara dengan sangat hati-hati
"Lalu, Bram bilang apa"
"Kemungkinan Papa bertahan sangat tipis, sepertinya Bram akan mencabut alat yang membantu Papa untuk bertahan" Gery berhenti sejenak untuk melihat reaksi Bianca yang masih tetap diam tak bergeming "Kondisi Papa saat ini hanya bertahan karena alat bantu tersebut, Papa Ken juga belakangan ini sering serangan jantung dan semua obat yang di masukan ke dalam tubuhnya di tolak oleh tubuhnya sendiri"
"Jadi maksud kamu, Bram mau biarin Papa mati aja gitu" potong Bianca dengan raut wajah yang berubah
"Bukan gitu Ca, maksud Bram...
"Aku mau pulang menemui Kak Bram" Bianca turun dari kasur menuju wardrobe nya disusul oleh Gery
"Ca tunggu Ca" Gery menarik tangan Bianca
"Apalagi sih" Bianca marah "Kamu setuju aja gitu Bram mau melepas alat-alat itu, gimana kalau Papa masih ingin bangun" suara Bianca terdengar getir "Gimana... Gimana kalau Papa, kalau Papa ingin sadar" Bianca terbata-bata "Papa masih belum dengar permintaan maaf aku" tangis Bianca pecah, Gery pun memeluk Bianca degan erat
####
Big House
Jam menunjukan pukul 1 pagi dini hari, Bram masih terjaga di kamar Papa Ken karena baru saja Papa Ken mengalami serangan jantung kembali
"Sayang, minum dulu" Nina memberikan minuman kepada Bram, Ia selalu setia menemani Bram dan juga ikut menjaga Papa mertuanya dan tentunya suaminya juga, Nina tak ingin sampai Bram jatuh sakit
"Bams dimana" tanya Bram
"Anak kita udah tidur di kamarnya sama Nanny" Nina bersandar dalam dekapan suaminya
"Kamu juga istirahat sayang" Bram mencium pucuk kepala Nina, Nina menggelengkan kepalanya "Aku mau disini aja sama kamu, jagain Papa" Ucap Nina
(bunyi Pintu)
"Ya Pak Jang" Bram dan Nina menoleh ke Pak Jang yang membuka pintu
"Di luar ada Non Anca dan Tuan Gery, Tuan" jawab Pak Jang
__ADS_1
"Ngapain mereka berdua jam segini" Bram berdiri lalu menoleh ke suster penjaga memberi isyarat untuk menjaga Papanya, lalu Ia dan Nina pergi keluar menemui Bianca
"Anca, ngapain kalian malam-malam begini" Belum selesai Bram berbicara, Bianca sudah mendorong Bram hingga mundur beberapa langkah
"Ca..." Gery menahan Bianca, sedangkan Nina bergegas menghampiri Bram
"Jahat tahu gak Bram" Bianca dengan mata merah dan sembab "Tega banget sih" lirih Bianca namun masih dengan nada yang marah
"Ca, dengerin Kakak dulu" Bram berusaha membujuk adiknya
"Nggak, aku gak mau dengar, Aku gak nyangka Kakak setega itu, Kak Bram jahat" Isaknya dengan emosi
"Tega" Bram menatap dengan penuh tanya pada Bianca "Kamu bilang Kakak Tega" Bram mendengkus kecil "Kau pikir kakak mau kehilangan Papa, Kau pikir Kakak bener-bener tega melepas alat yang selama ini membantu Papa untuk bertahan" Bram menatap Bianca dengan mata berkaca-kaca "Apa kamu pikir Kakak benar-benar setega itu, HAH" Bram menaikan nadanya
"Bram" Nina menahan suaranya
"He's dying Ca" Suara Bram kini makin naik Nina mengusap pundak Bram "kita malah buat Papa semakin merasa sakit jika terus memaksakan seperti itu" Bram menekan nadanya
"Aku minta waktu, Papa pasti akan bangun" Tutur Bianca
"Baru dua bulan Kak" Bianca maju tertatih memukul dada Bram "Papa baru dua bulan... Aku mohon tunggulah hingga ulang tahun Papa" isak Bianca sembari tangannya menggenggam erat baju Bram perlahan Ia berlutut "Caca mohon Kak" Bianca sembari terisak, sudah lama nama Caca tidak disebut, Nama Caca hanya disebut oleh Papa Ken kala Bianca masih kecil hingga Ia SD setelah itu Bianca menangis tidak ingin dipanggil Caca karena sering di ejek beberapa teman kelasnya
Bram pun ikut berlutut memeluk Bianca dengan erat "Kamu harus kuat Ca" ucapnya juga terbata
"Caca belum minta maaf sama Papa Kak, Caca juga belum bilang ke Papa kalau pernikahan Caca sekarang sudah membaik" Bianca kembali menangis "Caca... Caca mau bilang kalau Caca senang menjadi anaknya Papa" Bianca kembali menangis sesunggukan dalam pelukan Bram
Nina pun ikut menangis melihat Bianca, Ia dapat mengerti perasaan Bianca sebab Ia sudah lebih dulu kehilangan seorang Ayah, tepat ketika Ia lulus dari sekolah menengah
Gery yang sangat tak tega melihat Bianca menangis membuat hatinya pun ikut teriris, namun Ia tidak bisa berbuat banyak, dalam hal ini Bram paling tau mana yang terbaik untuk Papa Ken dan lagi Bram adalah anak tertua keluarga Hasa.
####
Pagi hari datang, matahari menyinari Big House dengan sangat cerah, Nina terlihat sibuk di dapur menyiapkan sarapan, Nina telah selesai mengurus Bams meski ada suster Nanny yang menjaga Bams Nina tetap ingin turun campur tangan dalam mengurus Bams **
"Sus, titip Bams ya saya mau antar sarapan dulu ke Mamah" seru Nina
__ADS_1
"Baik Nyonya"
Nina membawa troly berisi makanan kekamar Mama Viandra, pagi ini Mama Via merasa pusing dan tidak enak badan, Bram sudah mengecek Mama yang hanya stress karena memikirkan Papa yang masih belum sadar, sehingga Bram menyuruh Mamanya untuk beristirahat saja dikamar
"Mah, sarapan dulu ya" Ujar Nina
"Mama gak mau Nin"
"Jangan gitu dong Mah, Mama harus makan biar ada tenaga yah" Nina mengambil piringnya dan duduk di tepi ranjang "Nina suapin ya, biar kayak Bams" canda Nina dan berhasil membuat Mama Via tertawa kecil lalu akhirnya makan
Meja makan
"Silahkan Tuan" Pak Jang mempersilahkan Gery duduk
"Terimakasih Pak Jang"
"Gimana Anca Ger" tanya Bram yang sedang sarapan
"Masih tidur Bram, dia nangis sampai tertidur"
"Oh, baguslah biarin dia istirahat dulu" Ucap Bram yang di balas anggukan oleh Gery
Baru saja mereka hendak menikmati sarapan mereka, alarm dari kamar Papa Ken berbunyi, Bram dan Gery dengan cepat berlari menuju Kamar Papa Ken
"Dokter, serangan jantung lagi" Ucap Suster, Bram meminta alat kejutnya lalu mulai memompa jantung papanya
Bianca, Mama Viandra juga Nina tiba di depan pintu melihat semua yang terjadi di ruangan tersebut
"Detak nya kembali Dokter" Suster jaga merasa lega begitu juga ke empat orang yang berada di pintu
"Terimakasih Sus" Bram memberikan alatnya kembali ke suster dan tertegun sesaat melihat Mamanya dan Bianca kemudian Ia kembali tersenyum "Serangan jantung biasa kok mah" Ucap Bram menghampiri Mamanya
Nyonya Viandra menatap Bram dengan mata yang berkaca-kaca "Mah kenapa" tanya Bram bingung
"Apa kamu masih akan bohong sama mama tentang keadaan Papa" Ucap Mama Viandra menahan tangisnya
__ADS_1