
"BIANCAAAA" Gery berteriak dengan geram lalu mencengkeram baju mandi yang di pakai Bianca, dan
Plak.. Gery menampar Bianca dengan penuh emosi
Bianca yang terkejut dengan perlakuan Gery terdiam mematung dengan denyutan di pipinya yang seketika terasa panas
Pak Li yang mendengar teriakan Gery pun bergegas keatas dan terkejut melihat apa yang sedang terjadi
"Nyonya" Pak Li melihat handuk yang di pakai oleh Bianca lalu melihat ke meja dan mengerti
"Maafkan saya Tuan, saya teledor" Pak Li pun bergegas mengambil handuk yang baru dan memberikannya kepada pelayan perempuan agar memberikannya kepada Bianca
Bianca berjalan menuju lemarinya dan mengambil sesuatu bergegas masuk kedalam closet yang tertutup dan secepat kilat keluar dari sana dan berhenti di depan Pak Li "Bisakah kau membantu aku mencucinya Pak Li" Bianca menyerahkan baju handuk itu kepada Pak Li
"Nyonya anda mau kemana" tanya Pak Li
"Sejak awal tempatku bukan disini Pak Li, karena aku memang gak akan pernah punya tempat disini dari dulu hingga hari ini" Ucap Bianca
"Pak Li, aku minta tolong padamu untuk mengemas barang-barang ku, Jordy akan mengambilnya nanti" Ucap Bianca yang datar dan rendah, seakan menahan sakit luka yang bertubi-tubi, luka lama yang kembali terbuka
Bianca pun pergi
"Tuan Muda..." Pak Li mencoba untuk menahan Bianca
"Biarkan saja dia pergi Pak Li, apa yang di ucapkan nya memang benar dan sepertinya dia juga sudah sadar, jika tempatnya memang bukan disini"
(FB Off)
Selesai bbq Bianca menolong Mamanya membersihkan peralatan dapur, meski ada pembantu Nyonya Via suka melakukan semua pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri
"Anca, apa kau dan Gery sedang berselisih" tanya Nyonya Via
"Nggak Mah, kenapa mama berpikir seperti itu" Seru Bianca memberi peralatan sendok pada pelayan disisinya
"Tidak, mamah hanya bertanya saja, mungkin perasaan mama saja" Senyum Nyonya Via, sepertinya pengalaman membuat Nyonya Via lebih peka.
Bianca hanya tersenyum canggung lalu memperhatikan Mamahnya yang pergi untuk memeriksa peralatan yang masih berada di taman
"Bi, tolong buatin kopi ya" Ujar Bram yang tiba-tiba muncul di dapur
__ADS_1
"Bram, apaan sih" Bianca mengerut
"Kau sekarang seorang istri, wajar dong buatin kopi untuk suami" Bram menggoda, namun Bianca hanya diam saja "Hei, sebaiknya kau cepat berbaikan dengan Bram jika Mama tahu kau tidur di hotel maka Ia akan sangat sedih" Tutur Bram
Bianca berbalik menoleh ke Bram "Kak Bram tahu" Anca terkejut
"Kau pikir Ayah Dean akan membiarkan kalian seperi ini terus" Bram tersenyum lalu pergi namun di tengah-tegah Ia terhenti "Anca, bagaimana jika kau mengadakan kesepakatan dengan Gery tentang pernikahan kalian" Usul Bram lalu pergi
"Kesepakatan" Bianca terlihat berpikir sejenak sambil menyandarkan badannya pada salah satu kitchen set di pantry
"Nona awas...." Salah satu pelayan berteriak , namun karena kejadiannya sangat cepat, sebuah peralatan dari kaca berat jatuh dengan keras tepat mengenai bahu kanan Bianca sehingga membuat Bianca meringis kesakitan dan terdapat pecahan yang mengenai pinggiran kaki Bianca
......
Ruang belajar
"Akh... Sakit Kak Bram" Bianca melotot kepada Bram
"Bukan luka namanya kalo gak sakit" tutur Bram menyuntikkan Sesuatu ke kaki Bianca, ternyata pecahan tadi membuat sedikit robekan pada kaki Bianca yang mendapat tiga jahitan dan bahunya yang terkilir akibat jatuhnya benda berat, Bram pun terpaksa harus membalut dan memberi gips pada adiknya tersebut
"Udah, jangan kena air dulu tiga hari" Ucap Bram
"Trus mandi gimana" Bianca dengan nada manjanya pada Bram
"Sakit Nak" tanya Mama Via
"Banget mah" lirih Bianca, Gery hanya bisa menelan salivanya dan menghela nafas melihat Bianca terluka
Ruang tamu
"Kamu masih mau nginap di hotel dengan keadaan begitu" Sebuah suara menyadarkan Bianca dan menoleh kesisi lainnya, Hanya ada Dirinya dan Gery di ruang tamu
"Emang kenapa, toh ada pelayan hotel yang bisa bantu kok" Ketus Bianca, Gery hanya mendesah lalu duduk di sisi Bianca dan memegang telinga kananya
"Aku minta maaf" Ucap Gery tulus "Maafkan aku sudah menggunakan tanganku padamu". Gery menunjukan tangan yang di balut perban pada Bianca tanpa sadar keduanya saling menatap selama beberapa detik, Bianca dengan sadar langsung membuang pandangannya
"Aku yang salah, memakai barang yang seharusnya bukan milikku" Tutur Bianca "Aku juga minta maaf" Bianca memegang kupingnya juga.
Hal yang biasa ketika mereka melakukan kesalahan dan meminta maaf ketika mereka kecil
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 8 malam, Bianca dan Gery bersiap-siap akan pulang. Sebenarnya Mama Viandra meminta mereka untuk menginap bahkan Gery pun setuju, namun Bianca tidak bisa sebab besok pagi Ia harus menghadiri rapat dan juga pekerjaannya belum selesai sebab Lusa akan melakukan persentasi di perusahaan Gery, Mama Via yang paham anaknya tersebut adalah workholic, akhirnya mengalah
"Ger, titip Anca ya... Perhatiin makannya dan juga itu lukanya" Tutur Mama Via
"Iya Mah, tenang aja Gery akan jaga sebaik-baiknya bagai emas permata" Kelakarnya yang disambut tawa kecil semua, dan mereka pun pamit. Bianca memutuskan untuk kembali kerumah utama bersama Gery
Perjalanan menuju rumah utama memang memakan waktu sehingga mereka tiba disana pukul 11 malam, Gery yang melihat Bianca tertidur di sampingnya merasa enggan membangunkannya Gery juga merasa ini akibat obat pereda nyeri yang di berikan oleh Bram
"Tuan, apa mau saya nyalakan terus mesinnya" tanya Supir
"Biarkan sepuluh menit lagi Pak" Gery tak bergerak sebab bahunya di pakai Anca untuk merebahkan kepalanya
Sepuluh menit berlalu bahkan sudah dua puluh lima menit berlalu, Bianca belum juga bangun Gery akhirnya memutuskan untuk membangunkan Bianca namun rasanya Ia tidak tega, Gery pun memberanikan diri untuk menggendong Bianca dan membawanya kekamar
(Klik)
(Picture Send)
Pak Li tersenyum setelah berhasil mengirim gambar Gery yang menggendong Bianca ala bridal style kepada Ayah Dean "Semoga ini awal yang baik" Ujar Pak Li
.
.
.
"Astaga jam berapa ini" Bianca tiba-tiba saja bangun "awww" rintihnya
"Apa kau baik-baik saja" tanya Gery yang sama terkejutnya masih dengan memejamkan matanya namun mencoba untuk bangun sambil menguap
"Aku terlambat Ger" Bianca terlihat panik dan hendak turun dari kasur namun tangannya di tarik oleh Gery "Ger...." Raut wajah Bianca tak santai
"Huaa..hini harji mbingguam" Gery berbicara sambil menguap
"Hah, apa" Bianca tak mendengar dengan jelas
"Ini hari minggu Ca" Gery kembali melempar dirinya ke bantal sedangkan Bianca terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu, Ia baru sadar kenapa Bram dan kakak iparnya tertawa ketika Ia katakan tak bisa menginap, dan Bram meledeknya bersama Gery kemarin sore "akh damn it" Bianca mengusap wajahnya lalu menoleh ke Gery dan menepuk lengan Gery
"kenapa Kau tidak mengatakannya"
__ADS_1
"Aku hendak mengatakan padamu, namun kau dengan buru-buru memotongnya" Gery masih menutup kedua matanya
Bianca pun mendesah dengan kesal lalu kembali membaringkan kepalanya kembali ke bantal, dan kedua manusia itu pun tidur kembali