
Bianca menghela nafas dengan berat, sesekali Ia menggerakkan bahu kirinya yang masih terasa ngilu, gipsnya sudah di lepas dan juga kaki Bianca sudah baikan namun bahunya terkadang suka datang nyerinya. Bianca pun keluar dari toilet dan terkejut ketika seseorang menarik tangannya
"Gery"
"Ikut aku" Gery menarik tangan Bianca dan mereka masuk kedalam salah satu kamar hotel
"Apaan sih Ger" Bianca memasang wajah harimaunya
"Hem tarzannya keluar kan" rutuk Gery pada dirinya "Kau menghindariku beberapa hari ini" Ujar Gery menunjuk Bianca
"Menghindari" Bianca tertawa mengejek "Helo Tuan Narsis jangan sok kepedean, ngapain juga aku ngindari kamu" Bianca mengdengkus sembari melipat kedua tangannya ke dalam
"Benarkah" Gery maju melangkah mendekati Bianca
"Kau mau apa"
"Kau masih menyukaiaku kan" Gery melangkah maju hingga Bianca terpojok dan tak bisa lari lagi, Gery pun semakin membawa dirinya dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka, Gery pun bisa mendengar deru nafas Bianca begitu juga Bianca
Keheningan terjadi antara keduanya
"Ca, gak mau coba selama sebulan dulu" Gery berbicara dengan nada yang pelan dan berat "Aku mau coba buka hati aku" ucapan Gery membuat raut wajah Bianca berubah, Ia melihat dalam-dalam mata Gery
Tidak dapat di pungkiri jika selama ini Bianca memang tidak bisa melupakan Gery, cinta pertamanya yang selalu membekas dalam hatinya, tapi Ia juga tahu jika Dirinya tidak pernah berada dalam hati Gery, Bianca bukan tidak tahu kabar Gery selama tujuh tahun ini, pasalnya Bram selalu bercerita tentang Gery bak memberikan informasi gratis pada Bianca selama 7 tahun ini
Bianca tahu jika Gery pernah membuka hatinya dan menjalin kasih dengan wanita lain selain Anaya, Bianca mengira jika Gery sudah bisa move on akan tetapi perlakuan Gery pada malam saat Bianca memakai handuk dan juga merusak lukisan Anaya, Bianca tahu bahwa Anaya tidak pernah terlengserkan dari hati Gery
"Jangan memaksa Ger" Lirih Bianca, seakan suaranya tercekat oleh sesuatu
"Aku gak maksa Ca, aku memang mau coba untuk membuka di....." Gery terdiam mematung saat benda kenyal milik Bianca menyentuh bibirnya, Ia dengan cepat mendorong Bianca lalu melihat Bianca degan tatapan terkejut
Bianca tertawa sarkartis "Lihat, bahkan untuk berciuman saja kau tidak bisa, dimatamu aku adalah adik dari Bram, dan juga kau hanya menganggapku sebagai adikmu bukan"
__ADS_1
Segala kejadian di masa lalu seakan membanjiri isi kepala keduanya, kesalahpahaman yang membuat mereka berdua bersitegang, pandangan Bianca seakan membuyar membawanya kembali pada masa SMA dimana Ia adalah junior dan Gery adalah seniornya
Disaat Bianca menyatakan cintanya dan tiba-tiba mencium Gery dan membuat Gery marah pada Bianca, lalu mengatakan jika Ia tidak pernah melihat Bianca sebagai wanita yang harus dicintai sebagai lawan jenis melainkan disayangi sebagai adik dari sahabatnya Bram. Gery juga mengatakan jika Ia sudah menambatkan hatinya pada Anaya. Seharusnya Bianca tahu itu, namun saat itu Gery putus sama Anaya dan Bianca berpikir untuk menghibur Gery dengan cara menyatakan cintanya dan mencium Gery.
Tak hanya itu bahkan Bianca rela memberikan dirinya pada Gery, Gery yang terkejut malah tambah marah lalu memilih menjauhi Bianca, dan setelah itu tersebar kabar tak sedap di kelas Bianca tentang Ia yang menembak kakak kelas namun di tolak lalu malah menyerahkan dirinya, hal tersebut membuat Bianca sedih dan memutuskan untuk pindah sekolah. Sejak itu Ia benci pada Gery, Bianca berpikir jika Gery yang membuat berita tentang dirinya agar menjauh dari Gery.
"Sepertinya tidak perlu menunggu sebulan, aku akan meminta Kak Bram untuk mempercepat proses perceraian nya, dan aku juga akan bicarakan sendiri ke Ayah Dean masalah ini" Tutur Bianca lalu pergi meninggalkan Gery yang masih diam mematung
.
.
.
Hari sudah sangat larut Gery tiba di rumah pukul 12 malam, Pak Li menyambut Gery lalu membuatkan minuman hangat untuk Gery yang terlihat sangat lelah, akibat Bianca yang pergi lebih dulu Gery terpaksa harus melayani klien yang datang bersama dengan Angus dan juga Jordy pihak dari Bianca
"Bianca dimana Pak Li" Gery menyerahkan gelas kepada Pak Li
"Apa dia sedang menenangkan diri lagi" Gumam Gery dalam hatinya sembari mengambil ponselnya di saku dan menghubungi seseorang "Halo Jay, bagaimana"
"Nyonya berada di sebuah apartemen di tengah kota Tuan, sepertinya Nyonya membeli apartemen itu tadi siang" jawab Jay dari sebrang
"Baiklah, teruskan pekerjaan mu" Gery menutup ponselnya, Jay adalah orang kepercayaan Angus, Ia salah satu anak buah Angus yang sangat Angus percayai dan Gery memberi tugas untuk selalu menjaga Bianca dari kejauhan
Keesokan harinya, Gery bangun dari tidurnya dan bersiap-siap hendak berangkat kerja saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya
"Jay, ada apa dia menelponku" Gery mengerutkan alisnya "Ya Jay" menjawab telponnya
"Tuan, Nyonya kecelakaan di jalan utama"
"Apa, dimana sekarang" Gery mengambil kunci mobil miliknya lalu membuka pintu menuju basement dan masuk kedalam mobilnya
__ADS_1
"Dijalan menuju MC Hospital Tuan"
"Baik, jangan tinggalin istri saya sedetik pun, saya akan segera tiba"
"Baik Tuan" panggilan berakhir
Gery membawa mobilnya pada kecepatan yang tinggi, dalam hatinya Ia terus berdoa supaya Bianca baik-baik saja
######
Selesai bersitegang bersama Gery, Bianca berjalan tertatih menuju lift hotel dan menuju basement tempat mobilnya terparkir, Ia baru ingat jika kunci mobilnya bersama Jordy, Bianca pun memesan taksi online dari aplikasi ponselnya
Selang beberapa jam Ia tiba di Rumah Utama, Bianca terdiam sesaat, Ia bingung harus kemana jika Ia ke Big House pasti mamanya akan bertanya segudang pertanyaan, akhirnya Ia memeriksa salah satu kenalannya dan memintanya untuk membelikan satu apartemen untuk Bianca.
Bianca tak membawa koper karena Ia tahu Pak Li adalah mata-mata Ayah Dean, Ia hanya membawa tas Liornya yang Ia isi beberapa keperluan nya lalu pergi. Ia belum ingin Keluarganya tahu tentang masalah ini baik Pihaknya ataupun Pihak dari Gery
Setibanya di Apartemen, Bianca langsung membaringkan badannya dan tertidur hingga pagi
"Ah kepalaku berat sekali rasanya" tutur Bianca berjalan menuju dapur dan meminum segelas air, Ia menuju pantry dan membuka kulkas -kosong- "Aku belum mengisinya" Bianca berjalan menuju kamar mandi dan bersiap untuk berangkat kerja.
Setibanya Ia di parkiran Bianca diam sejenak, Ia merasa perutnya seakan sedang terjadi perkelahian, Ia pun dengan cepat menyalakan mobilnya yang diantar oleh Jordy tadi malam lalu keluar dari parkiran Apartemen
"Akh, perutku" rintih Bianca, ia tahu jika asam lambungnya telah naik, Ia pun semakin melajukan mobilnya agar bisa tiba di kantor dengan cepat namun tidak Ia sadari, sebuah Bus sekolah dan sebuah Truk pengangkut barang juga sedang berjalan dari arah lainnya, Bianca yang tidak fokus sebab perutnya yang mulai melilit serta pandangannya yang mulai kabur membuat Ia terus menginjak pedal gas dengan kuat dan memegang stir dengan genggaman yang kuat seakan menahan sakitnya, dan saat Ia mulai sadar sebuah klakson berbunyi dari sisi kanannya sebuah Truk pengangkut barang hendak menabraknya, Bianca yang kaget segera membanting stir ke kiri namun tak dapat dielak, Lori tersebut menghantam bagian belakang mobil Bianca hingga mendorongnya ke pembatas jalan yang menghubungkan ke jalur berlawanan dan sebuah bus sekolah yang terkejut mengerem mendadak akan tetapi karena jaraknya yang dekat membuat bus itu menghantam sisi depan mobil Bianca
MC. Hospital
Gery berlari menuju IGD "Bianca.... Bianca" Gery berteriak mencari-cari Bianca lalu berhenti ketika melihat Jay orangnya
"Dimana Bianca Jay"
"Dibawa Tuan Bram ke ruang operasi Tuan" Ujar Jay lalu menunjukan jalannya
__ADS_1