
MC. Group
"Laporan apa ini" Gery melempar penanya di meja melihat tabel yang ada dihadapannya
"Tabel yang kalian tunjukkan kepadaku ini sangat berbeda dengan data yang baru saja masuk ke emailku" Gery memutar laptop nya, semua karyawan bagian keuangan menunduk
"Aku berikan kalian waktu sampai besok siang, dan laporannya harus valid, jika tidak bereskan barang kalian pergi ke HR dan ambil gaji terakhir kalian" Ucap Gery lalu pergi
"Sial...." Gery melonggarkan dasi miliknya ketika Ia tiba di ruangannya
"Tuan baru saja Mr. Fritz mengirim fax kontrak kerja sama yang berada di pulau JJ" Ucap Angus terdiam sejenak
"Bagus..." Gery duduk dikursinya lalu menatap Angus "Apa ada masalah"
"Mr. Fritz akan datang kesini 2 minggu lagi" Seru Angus memberikannya kepada Gery
"Apa ada berita tentang Ayana"
"Kami masih mencarinya Tuan
Gery menghela nafasnya "mencari satu wanita saja tidak bisa" Gery memijit kepalanya yang tidak sakit "Kau boleh kembali Gus"
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi... Oh iya Tuan, ada email dari Tuan besar barusan"
Gery melambai kecil ke arah Angus lalu fokus ke Laptop didepannya
"...." Gery menghela nafasnya dan mengusap kasar wajahnya, bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi
(Natalie)
Gery membuang nafas kasar, raut wajahnya berubah menjadi tambah badmood
"Ciao"
-mi hai già dimenticato?
(Kau sudah lupa padaku) suara wanita yang dingin
"cosa vuoi? (Apa yang kau mau)
-Gery, I'm pregnant
"So what?! you think i gonna believe thats my child, vaffanculo puttana"
Gery mematikan ponselnya dan membantingnya
"Sialan, berani-beraninya dia menelponku" Mood Gery tampaknya sangat buruk hari ini
"Permisi Tuan" Angus mengetuk pintu
"Ada apa"
"Tuan besar barusan mengatakan bahwa malam ini ada makan malam keluarga bersama Walikota Hasa"
__ADS_1
"Baiklah" jawab Gery singkat
Angus sempat melihat ponsel tuannya yang berserakan di lantai "hem, ada apa lagi ya dengan Tuan Gery" batin Angus yang kembali ke kursinya
.
.
.
Malam pun tiba, Gery dan juga Ayahnya telah tiba di Big House
"Selamat malam Pah- Mah" sapa Gery memberi salam
"Malam Gery, ayo masuk..." Ajak Nyonya Via
"Bagaimana kondisimu" tanya Dean
"Aku baik-baik saja, sehat" jawab Ken lalu mereka berdua sama-sama tertawa sambil menuju meja makan dan disana Bianca sudah duduk sambil bermain ponselnya
"Anca, beri salam pada Ayahmu" Ujar Papa Ken, Bianca pun bangun lalu memeluk Ayah Dean lalu menatap sinis pada Gery kemudian duduk di samping Mamanya melanjutkan memainkan ponselnya
Mereka pun mulai menyantap makan malam yang sudah di siapkan, Ada obrolan canda gurau di sana, baik Gery, Nyonya Via dan kedua pria paruh baya itu saling tertawa dan membuka suar, hanya Bianca yang fokus sama makanannya dan bermain ponsel miliknya.
"Gina pun sudah tidak sabar untuk pulang" tutur Ayah Dean
"Hah, aku sangat merindukan Gina" Ucap Nyonya Via
"Yah baguslah sehingga kita bisa kumpul dan tak ada yang terlewat kan nantinya"
"Yah, jadi malam ini bukan hanya makan malam biasa" seru Papa Ken
"Gery, Papa itu sudah menganggap kamu seperti anak Papa sendiri, dan Papa sangat percaya jika kamu itu bisa menjaga Anca dengan sangat baik" Ucap Papa Ken
Bianca yang mendengarnya mendengus kecil, raut wajahnya terlihat sangat tidak suka
"Papa tau ini sangat mendadak buat kalian,
Tapi, Papa dan juga Ayahmu serta Mama sepakat untuk mempercepat pernikahan kalian menjadi minggu ini"
"APA???? Serentak Bianca dan Gery
"Kenapa Pa, kenapa Papa yang harus menentukan pernikahan aku dan Gery, apa karena perusahaan kalian sedang di ambang ke hancuran, atau apa..." Seru Bianca yang spontan berdiri dari duduknya
"Hei Finick" tunjuk Bianca "apa kakakmu tak becus menjalankan MC. Group"
"Anca... Duduk dulu, dengerin Papamu" seru Mama Via
"Nggak Mah, aku gak mau menikah sama Gery... Pah.. papa bisa-bisanya menikahkan aku tanpa bertanya dan memikirkan perasaan ku lebih dulu, Papa pikir menikah itu gampang hanya ucap janji lalu memakai gaun bagus, tersenyum kepada semua orang... Gak Pah" mata Bianca mulai berkaca-kaca, Ia tak bisa lagi menahan perasaannya, Ia pun mengeluarkan semua unek-uneknya
"Ini yang terbaik buat kamu Bianca" Papa Ken pum mulai terpancing emosinya menatap kearah Bianca yang berdiri menatapnya dengan penuh amarah, kesal, sedih juga kecewa kepada Papanya
"Terbaik buat aku? Pah... Ini hidup aku Pah, aku yang jalani, Papah tahu apa yang terbaik untuk aku" lirih Bianca
__ADS_1
"Pokonya ini sudah menjadi keputusan Papa, kamu akan menikah dengan Gery minggu ini titik, tidak ada pembahasan lain"
"Tapi Pa"
"BIANCA PUTRI" suara Papa Ken menggelegar sembari Ia memegang tengkuk belakang lehernya
"Papah udah" nyonya Via terlihat sangat khawatir dengan kondisi kesehatan suaminya
"Papa yakin Gery akan menjaga kamu dengan baik" Ujar Papa Ken
Bianca tertawa sarkartis dan tangan satunya ia sanggah di meja makan lalu melihat ke papanya dan berbicara dengan intonasi yang datar "Apa Papa tau, kenapa alasan aku pindah sekolah, apa Papa tahu bagaimana hubungan aku sama Gery selama ini... Pah aku dan Gery gak saling cinta... Dan Papa menyuruh aku untuk menikah dengan orang yang gak aku cinta, Papa Jahat banget, aku tak ingin menjadi menjadi putrimu lagi" Bianca yang tak tahan pun menaikkan nadanya ketika di akhir dan pergi dari ruang makan meninggalkan semuanya yang disusul oleh Finick
"Maafkan Bianca ya Dean, Gery..." Ucap Tuan Ken
"Sudah lah Ken, biasa itu anak muda... Masih kaget, benarkan Gery" Ayahnya menatap Gery
"Ya kau be...gh..nar" Papa Ken memegang belakang kepalanya sambil menahan sakit
"Ken... Ken...." Nyonya Via spontan berdiri dan memegang suaminya begitu juga Ayah Dean dan Gery
.
.
.
Kolam belakang
"Papa jahat.... Papa gak punya perasaan...." Bianca melempar batu kecil kedalam kolam yang ada di depannya, sedangkan Finick tetap berdiri tidak jauh dari Bianca
"Finick, apa kau punya pacar? Tanya Bianca
"Saya tidak punya Nona" Finick terkejut mendapati pertanyaan dari Bianca
"Bohong, kau kan tampan tidak mungkin tidak punya"
"Benar Nona, saya menghabiskan waktu saya dengan Tuan besar dan juga sekarang harus menjadi penjaga Nona jadi saya kurang ada waktu untuk memikirkan hal tersebut" tutur Finick
Bianca kembali terdiam dan menatap pada air di depannya "Apa kau mau menikahi perempuan yang adalah musuhmu" tanya Bianca lagi
"Maksud Nona?! Tanya Finick dan bersamaan itu ponsel Finick berbunyi
"Maaf Nona, saya jawab telpon dahulu" Ucapnya mengangkat Telponnya
-....-
"Baiklah, kami akan kesana" Finick menutup telponnya
"Nona, maaf kita harus segera pergi"
"Kemana"
"Terjadi sesuatu dengan Tuan besar, dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit"
__ADS_1
Bianca yang terkejut bergegas berdiri dan berlari masuk kedalam Big House, Ia berlari menuju meja makan, dan benar saja tidak ada orang satu pun, Ia pun bergegas mencari Finick yang sudah ada di depan rumah dengan mobil, dengan cepat Bianca masuk kedalam mobil