
Panas terik di Kota A di tengah hari yang sibuk tampaknya tidak mengurangi semangat dan tenaga sekelompok pria yang sedang berada di hutan tak jauh dari Kota itu.
Srakk... Srakkk...... Crrt... Crrtt....
"Cepat tutupi dengan tanah!!" seorang pria dengan luka memanjang di wajahnya,pria yang kerap disapa Jordi itu tengah menyeret sebuah koper hitam besar membawanya ke sebuah lubang besar yang telah digali.
Tampak cairan kemerahan yang mulai menghitam keluar dari dalam koper itu.
" Apa tidak masalah kita kubur disini? Pasti akan ketahuan Jordii!!" Ucap rekannya yang bertubuh gemuk dengan tato ular kobra di sepanjang lengan nya.
"Tidak masalah, bereskan saja dengan cepat Tom, jangan banyak tanya!!" Kesal pria wajah panjang itu, dia menarik koper hitam itu sekuat tenaga.
"Ck... Kenapa juga harus membunuhnya, kita bisa menyiksanya, kenapa dia harus jatuh dan mati dari gedung sialan itu aarhhhh sialan!!!!" Umpat Tom si pria gemuk itu.
" Lebih baik dia mati Tom dia hanya sampah tak penting, bukan masalah kalau hama seperti dia hilang dari muka bumi ini, jadi jangan banyak bicara dan cepatlah, cuaca sangat panas!!!" kesal Jordi.
"Hei apa kalian berdua akan terus berdebat disana? Cepat selesaikan, tak akan ada yang tau tentang masalah ini!!!" teriak seseorang.
"seperti kalian tak pernah membunuh orang saja, jangan buat aku marah anj**g!!" Umpat pria dengan rambut seperti tirai dibelah dua, rambut pirang dan wajah sangat sangat kontras dengan pakaian mahasiswa yang dia kenakan.
"Ba..baik Bos Vernon!" Seketika kedua orang itu gugup.
"Yaaakk kalian cepat bantu dua tikus ini, pekerjaannya tak ada yang beres!!!" Teriak pria bernama Vernon itu, dia adalah pimpinan kelompok itu.
"Baik bos!" Seru mereka.
Seorang pria yang lain datang menghampiri Vernon dengan sarung tangan karet dan sepatu boot di kakinya, dia adalah pria dengan penampilan paling rapi dan bersih.
Rambutnya diberi Pomade dan disisir ke belakang, kulitnya putih bersih kemerahan seperti anak bayi dan tentu saja dia sangat harum.
"Vernon tidak bisakah kita percepat? Ini sangat kotor dan menjijikkan, kenapa juga kau bawa aku kesini!" Gerutu pria itu, dia melangkah dengan mengangkang seolah sedang menginjak kotoran.
Dia adalah seorang pria tukang jijik, pembersih dan tentunya membenci segala hal yang berbau tanah dan debu, baginya itu sangat mengganggu.
__ADS_1
"Tenang lah Yosi, kau seperti banci!" Ketus Vernon.
"Ck.. terserah, tapi akan aman bukan kalau mengubur si berengsek itu disini? " Tanya Yosi pria yang terkadang terlihat gemulai seperti seorang perempuan.
"Kau yang menyarankan ke tempat ini goblok, apa kau pikir aku tidak kehabisan waktu mengikuti petunjuk mu!!" Ucap Vernon sambil berdiri.
"Ehh ma..maaf, tak perlu marah seperti itu, kau tak bisa diajak bercanda!!" ketus Yosi.
"Jangan bermain main padaku, sudah berapa kali kuperingatkan dirimu Yosi!!" Vernon mencekik leher Yosi, tampak raut wajah pria itu benar benar marah saat ini.
Lengan kekarnya mencekik leher pria gemulai itu dengan sangat kuat membuat Yosi kehabisan nafasnya bahkan wajahnya sampai memerah dan pembuluh darahnya menegang.
"Uhukk... uhukk... le..lepaskan aku uhukk.." Yosi memukul lengan pria itu karena lehernya dicekik sangat kuat.
"Vernon kau bisa membunuhnya jika seperti itu!!"Suara bariton seorang pria yang setara dengan Vernon terdengar, pria dengan tato ular bermahkota di lengan kirinya berjalan mendekati Vernon dan menarik tangan pria itu.
"Dia mengesalkan, dia mempermainkan aku seperti orang bodoh Haruto!" Teriak Vernon sambil melepaskan genggamannya dari leher Yosi.
"Arhhhh.... Haaahh... Haahh... Uhukk... Uhukk..."
Yosi menarik nafas dalam dalam setelah Vernon melepaskan tangannya dari lehernya. Hampir saja dia mati karena kehabisan nafas.
“uhuk... uhukk... kau sangat kasar Vernon, aku tidak akan mau membantu jika kau memintaku lagi, ini yang terakhir sialan!!” ketus pria gemulai itu sambil bangkit berdiri lalu pergi dari sana dengan wajah benar benar marah, dia mengusap lehernya yang memerah dan pergi dari sana meninggalkan mereka semua.
"Sangat kotor menjijikkan, aku harus mandi air steril sampai tujuh kali arrhhh sialan kau Vernon!!!" pekik Yosi.
"Kau membuatnya kesulitan Vernon, dia sudah banyak membantu kita!" ucap Haruto sambil menatap Yosi.
"Dia mengesalkan bos!" ketus Vernon.
"Jangan terlalu kaku, kau bisa disebut orang bodoh!" bisik Haruto yang membuat Vernon langsung terdiam.
Koper hitam itu terbuka sedikit di bagian bawahnya, tangan seseorang tampak keluar dengan berlumuran darah, bergerak dengan sangat lemah seolah meminta pertolongan.
__ADS_1
"Kenapa ini keluar!!"
“Cepat kalian bereskan dan hapus semua bukti, jangan ada yang tersisa, bunuh semua saksi termasuk gadis sialan pembuat onar itu, dia juga akan mati dengan cara yang sama...” ucap Haruto bos besar komplotan preman berkedok mahasiswa itu.
“Baik Bos besar!" ucap mereka semua serentak.
Koper itu dimasukkan ke dalam lubang yang sudah digali, cukup besar dan dalam, mereka menimbunnya di dalam sana. Semua orang itu melakukan pekerjaannya, menimbun dan menimbun, namun tiba tiba cuaca menjadi buruk, hujan, kilat dan petir saling menyahut satu sama lain membuat mereka semua segera menghentikan pekerjaan mereka.
“Hentikan semuanya, ayo kita pergi dari sini, lagipula semua bukti sudah hangus, dia hanya akan diidentifikasi sebagai korban pembunuhan ,” teriak vernon.
Komplotan mereka pergi dari sana.
Hujan sangat deras mengguyur hutan itu, padahal cuaca beberapa menit lalu sangat cerah namun angin kencang dan hujan tak terelakkan.
Di dalam lubang besar itu, tubuh seorang pria yang memakai seragam universitas yang sama dengan yang dipakai Haruto dan komplotannya terkulai lemah dengan posisi dihimpit di dalam koper. Seorang mahasiswa pria dengan name tag ‘James L. Kiel ‘ mulai merasakan akhirat di dalam koper itu.
POV James
“Apakah ini akhir bagiku? Kesialan yang kuterima hanya karena aku seorang anak yang hidup tanpa didikan ayah? Dan ibuku yang malang akan kehilangan nyawanya karena melihatku mati dengan sia sia? Semua cita cita yang ingin kucapai hancur begitu saja? Apakah akhirku menjadi pecundang seperti ini?”
Aku mendengar jelas semua yang mereka katakan, sebelum aku jatuh dari gedung itu, mereka mengatakan akan melukai ibuku jika aku tidak mati, mereka akan melukai adik perempuanku yang malang, apa yang telah kuperbuat sampai aku menerima semua kekejian ini?
Sesak.... rasanya sangat sesak, nafasku mulai pendek, kepalaku sakit, tubuhku seperti dihimpit oleh beban berat, semua ucapan mereka terngiang jelas di kepalaku, bahkan saat aku terjatuh mereka menertawakan aku dan menyebutku pecundang hanya karena membawa bekal buatan ibuku tercinta ke sekolah.
Hari itu... cuaca sangat terik, panasnya menyengat tubuhku, aku berdiri di pinggir pembatas gedung itu, mereka semua menatapku dan memintaku mati, tapi ibuku... adikku... kalau aku mati siapa yang akan melindungi mereka? Kalau aku mati...ibuku akan dihina oleh keluarga mendiang ayahku, adikku... aku takut dia dilecehkan ... bagaimana ini? Aku... aku belum siap untuk ini semua.
Ibu.... Nini tolong aku... tolong aku... aku masih ingin hidup... aku... aku harus hidup dan melindungi kalian...ibu... aku merindukan nasi dengan garam yang selalu kita makan tiap malam... tolong aku hiks hiks hiks... Nini kakak merindukan ocehanmu dik, tolong kakak.....
Suaraku tercekat, semuanya gelap, tubuhku basah, tampaknya air sudah menggenang di dalam lubang kuburku, akankah aku mati konyol seperti ini?
Siapa pun tolong kembalikan aku, Tuhan, Buddha, Dewa Dewa, siapapun bantu aku.... aku harus membalas semua perbuatan mereka, adikku dan Ibuku tidak boleh ditindas... arrhhh seandainya aku bisa mengulang waktu, aku... aku pasti membalas mereka, bagaimana ini?
Apa salahku jika aku ingin hidup yang lebih baik, apa salahku jika aku berteman dengan semua orang, apa salah jika aku membantu banyak orang, kenapa mereka terusik dengan itu, aku... aku tidak bisa mati konyol seperti ini TOLONG AKU, AKU INGIN HIDUP!!!
__ADS_1