
Nini ditarik ke taman kosong yang gelap di sekitar bangunan di komplek perumahan dimana dia dan keluarganya dulu tinggal.
Gadis itu terlihat lemah, wajah nya lebam dan bengkak akibat pukulan bekali kali dari pria yang menyeretnya kesana.
Tangan gadis itu menarik kerah baju pria dengan tato kunci di lengannya.
"Le..lepaskan aku .. akhh... ku..mohon..." gadis itu memohon sambil menangis dan menahan rasa sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.
Pria dengan tato kunci dan jari yang dibalut dengan plester itu mencengkram leher Nini. Tubuh Nini sendiri di tahan oleh dua orang pria lainnya.
"Lepaskan!? memohonlah!" ucap pria itu sambil menatap tajam wajah Nini seolah dia hendak melahap gadis itu saat ini juga. Dia mencekik leher Nini sampai gadis itu susah bernafas.
"heeeekkk... uhuk...uhuk... akhh... akhhh... leepasshh....akhh...." nafas Nini tercekat. Dia sampai tersengal sengal berusaha mencari pasokan oksigen untuk dia hirup namun rasanya sangat susah.
"Mati kau seperti kakakmu itu!!!!!!" Ucapnya sambil mencekik leher Nini sekuat tenaga. Wajah Nini memerah bahkan sudah mulai membiru keunguan saat pasokan udara nya semakin menipis..
"ekkhh... hiiikk... .akhhh... akkhhh.. " Nini tersengal sengal, nafasnya tinggal sedikit.
Air mata gadis itu mengalir begitu deras. Entah kemana dia akan mencari pertolongan. Apakah ini akan menjadi akhir bagi kehidupan dan masa mudanya ?
Nini terus menatap pria bertopeng itu dengan mata membulat sempurna, rasanya sangat sesak, belum.lagi cengkraman dua orang pria di dekatnya yang baunya tercium seperti bau bunga. Namun hanya salah satu dari mereka yang memiliki aroma bunga itu, aroma Kamboja yang sangat menyengat.
"Ini... aroma... Ini... pria gemulai itu!!!??" Nini hapal dengan bau bau itu. Bau khas dari pria lemah gemulai yang paling jijik dengan sesuatu yang kotor. Yosi, si pria gemulai yang memiliki segalanya, pria yang terlihat seperti seorang perempuan karena caranya berbicara dan bertingkah laku.
"tolong aku kak... kak James hiks hiks hiks... kak James...." Nini menangis dalam ketakutan. Tangan pria itu semakin mencengkram leher bahkan sampai membuat bekas kebiruan di leher gadis itu.
Nini menangis menyerahkan nyawanya pada sang takdir.
Tiba tiba...
Duar... Duarrr....
Dua tembakan dilepaskan ke arah dua pria yang mencengkram kedua tangan Elleara.
__ADS_1
"Akhhh siapa itu!!!!" teriak pria bertopeng yang memegang Elleara di sisi kiri, lengannya tertembak sehingga dia melepaskan cengkeramannya dari Elleara. Sedang yang satu lagi ambruk di atas tanah dengan kakinya yang terkena serangan.
Pria tato kunci itu terkejut saat mendengar suara tembakan dari tempat yang tidak dia ketahui. dia melepaskan tangannya dari leher Nini sehingga gadis itu merosot dan ambruk ke atas tanah .
Nini menarik nafas dalam dalam, mengisi oksigen ke dalam tubuhnya. Wajahnya yang tadinya mulai berwarna ungu kembali menjadi kemerahan pertanda darah dan oksigen mengalir dengan lancar.
"Uhuk... uhuk...uhuk akhhh....." Nini terbatuk batuk sambil.meneouk nepuk dadanya karena rasa sesak yang melandanya.
Pria tato kunci itu terkejut bukan main,dia menatap dua rekannya, segera dia menarik kedua orang itu dari sana dengan panik.
"Cepat lari, kita ketahuan!" ucap pria itu sambil menyeret paksa kedua orang itu dari sana. Tanpa sadar dia menjauhkan sebua botol berisi cairan berwarna putih dengan lambang bunga Kamboja.
Nini diam diam mengambil benda itu sambil mengisi nafasnya.
"Hiks hiks... hiks to..tolong aku...." Nini menangis tersedu sedu di tengah taman gelap yang dia bahkan tidak tau dimana itu.
"Tolong aku ..." suara gadis itu terdengar serak dan lirih. dia mengusap lehernya yang terasa perih karena cengkraman yang sangat kuat dari pria gila yang memukuli wajahnya berkali kali. Pria itu pasti benar benar menginginkan kematian Nini. Namun ada yang aneh, bau yang sama dari botol putih itu menyelimuti seluruh permukaan wajah Nini yang terkena pukulan itu.
Tiba tiba seseorang berlari menghampiri Nini dengan wajah khawatir.
Dengan penuh kelembutan dia menatap wajah Nini. Lampu dari para penembak yang dia bawa menyinari mereka di tengah taman itu.
"Mama... hiks hiks hiks.... Mama.....Nini kangen Mama... kak James... Nini kangen kalian hiks hiks hiks.... jangan tinggal Nini sendirian, Nini takut , Nini takut Ma, Kak pleaseee... bawa Nini kesana huwaaaa.... Tolong Nini......" Nini menangis sambil sesenggukan di pangkuan wanita asing itu.
Nini mengusap wajah wanita asing itu, seolah dia adalah mamanya sendiri, Nini berpikir kalau yang dia lihat sekarang adalah mamanya, tapi nyatanya dia adalah orang lain.
"Mama...Maaa... Nini kangen... pulang Ma, pulang Maaa... please... pu...Lang..." Suara Nini semakin lemah, dia kehilangan kesadarannya di dalam pelukan perempuan asing itu.
"Kasihan sekali kamu," lirih wanita itu sambil.mengusap wajah Nini dengan air mata berderai. Dia menangis melihat Nini seperti ini.
"Bantu aku membawanya ke markas!" ucap Wanita itu pada anak buahnya.
Sementara Nini diselamatkan oleh orang tak dikenal, James di dalam kantor polisi sedang duduk berdua bersama Tuan Nolan. Pria di depannya itu duduk sambil mengetuk ngetik jari jarinya yang dibalut plester ke atas meja.
__ADS_1
Terlihat tuan Nolan begitu gugup ketika berada di depan James. Pria itu mengeluarkan sebotol minuman dan makanan yang dia siapkan dari rumah untuk James.
"I..ini... kamu makan, Daddy sudah siapkan, semoga kamu suka," ucap pria itu dengan suara ragu, sama seperti suaranya ketika pertama kali melihat Kiel terbangun dari tidurnya.
"Terimakasih Daddy, Daddy yang terbaik, maaf kalau Kiel jadi menyusahkan Daddy, maaf Kiel membuat semuanya runyam Daddy, Kiel... hiks hiks hiks... Kiel tidak pernah melakukan hal sekeji itu pada orang lain, tapi Kiel malah dituduh..." James menangis sambil menyebut nyebut nama pemilik tubuh yang asli.
Menangis sambil menggenggam batangan tuan Nolan, namun ekor matanya melirik ke kanan dan kiri mengawasi para penjaga yang ada di ruangan itu.
Tuan Nolan menatap putranya yang menangis, seutas senyum tipis tergambar di wajah tuan Besar Nolan, namun hanya sebentar sampai tidak seorang pun sadar kalau dia tersenyum seperti itu.
"Tenanglah nak, Ayah akan mencari solusi untuk mengeluarkan kamu dari penjara ini, Ayah yakin ada solusi yang terbaik!" ucap tuan Nolan sambil menepuk bahu James.
James mencium bau aneh dari tangan tuan Nolan, namun dia pura pura tidak tau. Apalagi saat mendengar sesuatu yang janggal dari pria itu. Mana pernah tuan Nolan menyebut dirinya sebagai Ayah.
"Hiks hiks hiks... Kiel percaya, tolong bantu Kiel Daddy...." James menangis, dia memeluk tuan besar Nolan, merengek dan menangis seperti anak kecil yang sedang kesulitan dan tengah mengadu pada ayahnya
"benar, begini reaksi yang tepat, dengan begini keluarga ku akan sempurna," batin tuan besar Nola sambil membalas pelukan James dengan cara yang aneh, dia mengusap usap punggung James dari atas sampai ke bawah sebanyak tujuh kali.
James melirik ke belakang, dia melanjutkan tangisnya," kita lihat permainan siapa yang paling menyenangkan!" batin pria itu.
Sementara itu di rumah utama keluarga Nolan.
Braakkkk... Brakkk... praaangg.... Klotangg.....
Sshhhhhh.... kkrrrkkk...crriityy tak... crrriiitt... takk
Elleara bersembunyi di dalam lemari pakaiannya dengan tubuh gemetaran dan jantung berdebar kencang saat mendengar suara benda benda besi dipukul ke arah pintu kamarnya. Suara benda pecah dan gelondongan kayu serta suara orang mendesis dia dengar dengan jelas di luar kamar itu.
"To...tolong hiks hiks hiks..... Mommy... help..me..."
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗