
Berita tentang kemenangan pasukan yang menjaga benteng perbatasan kota Ghinsang, serta aksi heroik yang di lakukan oleh Edward beserta seluruh pasukan nya, menjadi topik hangat untuk semua penduduk Kekaisaran SHIN-ZU,
Haruna yang berada di kediaman keluarga utama Kekaisaran SHIN-ZU, mendengar kabar baik bahwa peperangan telah usai dan di menangkan oleh pihak Kekaisaran SHIN-ZU, merasa sangat senang terlebih lagi ketika mendengar aksi heroik yang di lakukan oleh Edward beserta pasukan nya, membuat nya merasa sangat bangga, namun di balik itu semua kerinduan yang sangat mendalam kepada Edward terus berkembang dan bersemayam di dasar hati nya,
Semilir angin malam ini, membuat hati yang di rundung kerinduan, menjadi semangkin dingin dan sepi,
Di kediaman keluarga utama kekaisaran SHIN-ZU, tepat nya di depan jendela kamar seorang gadis,
"Edward... Apa kah kau tau betapa aku sangat merindu kan mu..?" Ucap ku yang mengungkapkan betapa aku sangat merindukan kehadiran nya di sisi ku,
Aku duduk di bangku tepat di depan jendela kamarku yang sengaja aku buka, hembusan angin malam menerpa tubuh ku dan membelai lembut setiap helaian rambut hitam ku yang panjang,
Berharap agar angin malam ini mengirim pesan kerinduan ku kepada nya,
Jutaan gemerlap cahaya bintang di langit melukiskan keindahan maha karya tuhan yang tiada dua nya, di lengkapi sang rembulan yang nampak sempurna dengan sinar nya, meski keindahan itu nyata ada nya, namun hati ini tidak sedikit pun merasa terhibur,
Aku menatap ke atas langit yang indah malam ini, berharap sosok yang sangat aku rindukan hadir menemani ku malam ini, walau pun hanya untuk sesaat, setidak nya itu akan mengobati rasa rindu ku,
Dalam lamunan ku, aku berdoa, semoga tuhan selalu melindungi nya di mana pun dia berada, menjaga nya di saat diri ini jauh dari nya, serta menjaga kesetiaan nya untuk tetap selalu mencintai ku,
Di sisi lain..
Di atas sebuah benteng perbatasan antara Kekaisaran SHIN-ZU dengan Kerajaan GOU-ZHANG tepat nya di kota Ghinshang, seusai peperangan tadi siang, seorang lelaki tampan berdiri tegak menatap lurus kedepan kearah hutan, dengan mata yang sedikit sayu namun memendam kerinduan yang begitu mendalam,
"Tuan.. apa yang sedang anda lakukan..?" Ucap Suzaku kepada Edward yang sedari tadi hanya berdiri menatap lurus kedepan dengan pandangan yang kosong,
Sontak hal itu membuyar kan lamunan nya,
"Suzaku.. tidak ada.. aku hanya sedikit merasa cemas, entah apa yang akan terjadi nanti nya.." ucap Edward yang menjawab pertanyaan Suzaku,
Suzaku hanya diam seribu bahasa karena tidak mampu mengartikan ucapan dari Tuan nya,
Angin malam yang dingin berhembus kencang menerpa tubuh Edward yang sedang berdiri di atas sebuah benteng yang kokoh,
"Hhmmmmm... Haruna.." ucap Edward di dalam pikiran nya,
Kemudian Edward mengeluarkan Guard phone nya, dia ingin menghubungi Haruna yang sedang berada di Ibu kota Kekaisaran SHIN-ZU, namun keraguan menyelimuti pikiran nya, membuat Edward mngurungkan niat nya untuk menghubungi Haruna melalui Guard phone milik nya,
"Hahhh.... Apa yang aku pikirkan..? Mungkin Haruna sudah tertidur, mengingat malam sudah semangkin larut, jika aku menghubungi nya melalui Guard phone, dia pasti merasa terganggu dan marah kepada ku, sudah lah... Lain kali saja.." ucap Edward di dalam pikiran nya, dan memasukan Guard phone nya kembali kedalam saku celana nya,
.
Haruna masih merenung menatap langit malam yang indah, mengingat-ingat kenangan manis ketika bersama dengan Edward, sungguh tidak akan pernah bisa untuk di lupakan,
"Ha'er.. kau belum tidur.. putri ku..?" Ucap Yang Mulia Kaisar ketika melihat putri nya sedang melamun di depan jendela kamar nya, kaisar yang melihat Putri nya ketika diri nya melewati pintu kamar yang sedikit terbuka, langsung masuk ke dalam kamar putri nya tanpa mengetuk pintu kamar itu,
"Ayah.." ucap Haruna kepada Yang Mulia Kaisar yang tidak lain adalah Ayah kandung nya,
Haruna kemudian menundukan kepala nya, Yang Mulia Kaisar yang melihat nampak kesedihan di raut wajah Putri nya, segera bertanya kepada putri nya,
"Putri ku.. kenapa kau murung seperti itu..?" Ucap Yang Mulia Kaisar yang sedikit merasa kahwatir kepada putri nya,
"Tidak apa Ayah.. sudah lah Ayah aku mau tidur, ayah keluarlah... Dan jangan lupa untuk menutup pintu nya," ucap Haruna yang menutupi kesedihan yang dia rasakan, dari Ayahanda nya, Haruna sedih karena menahan kerinduan kepada Edward,
"Hahhh... (Menghela napas) baik lah.. Ayah akan keluar, putri ku jika kau memiliki masalah jangan lupa untuk berbagi dengan Ayah mu ini," ucap Yang Mulia Kaisar Ziyun yang merasa simpati kepada putri nya,
"Ya.. Ayah.." ucap Haruna kepada Ayah nya,
Setelah nya Yang Mulia Kaisar keluar dari kamar putri nya, dan menutup rapat pintu kamar putri tercinta nya,
__ADS_1
.
Edward yang berada jauh dari Ibu kota Kekaisaran SHIN-ZU, merasa sangat bimbang, antara menghubungi Haruna atau tidak melalui Guard phone, Edward merasa takut mengganggu Haruna yang sedang tertidur namun di sisi lain Edward merasa sangat merindukan Haruna,
Dan pada akhir nya Edward hanya mengirim pesan Teks kepada Haruna, karena dia pikir mungkin dengan menghubungi Haruna melalui pesan teks tidak terlalu mengganggu Haruna yang sedang tertidur,
Cukup lama bagi Edward untuk merangkai kata-kata yang akan dia kirim kepada Haruna melalui Guard Phone,
Semenit kemudian..
Guard phone yang selalu berada di dalam saku celana Haruna berdering,
Sfx : Kriing....!!! (Suara Guard phone yang berdering ketika ada panggilan atau pesan teks masuk)
"Hhhmmmm... Siapa yang mengubungi ku malam-malam begini,?" Ucap Haruna yang bertanya-tanya di dalam pikiran nya,
Setelah nya Haruna mengambil Guard phone yang ada di dalam saku celana nya, cukup mengejutkan ketika Haruna membaca pesan yang di kirim oleh Edward kepada nya meskipun hanya kata-kata biasa namun itu sudah sangat membuat nya merasa bahagia,
[ Haruna.. maaf mengganggu mu malam-malam begini, aku hanya ingin menanyakan kabar mu.. ku harap kau di sana baik-baik saja.. from : Edward ]
Tanpa berlama-lama Haruna langsung melakukan panggilan suara kepada Edward..
Edward juga merasa terkejut ketika Guard phone yang dia genggam berdering, dan melihat bahwa yang melakukan panggilan kepada diri nya adalah Haruna,
"Hallo..?" Ucap Edward mengangkat panggilan telepon dari Haruna,
.
"Edward.." ucap Haruna sedikit merasa canggung,
.
"Haruna...? Ada apa.. kenapa kau belum tidur padahal sudah larut malam..?" Ucap Edward yang tidak tahu harus bertanya apa,
.
.
"Hhhmmm... Haruna maaf yah.. aku pasti mengganggu mu, maaf aku hanya merasa rindu pada mu..?" Ucap Edward yang memberanikan diri nya untuk mengungkapkan rasa rindu nya kepada Haruna,
.
"Tidak... Tidak Edward, kamu tidak mengganggu ku, aku malah merasa sangat senang bisa menghubungi mu, dan mendengar suara mu, aku pun sama merasa sangat rindu pada mu.." ucap Haruna membalas rasa kerinduan yang di miliki Edward,
.
"Haruna.. apa kamu baik-baik saja di sana..?" Ucap Edward menanyakan kabar kepada Haruna,
.
"Aku baik-baik saja Edward, Edward kapan kau akan kembali ke Ibu kota Kekaisaran SHIN-ZU..?" Ucap Haruna menjawab pertanyaan dari Edward dan balik menanyakan tentang kepulangan Edward ke Ibu kota Kekaisaran SHIN-ZU,
.
"Maaf Haruna...? Mungkin esok aku akan ke Ibu kota Kekaisaran SHIN-ZU, namun..?" Ucap Edward namun berhenti ketika ingin meneruskan ucapan nya,
.
"Namun apa Edward..?" Ucap Haruna yang merasa penasaran tentang kelanjutan dari ucapan yang ingin di ucapkan oleh Edward,
__ADS_1
.
"Maaf Haruna..? Namun aku tidak akan bisa tinggal lebih lama di Ibu kota Kekaisaran aku harus melanjutkan perjalanan ku.." ucap Edward yang memberitahukan bahwa diri nya akan ke Ibu kota hanya untuk berpamitan dengan Haruna,
.
"Edward... Apa kau akan mengajak ku..?" Ucap Haruna yang ingin sekali ikut bersama dengan Edward,
.
"Maaf haruna.. aku tidak bisa untuk mengajak mu untuk ikut bersama ku, aku juga akan meninggal kan Gorhan di Ibu kota untuk terus menuntut ilmu di akademi Ibu kota Kekaisaran," ucap Edward menjawab pertanyaan dari Haruna,
.
"Kenapa..?" Ucap Haruna
.
"Haruna.. akan sangat berbahaya jika kau ikut bersama ku, aku memiliki banyak musuh di mana-mana, demi ke amanan mu, kau lebih baik tetap di ibu kota kekaisaran," ucap Edward kepada Haruna,
.
"Hhmmm... Baik lah kalau itu keinginan mu.." jawab Haruna yang sedikit merasa kecewa dengan keputusan yang di buat oleh Edward, namun mau tak mau Haruna harus menuruti nya demi kebaikan nya juga,
.
"Haruna sudah yah.. sudah malam kau lebih baik istirahat, tidak baik untuk kesehatan seorang gadis jika tidur terlalu malam,?" Ucap Edward yang mengkahwatirkan kesehatan Haruna,
.
"Yah... Baik lah kau juga jaga kesehatan mu Edward.. sampai nanti Edward..? Dah.." Ucap Haruna mengakhiri panggilan nya kepada Edward,
.
"Iya haruna.. sampai nanti.. Dah.." Jawab Edward dan menutup telepon nya,
Kesunyian kembali terasa, Edward kembali menatap lurus ke arah hutan yang gelap dan rimbun,
"Hahhh... (Menghela napas) entah.. apa yang akan terjadi di masa depan nanti, semoga saja semua sesuai dengan rencana ku..?" Pikir Edward,
.
Di sisi lain..
Tanpa sadar Haruna meneteskan air mata nya dan membasahi kedua pipi nya, pikiran yang terus berkecamuk, dia ingin ikut bersama dengan Edward namun di sisi lain dia takut hanya akan menjadi beban di setiap perjalanan Edward, dia juga tidak tahu harus berbuat apa jika diri nya tanpa ada Edward di sisi nya,
Perlahan kedua mata Haruna nampak sayu.. rasa kantuk yang melebihi rasa apa pun yang saat ini dia rasakan mengalahkan keegoisan nya, seketika Haruna tertidur dengan pipi yang masih basah dengan air mata.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Continue...