The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
PAGI BU GURU


__ADS_3

Mitos adanya mahluk halus, goblin, alien dan mahluk kasat mata lainnya. Mitos adanya reinkarnasi. Mitos adanya mahluk yang memiliki dua dunia, hidup dan mati. Bahkan adanya teleportasi dari zaman ke zaman. Semua terasa tidak masuk akal jika tidak mengalami sendiri.


Ada lagi sebuah cerita yang menjabarkan mati bersama jasadnya.


Ah, Belum ada uji coba yang bisa membuktikan kehidupan di bawah alam sadarnya manusia.


Queen, wanita berusia 30 tahun bersuami dan memiliki dua orang putra mengalami kehidupan mitos itu.


Bagaimana jalan cerita...THE LONELY WOLF...?


Ikuti novel milik Hayunda Sadewa...mari berfantasi ke dunia dongeng mitos yang seru...


Mitos. Mungkin ini benar bisa di katakan demikian. Laki -laki yang bertemu dengan Queen beberapa hari yang lalu mengaku kekasihnya dari tahun 1500 Masehi.


‘’Aneh...” Queen menggeleng kepala tidak percaya.


“Bisa jadi itu kekasihmu yang dulu kamu tinggalkan. Dia mati penasaran menjadi goblin atau bisa jadi dia setengah mayat hidup yang kemudian menjadi vampir.” Indri terus berkelakar dengan gayanya yang tengil.


“Atau...” Mata Indri melebar bulat menatap Queen dengan senyum menyeringai, “Dia adalah Alien,...seru dong ER...!”


“Percaya sama takhayul Indri!” Queen tertawa kecil, terkekeh-kekeh dengan tingkah laku Indri. “Korban Drakor...” ejeknya menepis badan bongsor Indri yang menghalanginya.


“Tapi, seru lhoo ER, punya pacar super duper sakti mandraguna kayak Brama Kumbara.”


Ekspresi wajah Indri lebih gokil saat memperagakan gerakan jurus-jurus film kolosal.


Saking menghayati nya Indri seolah-olah sedang masuk ke dunia fantasi kolosal.


“Halu,...mana ada yang seperti itu di jaman sekarang Indri!”

__ADS_1


“Siapa tau...”


Queen melangkah dengan cepat mengejar waktu. “Ada tugas piket hari ini,” katanya buru-buru.


Indri berlari menjajari langkah sahabatnya, “Bisa jadi lho, siapa tau dia benar -benar kekasihmu di masa silam.”


“Heleh itu tidak mungkin!” Queen berjalan semakin cepat meninggalkan Indri.


“Kan kasian ER, kalau dia harus menelan pil pahit penolakanmu lagi setelah 1500 tahun menunggu.”


Queen melengos gokil memukul kepala Indri dengan buku di tangannya.


“Queen besok kamu pergi tempat nayuh nggak? tempat Mbak melan?” Queen mengedikkan bahunya, menata jilbabnya yang sedikit tersingkap karena ke usillan Indri.


“Pagi Bu guru?”


“Anak-anak OSIS memang rajin’’


“Sebenarnya aku malas datang ke tempat mbak Melan. Bukan karena apa-apa, tapi di sana ada mertuaku.”


Indri tau hubungan Queen dan keluarga Hendra suaminya tidak baik. Iparnya yang seperti ular, mertuanya yang seperti anjing dan tetangga nya yang seperti monyet.


“Ibu ku teramat tidak menyukai aku. Aku takut di permalukan lagi di sana.”


Sambil menepuk-nepuk pundak Queen Indri duduk di kursinya.


“Besok ada ulangan harian anak-anak, aku nggak bisa kayaknya.”


ucap Queen sembari sibuk mencari sesuatu.

__ADS_1


Indri menyeringai, “alasan!”


“Nanti aku temani, Ndri.” Mbak Ris guru mata pelajaran sejarah menghampiri mereka.


“Sudah datang mbak?”


Wanita dewasa dengan wajah bulat bagaikan bulan purnama itu melemparkan tas dan sekantong gorengan.


“Aku bukannya nggak mau ikut, tapi di sana ada ibu mertua. Takut saja nanti aku malah di permalukan di tempat umum.”


Indri dan Riswati mengunyah gorengan dengan rakus, “enak dari mana belinya mbak?” tanya Indri.


“Biasa langganan.”


Queen berhenti dari pura-pura sibuknya menata buku-buku mata pelajaran yang sebenarnya tidak perlu ditata ulang. “Eh, di tempa langganan ada apa saja?”


“Ya Seperti biasa.”


“Selamat pagi ibu-ibu...?” Ida Laila selaku Wakasek masuk bersama seorang pria berkacamata yang tidak asing bagi Queen.


“Kamu...?” Queen berdiri tidak percaya. Lelaki yang di bahas bersama Indri pagi tadi berdiri di samping ibu ida wakil kepala sekolah tempatnya mengajar.


Lelaki itu tampak lugu dan cupu. Menunduk dengan ekspresi memelas,


“Astagfirullah...kamu mengikuti aku sampai sini! Apa sih mau mu?”



__ADS_1


__ADS_2