
Sudah hampir satu minggu, Queen masih mengunci diri di kamarnya. “Kamu seorang guru, seharusnya kamu pikirkan anak didik mu, jangan korbankan mereka karena egois dan kekerasan hatimu.”
“Itu karena ibu tidak tau bagaimana rasanya hatiku!”
Nuraini, seorang ibu. Hatinya perih melihat anaknya yang terpuruk. Dengan sabar ia membelai rambut putrinya.
Meskipun Queen menimpali ucapannya dengan kata-kata pedas namun hati seorang ibu selalu memaklumi. Queen sedang terluka.
“Apa kamu lupa ajaran agama Kita?”
Queen mendengus kesal, “memang ibu tau?!Ibu orang jauh! bahkan baru menganut agama Islam. Ibu hanya mualaf yang belajar sedikit demi sedikit dari Ayah.”
Nurani masih menghela nafasnya dengan pelan. “Kamu tau, sehelai daun yang jatuh ke tanah, itu bahkan Tuhan telah atur.”
“Tapi hati Queen masih sakit Bu!”
Setiap malam Queen meratapi kehidupannya yang berantakan. Berpisah dari anak-anaknya berpisah dari suami yang amat di cintainya.
Penampakan alam astral, kejadian yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu pun terus hadir menjadi bayangan mengerikan.
Bayangan lelaki tampan dengan tato di sekujur tubuhnya, lebih meresahkan. Terkadang Queen harus meringkuk ketakutan di rumah. Di mana-mana ada bayangan Mahkluk itu, menyeramkan.
Dalam mimpi selalu hadir kejadian yang seperti sudah di atur, bersambung dari episode ke episode.
__ADS_1
Aaaaah...!
Bukan hanya sekali Queen hilang akal, menjambak rambutnya hingga berantakan.
Queen harus menahan diri untuk bisa menerima kenyataan.
“Kamu tau Queen anak-anak memiliki takdirnya. Jangan terlalu di risaukan.”
Queen menghela nafas dalam-dalam, “Besok puasa dan rajin-rajinlah mengkaji ajaran Allah SWT.”
Queen merebahkan tubuhnya dalam pelukan ibunya. Wanita yang memiliki wajah cantik dengan kulit putih bagaikan kapas itu mencium kening anak nya dengan elegan.
“Bu, apa ibu percaya Mahkluk halus?”
Nuraini hanya bergumam pelan. Pasti ada yang terjadi pada putri kesayangan. “Ada apa? Kamu tidak pernah berbicara tentang hal semacam itu, bahkan kamu mengklaim itu takhayul.”
“Mahkluk halus itu ada, bukannya di Al-Qur’an di katakan bahwa nyata dan gaib itu ada.”
“Iya, tapi Bu...”
“Queen, tetaplah menjadi baik meskipun hidup dalam kesulitan, jangan berburuk sangka dengan cobaanmu sekarang.”
“Bu, aku lapar.”
Nuraini beringsut dari duduknya, “ibu memasak SOP jamur tiram dan telur puyuh, ada sedikit brokoli dan campuran wortel, juga kentang. Kamu pasti suka.”
__ADS_1
“Assalamualaikum,...”
“Waalaikumsallam...”
Ayah Queen pulang dari kantor dengan wajah penuh semangat. Sebagai pegawai sipil daerah dengan gaji pas-pasan, tapi keluarga Queen adalah keluarga harmonis.
“Hari ini putriku masak apa?”
Queen tersenyum, bahagia. Melihat ayahnya mencium kening ibu. Meskipun sudah berubah Mereka sangat romantis. Seandainya Hendra seperti itu...
“Jangan terlalu tinggi angan-angan, Queen. Setiap manusia memiliki takdir dan nasib sendiri. Berproses lah seperti apa kata Tuhan. Dulu ibu dan ayah juga mengalami hal sulit. Selalu ada hadiah di belakang masalah.”
Ayah duduk di kursi makan tanpa melepas baju dan sepatu kerja. Beliau duduk dan langsung meminta makan. “Aku sangat lapar.”
Kebiasaan sang ayah memang seperti itu, terkadang langsung main makan meskipun belum di sajikan.
Usia ayah dan ibunya sudah lewat 50 tahun tapi ayah masih terlihat semangat mencintai ibu. “Tidak ada batasan umur untuk mencintai,” tegas ayah selalu membuat Queen iri.
“Kamu tidak melihat keadaan anakmu?”
Ayah tiba-tiba gelagapan, saat ibu mencubit lengannya dengan pelan.
“Makan...makan...makan...”
“Tidak apa Bu, tidak apa yah, aku akan perbanyak ibadah. Kalau memang Hendra mau melepaskan aku, tidak apa-apa.”
__ADS_1
“Lupakan dulu, ayok kita makan.”