The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
PENYESALAN HENDRA


__ADS_3

Di tempat lain. Seorang lelaki tampan dengan pakaian yang rapih duduk termangu. Di depannya segelas kopi dan sebungkus rokok Sampoerna mild menemani. (Jika aku kembali sekarang, bukannya sudah terlambat? Queen pasti sudah numpang mobil yang lewat untuk kembali pulang.)


Hendra sedang berkelahi dengan dirinya sendiri. Meninggalkan Queen di jalanan yang di kelilingi hutan belantara... (lelaki macam apa aku? apa aku yakin aku benar? apa aku bisa hidup tanpa Queen?) Hendra meraup wajahnya gusar.


Hendra hanya diam mematung menghisap rokoknya. Ada menyesal di hatinya meninggalkan Queen. Tapi Hendra sangat kesal dengan Queen. Menikah hampir sepuluh tahun, tapi Queen tidak mampu mengambil hati ibunya. Setiap hari Hendra harus mendengar ibunya berbicara panjang lebar mengadukan kebodohan Queen.


Huuuuuuuufffg... Hendra menghembuskan nafas berat. Menjetikan kuntum rokoknya yang tinggal seruas jari. Dentuman musik orgen tunggal menenggelamkan keramaian yang terjadi di otak Hendra.


“Pi, mami mana?” Alfat terus merengek mencari Queen sejak kemarin.


“Mami tidak ikut, mami pulang.”


Alfat terus merengek meminta Queen datang.


Hendra mengambil handphone di sakunya menekan nomor Queen dengan ragu-ragu.


(Nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan...)


“Nomor Queen tidak aktif ma?” Hendra menghampiri ibunya yang sedang menikmati makan malam bersama keluarga besar.


“Biarkan saja, kamu ini tampan, mapan, apa yang tidak bisa kamu beli dengan uangmu.”


“Tapi ma,...” Hendra ragu-ragu, mempercayai ucapan ibunya atau kembali untuk Queen.

__ADS_1


Hendra meninggalkan Queen di jalanan tiga hari perjalanan jika Hendra putar balik.


Sebersit khawatir menjarah hati Hendra. Lelaki tampan itu tampak linglung.


“Pi, mau mami...” Alfat terus merengek dengan menjambak celananya.


“Mami mu pergi! membawa lelaki lain Alfat! Mami mu meninggal kalian berdua demi lelaki lain!”


Alfat dan Ernando hanya diam mendengar hasutan neneknya.


“Papi...” Alfat memeluk kaki ayahnya merajuk, “Mau mami...?”


Alfat menenggelamkan kepalanya di sela kaki ayahnya. Anak usia tiga tahun itu tidak berani menatap wajah neneknya. “Papi...mau mami.”


Hendra bangkit berdiri, tidak lagi peduli dengan dentuman musik di acara pernikahan ponakan kesayangan ibunya, tidak lagi peduli dengan Melly yang selalu di puja ibunya.


Hendra berdiri mengendong Alfat, di sambarnya tangan anak sulungnya untuk ikut serta.


Penyesalan meninggalkan istrinya di jalanan hutan belantara menjadi momok menakutkan.


Bayangan binatang buas dan orang-orang jahat silih berganti mendatangi kepalanya.


Pikiran-pikiran buruk menggelayut dalam benak lelaki tampan dengan bola mata tajam itu.

__ADS_1


“Hendra, mau ke mana? acara belum selesai,” Auren melihat Hendra bergerak cepat membawa ke dua anaknya bergegas menghalangi.


Hendra melirik ke arah Auren tanpa komentar.


Jelas ekspresi wajah Hendra saat ini tidak mampu disembunyikan. Kekhawatiran yang teramat sangat.


Auren mencekal tangan adiknya, "mau ke mana?!" mata Auren memerah karena marah.


"Hendra mau ke mana?!”


Hendra tidak menggubris ibunya yang juga meneriakinya, memanggil dan mengejar mobilnya.


Meskipun sudah terlambat Hendra memilih untuk menyisir kembali jalanan dengan kecepatan tinggi.


Hendra menetapkan hati untuk mengambil keberuntungan, mencari istrinya yang belum di ketahui nasib nya setelah ia tinggalkan. (iblis mana yang telah merasuki aku?) keluh Hendra panik.


“Papi...mau mami...”


Hendra mengemudikan mobilnya dengan cepat. Yang di pikirkan hanya satu, menyusuri jalanan mencari Queen.



__ADS_1


__ADS_2