
Perputaran waktu seperti bola api mengelilingi bumi, tidak bisa di hentikan. Takdir mengalir seperti air, menyebar ke segala arah seperti udara, lalu menguap.
Ide-ide seperti bebas berkeliaran di atas kepala. Menciptakan sebuah umpama demi umpama. Membuat spekulasi sendiri dari setiap sudut peristiwa tanpa kompromi dengan otak dan hati.
Queen berdiri cukup lama di depan kelas. Menatap anak-anak didiknya belajar dengan tertib mengikuti mata pelajaran. Tidak seperti biasanya, anak -anak ini begitu penurut hari ini.
Di kepala Queen sendiri sedang sibuk dengan banyaknya peristiwa magic yang di alaminya akhir-akhir ini. Peristiwa yang di awali dari dia yang di tinggalkan suaminya. (Sebenarnya apa yang terjadi saat itu? Apa semua yang aku alami nyata? Bukannya aku tergeletak di pinggir jalan.)
Queen terus memikirkan bagaimana semua bayangan yang hadir menjadi begitu nyata. Kejadian di toilet umum pagi tadi adalah bukti bahwa dia sedang di teror.
(Apa ini yang namanya guna-guna?...apa Mitos itu ada?)
Orang-orang yang sibuk dengan dunia tidak akan memiliki waktu untuk berfikir, berimajinasi, juga tidak akan sempat untuk sekedar berhenti sejenak demi diri sendiri. Akan tetapi Queen memiliki pertemuan seperti siklus, meskipun dia telah menerjunkan diri dalam kesibukan. Semua seperti pertemuan yang sudah di rencanakan secara ter koordinir.
Seperti mata air dan bunga teratai yang bermekaran dengan tenang dalam peradaban ke romantisan. Memberikan latar dalam semua peristiwa meskipun hadir dinding pemisah.
__ADS_1
Aliran air yang tenang menerjemahkan semua musim.
Dalam kesendirian, kesepian dan kecewa. Queen terus tenggelam dalam imajinasi.
Kejujuran di hatinya menghadirkan orang ke tiga dalam bentuk perasaan rindu.
Kesalahan yang Queen tidak sadari adalah, seharusnya ia amat terluka oleh perpisahannya dengan Hendra, seharusnya ia teramat sakit kehilangan anak-anaknya, namun mengapa otak, hati dan pikiran Queen justru di penuhi oleh bayangan Mahkluk astral Blitar.
Iqbal yang pendiam dan menyendiri, yang memiliki wajah begitu mirip dengan Blitar sering tertangkap kamera memperhatikannya dengan sangat teliti.
“Apa...?” Queen menyapa Iqbal dengan ganas.
Lelaki itu hanya menunduk, ada ketakutan di wajahnya. “Apa?” kembali Queen menegur dengan sadis.
“Maaf Bu, apa salahnya saya sama ibu Queen? Kok saya di bully terus?” logat Iqbal yang medok Jawa terasa sangat asam di telinga.
“Kamu mirip seseorang yang menyebalkan.” Queen berjalan melewati Iqbal dengan kasar, kakinya menyepak meja Iqbal dengan keras.
__ADS_1
Indri hanya menggeleng tidak paham. Menawarkan kebaikan yang selalu ditolak oleh Iqbal.
Lelaki itu terlalu lugu. Dalam wajah tampannya Iqbal terlalu menjaga jarak dengan lawan jenis.
Tapi, semua pesona Iqbal justru terlihat dari kejujuran kecilnya itu. Rupanya lelaki culun itu sangat menarik bagi Indri dan begitu menyita perhatian indri.
Queen ingat benar kejadian pagi hari ini. Dia dengan sengaja membuat Iqbal tidak nyaman. (Sebenarnya siapa yang salah di sini?) Pikir Queen terhenyak, dia enggan mengakui kesalahan.
Menghabiskan waktu bersama lelaki yang entah siapa, di dunia mistik meskipun singkat, namun meninggalkan bekas yang begitu nyata di ingatan Queen.
Queen menata buku mata pelajarannya. Menatap anak-anak yang mulai riuh dengan hasil belajar.
Ada banyak topik obrolan mereka, seperti tidak ada habisnya. Ada di antaranya yang menciptakan obrolan lain dari topik pembahasan. Poinnya adalah kebahagiaan itu sendiri.
Anak-anak begitu bebas mengekspresikan perasaan mereka. Kebahagiaan yang tanpa batas. Anak di usia ABG yang masih labil dan tidak stabil.
__ADS_1