The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
TAKHAYUL


__ADS_3


Queen segera menuju ke ruangan guru. Indri menjajari langkahnya dengan buru-buru. Si bongsor Indri terus berceloteh tentang banyak hal. Juga mengomentari tentang mitos dan legenda.


Queen bertemu Indri di bus umum yang menuju sekolah tempat Keduanya bekerja sebagai pengajar. Sudah empat hari Queen menjadi penguntit, mengejar informasi di kediaman suaminya. Terhitung dari Senin kemarin.


Tanpa mengetuk pintu, ibu Ida selaku Wakasek masuk bersama seorang lelaki yang familiar untuk Queen, namun sedikit berbeda.


Pemuda itu masuk ke ruangan tersebut dengan wajah lugu. Betapa kagetnya Queen melihat Blitar yang berdiri di tengah ruangan. Meskipun dengan kacamata dan wajahnya di buat culun, Queen tidak akan tertipu.


Sosok lelaki yang memiliki wajah Blitar tak kalah terkejut nya. Wanita itu langsung berteriak seolah mengenal dirinya.


Lebih parahnya wanita itu bahkan menuduhnya mengikuti, menguntit.


“Kalian saling kenal buk Caca?” Wakasek sialan itu memanggil Queen dengan panggilan kecil yang memalukan.


Queen mengangguk. Tidak sama dengan lelaki yang bernama Iqbal itu. Lelaki itu menggeleng tegas.


“Kamu nggak kenal aku? Dasar bajingan!’


“Queen, kamu baik-baik kan?” Indri menempelkan telapak tangannya di kening Queen, tapi Queen dengan kasar menepis tangan Indri.


Queen kesal, sakit hati. Kehancuran ini begitu dalam. “Hendra bajingan! Blitar pun bajingan!” Queen meraung sedih di toilet umum.


Menatap wajahnya di cermin, menikmati, menelusuri guratan demi guratan. Rupanya wajah Queen tidak seindah dulu. Ada noda hitam seperti bercak kotoran di mana-mana.

__ADS_1


“Seandainya aku lebih cantik mungkin Hendra tidak berpaling.”


HUEX...HUEEEX...HUEEEEX...HUUUUUX...


Queen memuntahkan cairan berwarna kuning. Cairan yang amat sangat pahit.


Bayangan Blitar terpantul di cermin. Sangat tampan, Queen meraba cermin penuh rindu.


Ah! Tepisnya. “Bukan muhrim.”


Bayangan Blitar masih berdiri di cermin. Queen menoleh dengan cepat. Tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri yang sedang merana.


Pemuda itu hanya berdiri diam sambil menatap Queen dengan nafsu. Begitu dalam kerinduan di mata kosong itu terpantul dari cermin. Sangat nyata.


Queen menoleh lagi ke belakang dengan Berlahan-lahan, mengintip dengan ekor matanya.


“Ibu...” salah satu dari mereka menegur. Queen yang masih belum bisa memastikan apakah yang baru saja di lihat matanya benar -benar lelaki yang sudah menjarahnya habis-habisan.


Aaaaaaak...! teriak Queen mengagetkan semua siswa yang berada di situ. “Bu! Ada apa?”


Farah langsung berusaha memeluk tubuh Queen yang menggigil.


Anak-anak bersama membantu Queen untuk kembali ke ruang guru.


“Queen ada apa?” Indri menghampiri dengan khawatir.

__ADS_1


“Ibu cantik sekali”, ucap Iqbal menghampiri.


“Saya bisa melihat mahkluk halus,”


Queen menatap lelaki yang bernama Iqbal itu dengan sebal. Gara-gara lelaki itu Queen jadi di bayangi wajah Blitar.


Ibu diam saja, biarkan saya terawang.


Iqbal meminta air putih pada Indri, sedikit komat Kamit di atas gelas berisi air, lalu meniup dengan tiga kali tiup.


Lelaki dengan kacamata beberapa inci itu mengambil beberapa cakupan air yang sudah di berikan doa olehnya.


Dengan pelan meraupkan air itu ke wajahnya dan wajah Queen.


Tidak lupa Iqbal merapal mantra sedikit sebagai pemanis alami aksinya.


Ah! Queen menepis tangan lelaki itu. “Percaya takhayul!” dengan tergesa dia membereskan buku-bukunya dan pergi.


Queen kesal sambil melangkah mendekati Iqbal. “jangan mengganggu aku!” wanita itu terus memojokkan Iqbal yang sedang tergagap karena melihat sesuatu. Mulutnya tidak mampu berucap.


Mata Iqbal nyalang memandang udara kosong. Dari balik kacamatanya ada dunia lain terlihat jelas.


Ibu Ida mengabaikan Queen yang tampak sudah tenang. Wanita dengan badan tegap dan rambut cepak itu mengambil segelas air untuk Iqbal.


“Ada apa?”

__ADS_1


Iqbal mundur hingga akhirnya berhenti di sudut ruangan. Meringkuk ketakutan



__ADS_2