
(FLASHBACK)
Angin berhembus semakin kencang, air hujan pun semakin deras jatuh menimpa seluruh tubuhnya.
Queen menggigil bibirnya gemetar dan giginya gemertak. Menahan dingin dan ketakutan dalam satu waktu.
keluarga besar suaminya meninggalkan Queen di tegah jalan yang di kelilingi hutan belantara. Jalan menuju kota Palembang yang menjadi tujuan keluarga suaminya teramat jauh tiga hari perjalanan.
Acara pernikahan keponakan. Alasan Hendra membawanya turut serta.
“Mas Hendra...” Queen terus membangun ke percayaan diri. Queen yakin dengan suaminya. Setidaknya dengan terus meyakini Queen sedikit bisa mengurangi rasa takutnya.
Queen berdiri gemetar menatap jauh ke arah yang kemungkinan suaminya akan datang menjemputnya. Berdiri penuh harapan.
Suara angin menggoyangkan dedaunan dan pohon-pohon. Suara yang di hasilkan dari gesekan pepohonan sangat menyeramkan. Queen merintih sendiri menyesal atau mengutuk diri? dalam keadaan yang tidak menentu seperti ini apa yang bisa di pikirkan seorang wanita lemah sepertinya, terkecuali pasrah dan berdoa pada Tuhan.
Jalanan teramat lengang, tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Bahkan jika Queen berharap akan ada kendaraan bus, truk, travel atau kendaraan apapun sekedar menemaninya memberikan kekuatan bahwasanya masih ada kehidupan di sekitarnya.
Queen terus berjalan pelan. Sesekali melihat kebelakang penuh harapan. Ah! Queen teringat tas, handphone, uang atau apapun yang dapat membantunya.
__ADS_1
Dengan terburu-buru Queen mencari tempat yang teduh dan memeriksa tasnya.
"Astagfirullah alazim... handphone ku pun tidak ada! ya Allah. Apakah ini semua sudah menjadi rencana mas Hendra? apa mereka memang sengaja hendak membuangku?"
Hwaaaaa...! hwaaaaa...? huuuh...huuu..uuuh... Queen mendekap wajahnya menangis dengan kencang. Bagaimana dia bisa sebodoh ini. Percaya pada lelaki yang tidak mencintainya.
Queen memilih terus berlari berteduh di bawah pohon satu ke pohon satunya lagi.
Dalam ketakutan Queen hanya bisa merapal doa-doa pasrah dan berusaha.
“Hei! Ada cewek cantik nih!”
Bukan suami yang di harapkan datang dari arah yang di harapkan Queen, melainkan tiga orang yang sangat menyeramkan.
"Mas Hendra...!" Apa yang bisa di lakukan seorang istri saat terhimpit permasalahan jika tidak mengingat suaminya.
Queen merintih dalam ketakutan yang teramat sangat.
Lari...! Akal Queen tersadar bahaya datang.
__ADS_1
Queen berlari sekuat tenaga. “Kamu berjalan sendiri di tengah hutan, kamu pikir ini jalan aman?” Dua orang kembali datang dari arah berlawanan. Queen terkepung Lima orang laki -laki yang memiliki wajah menyeramkan.
Queen terduduk tidak berdaya, meringkus pakaian nya yang basah dengan kedua tangan. Ketakutannya menjadi-jadi.
Di bawah pohon rindang yang menjulang Queen meringkuk pasrah.
Hujan yang semakin deras tidak ingin berkolaborasi. Queen serba salah di depan laki-laki yang terlihat kelaparan. Baju sifon yang basah menonjolkan bentuk tubuhnya.
Tubuh yang aduhai terlihat jelas menggairahkan membuat ke lima lelaki yang mengelilinginya tersenyum menyeringai menelan ludah berkali-kali.
Wajah beringas dan mesum kelima lelaki itu membuat Queen semakin ketakutan.
Dengan suara parau Queen menghiba dan memohon, “Tolong jangan sakiti saya. Saya memiliki anak-anak yang membutuhkan ibu.”
Jikalau Tuhan berkenan menyelamatkannya dari kelima lelaki kelaparan yang semakin mendekat.
Tangan kelima orang itu terbuka dengan bermacam ekspresi. “Mana bisa makanan seenak ini kami biarkan.”
Queen gemetaran, nyalinya menciut. Melihat lelaki di hadapannya memiliki senjata tajam terselip di pinggangnya. Queen seketika hilang harapan. Tubuhnya luruh ke lantai jalan. “Ya Allah seandainya ajalku tiba, tolong selamat kan anakku dari api neraka.”
__ADS_1