The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
BLITAR


__ADS_3


Sayup-sayup Queen mendengar suara deru kendaraan. Matanya begitu berat untuk terbuka, “ada apa ini?”


Baru saja Queen menerobos keluar dari istana khayalan yang mengunci dirinya dalam ilusi pangeran tampan manusia serigala. Lalu dia terjebak dalam kegelapan yang mencekam, kemudian tiba-tiba ia merasakan matanya berat dan jatuh tersungkur di antara akar pohon yang merimbun. Dalam ingatannya banyak sekali tragedi yang teramat jelas. Namun...


Daun telinga Queen bergerak-gerak menajamkan pendengaran dan mengingat banyak kejadian.


Tubuh Queen menggigil kedinginan. Angin menghempas serasa membekukan darah. Queen membuka mata dan...


Gelap...


Queen mendapatkan tubuhnya tergeletak di pinggir jalanan, pakaiannya berantakan tapi tidak ada bekas-bekas kekerasan.


Queen heran melihat dirinya yang tergeletak beratapkan langit beralaskan lantai jalanan yang kotor dan lembab.


“Astagfirullah alazim” (aku tergeletak di pinggir jalan).


Ada lampu sorot dari kejauhan. Queen melambaikan tangan, berusaha menghentikan kendaraan yang lalu lalang.


Satu jam berdiri di pinggir jalan tak juga ada kendaraan yang Sudi berhenti untuk membantunya.


Jalan lintas Sumatera Lampung Palembang memang terkenal rawan, dari binatang buas juga pembegalan. Bersyukur Queen tidak mengalami kejadian sekejap itu di tempat yang paling ditakutkan semua pengguna jalan.


Suara lolongan bintang buas terdengar di pertengahan malam. Kesunyian semakin mencekam. Queen memandang langit, ada kepedihan singgah di hatinya.


Apa? Tiba-tiba Queen merasa kehilangan sesuatu yang sepertinya sangat penting baginya. “Blitar,” gumamnya lirih.


Queen mendekap dadanya menikmati perih. Air matanya mengalir deras tidak tau mengapa.


Menganga di kaki Queen, seperti ada sebuah sayatan? Menjelaskan ada sebuah tragedi terjadi.


Ah! Queen tidak peduli, yang di pikirkan Queen saat ini hanya kembali pulang.


...”Alhamdulillah...” ujarnya bersyukur.

__ADS_1


Jalanan terlihat sedikit ramai. Kendaraan satu dua melintas.


Queen berusaha menyetop kendaraan apapun yang melintas. Dari ke sekian kali yang lewat satu mobil L300 berhenti.


“Pak... saya tertinggal bus, bisa bantu saya? Tolonglah...”


Mobil mengangkut barang pecah belah. “Akan sulit untuk duduk,” kata pak sopir menjelaskan. “Di depan sudah ada tiga orang, apa mau duduk di belakang?” tawar pak sopir sedikit curiga.


“Juring...” bisik mereka terdengar di telinga Queen, namun Queen tidak ingin memikirkan apapun. Pulang...pulang ..


Queen hanyalah ingin pulang.


Queen diam saja dan mengangguk setuju. Yang terpenting sampai rumah, pikirnya. Bertemu dengan anak-anak dan suaminya. (Mereka pasti khawatir sekali.)


Queen kembali menatap hutan di belakangnya. (Queen....) Lolongan anjing hutan sahut menyahut. pertengahan malam sudah tertinggal 10 detik.


Waktu menunjukkan pukul 12.10 menit. Ada kekosongan yang hampa. Tiba-tiba Queen menagis sejadi jadinya, meraung keras menahan sakit dan sesak di dada. sesuatu yang teramat penting hilang begitu saja. (Ya Allah apa ini?)


Beruntung sang sopir mau menolong Queen bahkan berbaik hati memberikan sisa makanan. “Pakai jaket saya, baju anda sobek di mana-mana.” Tanpa keluar dari mobil si bapak memberikan jaket yang hampir membuat Queen muntah karena aroma keringat yang menyengat.


“Terima kasih pak,”


"Sudah naik mbak?" mobil kembali melaju.


*****


Suara dengungan kendaraan berhenti. Queen terjaga. Sudah berapa lama ia tertidur di mobil yang sesak itu.


“Mbak...” tangan pak sopir menjimpit takut lengan Queen. “Bangun, kalau mau makan atau ke kamar mandi.”


Queen menggeleng, “saya tidak punya uang.” Jawabnya singkat, sedih.


“Saya juga tidak punya banyak uang, tapi mari kita beli beberapa barang untukmu.”


“Mbak dari mana? Saya mau jalan ke daerah Lampung,”

__ADS_1


“Saya dari Palembang hendak pulang, tapi...” Queen tidak melanjutkan ucapan nya, hatinya getir. Membayangkan apa sebenarnya yang terjadi padanya.


“Sudah berapa hari mbak di sana? Beberapa Minggu lalu juga ada tim pencari, katanya korban hilang dari mobil.”


Queen memperhatikan sang sopir. Berharap itu Hendra yang mencarinya. Berati selama ini benar, Hendra tidak sungguh-sungguh meninggalkan dia di sana.


“Lalu pak?”


Sopir sedikit curiga dengan Queen. “Tidak di temukan mbak, konon istri pengusaha dari bandar Lampung.... itu...”


Bapak sopir memang terlihat waspada, “maaf mbak bukannya saya curiga, tapi sebenarnya curiga itu di perlukan untuk menjaga, dan kewaspadaan itu wajib bagi kami pejuang jalanan.”


Queen hanya terdiam, memperhatikan keadaan dirinya yang memang mencurigakan.


“Mbak mau ke mana?”


Queen tidak langsung menjawab. Pandangannya nanar, lelah dan juga mulai terasa badannya sakit semua. “Bapak sendiri saja?”


Pakaian Queen campang camping, terdapat luka memar dan goresan yang tidak terlalu parah di mana-mana.


“Saya tidak tau apa yang terjadi sebenarnya,”


Penjelasan Queen terlihat pasrah. “Tiba-tiba saya ada di jalanan dalam keadaan tergeletak.”


Pak sopir hanya mendengar penjelasan Queen dengan menganggukkan kepala, entah mengerti atau pura-pura mengerti.


Asap rokok mengepul dari bibir hitamnya.


“Apa yang terjadi?”


Bukan wanita jahat atau komplotan preman, penipu bahkan rampok yang di pikirkan si sopir, melainkan bangsa lelembut yang coba menganggu perjalanannya.


“Saya juga tidak tau,”


(Queen, malam ini aku sengaja tidak membawa kamu ke dalam ilusi, menghipnotis kamu agar kamu menjadi pengantinku. Aku berharap Kamu bisa mengingat aku saat kamu pergi.) Siapa?

__ADS_1


Apa ini mitos? Apa ini hanya sekedar mimpi belaka?



__ADS_2