The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
MEMBUKA DIRI


__ADS_3


INI ADALAH malam yang panjang. Queen membuka matanya, remang-remang. Dia berada di ruang kantor. Ada Iqbal duduk di sudut ruangan menunduk memainkan ujung jari kakinya.


Queen mundur, “ini pasti mimpi lagi.” Ujarnya.


Pinggulnya menyentuh tepian meja kerjanya membuat wanita itu tidak bisa mundur lagi.


Iqbal menatap wajah Queen mesum.


“Iqbal! jangan kurang ajar kamu, saya bisa teriak.“ gusar Queen. Tetapi Iqbal bangkit berjalan mendekat dan semakin mendekat.


“Iqbal...!” (ini pasti mimpi!)


Queen menyilangkan kedua tangan tepat didepan dada saat Iqbal sudah berada di depannya untuk menutupi payu- daranya.


Iqbal terus mepet Queen yang memang sudah tidak bisa bergerak.


Queen berusaha mendorong tubuh Iqbal, tetapi pemuda itu menahan lengan Queen ke belakang.


“Blitar...!”


Otak, hati, dan pikiran sedang tidak sinkron. Queen berteriak sekeras-kerasnya.


Tidak sadar Queen justru memohon pertolongan pada lelaki misterius yang sudah menguasai dirinya beberapa pekan ini.


Iqbal berhenti, menatap wajah Queen dengan raut memelas. Tiba-tiba tubuh Iqbal berasap

__ADS_1


Semakin tebal dan akhirnya menghilang.


“Kan! Benar... Hanya mimpi!” Ucap Queen semakin kesal dengan banyak kejadian ganjil yang terus saja menghantuinya.


Queen membereskan buku-bukunya. “Sepi amat, pada ke mana?”


Dengan tergesa Queen melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Iqbal berdiri di depan pintu ruang guru. Sepertinya sedang gelisah.


“Ngapain kamu?” Queen melengos melewati Iqbal yang berdiri mematung. Dari gerakan Iqbal terlihat sekali ia ingin memeluk Queen.


“Awas...!” tidak peduli wajah memelas Iqbal, Queen langsung melangkah pergi untuk pulang.


“Bu...? Ibu tidak apa-apa kan?”


Hiiiiiiiih...! ”apa...an...”


Iqbal hanya bisa menahan nafas panjang dan berat. Queen wanita yang misterius menurut Iqbal. Memiliki wajah cantik dengan dagu lancip.


Di awal pertemuan Queen seolah sudah mengenal dan menghajarnya habis-habisan dengan sikap sok judesnya.


Belum ada yang datang ke ruang kantor. Semua guru masih melaksanakan tugas masing-masing.


“Bu, saya ingin bicara sebentar.” Iqbal duduk di seberang meja kerja Queen. Sementara Queen berdiri cukup jauh memainkan handphonenya. Seolah-olah menunggu sesuatu.


“Ada apa sebenarnya sama ibu?”

__ADS_1


Queen melirik Iqbal dengan ekor matanya. Dia hanya melengos membuang wajah.


“Apa salah saya? Dan ayok kita diskusikan masalah ibu, siapa tau saya bisa bantu.”


Queen menatap wajah Iqbal. Mencari keseriusan dalam wajah culun yang sudah membuat dirinya di kuliti habis-habisan.


Cukup lama berfikir akhirnya Queen memutuskan untuk duduk kembali di kursinya.


“Bapak percaya takhayul?” Queen meletakkan tangannya di atas meja, menunggu jawaban dari Iqbal yang tampak serius. Jangan sampai pertanyaannya akan membuat dia malu untuk ke sekian kalinya.


“Percaya, ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal sehat manusia di muka bumi ini.”


“Saya sedang di teror...” ragu-ragu Queen bercerita tentang awal mula sampai kejadian memalukan yang mengira Iqbal adalah sosok misterius Blitar selama ini.


Iqbal manggut-manggut mengerti. “Jadi begitu?”


“Yup...” Queen melihat layar handphone menyembunyikan perasaan malu. “Tapi,...saya tidak seberapa percaya dengan hal semacam itu, jadi ragu itu semua apa.” Ucap Queen lagi.


“Kemarin pas ibu ngamuk, saya melihat sosok misterius di belakang ibu memang.”


“Oh ya? Bapak ada solusinya?”


“Saya akan konsultasi dulu sama rekan -rekan yang memiliki pengalaman semacam itu, siapa tau...”


“Assalamualaikum...?” Indri dan buk Riswanti muncul di pintu. “Ngapain kalian berdua?” tanya buk Ris curiga.


“Menurutmu ibu?”

__ADS_1


Senyuman Buk Ris semakin mengucilkan, “hayooo...ngapain?”



__ADS_2