
JUM'AT kegiatan sekolah masih di jadwalkan Queen setelah anak -anak lelaki menunaikan sholat Jum'at untuk menambah jam pelajaran. Menimbang nilai anak-anak yang harus memenuhi standar kenaikan kelas.
Pukul sebelas siang di mana anak didiknya sedang beribadah Queen sengaja keluar area sekolah melewati jalan depan rumah Hendra. Berharap dapat melihat buah hatinya.
Queen tidak percaya jika anak-anaknya di pindahkan ke luar negeri.
Atau...
Queen baru terpikir untuk menyusul anak-anaknya ke sekolah mereka. Ini hari Jum'at anak sekolah pulang lebih awal. Mereka juga memiliki banyak waktu di luar kelas. Pada hari Jum'at Alfat akan menunaikan ibadah sholat Jum'at bersama guru mereka. Sementara sekolah Ernando sedikit jauh memakan waktu hampir 10 menit untuk sampai sana
Jika tidak menemukan anak-anaknya makan Queen memutuskan untuk mengajukan banding perceraian secara resmi dan mempertahankan hak asuh anak. Apapun akan di lakukan Queen untuk keluarga kecilnya utuh kembali.
Queen berdiri cukup lama di sebrang jalan, mengintip dari balik bunga kertas yang rimbun. Matanya nyaris tidak berkedip agar tidak kehilangan jejak.
Tiga jam sudah Queen berdiri menunggu. “Ini waktunya anak -anak pulang sekolah, seharusnya mereka sudah sampai.” Bisik hati Queen memberikan semangat.
Ketika Queen memutuskan untuk pergi ke sekolah, saat itulah sebuah mobil yang di kenal Queen masuk pintu gerbang.
“Hendra...”
__ADS_1
Bukan Hendra yang mengendarai mobil itu. Wanita yang sudah merampas keluarga kecilnya turun dengan kemenangan.
Getir, air liur Queen merembes masuk ke tenggorokan seperti rasa asam yang membuat matanya terasa panas.
Tidak lama wanita itu keluar dari rumah dengan membawa dua orang anak yang sangat di rindukan Queen.
Hati seorang ibu. Queen berlari menuju mereka dengan perasaan haru biru,
“Alfat...!"
“Ernando ...!”
Tidak peduli dengan keadaannya, Queen berlari menghampiri mobil yang sudah melaju pelan.
Queen mengejar mobil itu dengan susah payah, mengapai pintu mobil dengan nekat.
Bukan memperlambat laju kendaraan nya, wanita yang mengemudikan mobil justru tancap gas meninggalkan Queen yang terhempas ke tanah dan terkilir.
“Tolong...”
Huaaaaa...! huaaa...! huaaaa...! "mas Hendra...!"
__ADS_1
"Maaaas...!huaaaaa... huaaaaa...mas...!Hendra...!" Queen meraung keras. Hatinya hancur, melihat buah hatinya pergi dengan menatapnya tajam. Mata Alfat begitu rindu padanya
huuuu...huuuu... Queen mencoba berdiri pelan, menahan sakit di pergelangan kakinya.
Queen berpikir lama, ragu untuk menghampiri pintu rumah dua lantai itu. Namun kerinduan seorang ibu memaksanya untuk memiliki keberanian lebih. Dengan menyisipkan harapan yang menjadi gambaran.
Queen mengetuk pintu dengan pelan, namun lama kelamaan menjadi gedoran kuat. Terbawa suasana perasaan hatinya...
"Assalamualaikum...! Assalamualaikum..."
Queen terus mengetuk, memencet bel rumah dengan tanpa lelah. Tidak ada pergerakan apapun dari dalam. Rumah terlihat sunyi. Kemungkinan memang tidak ada penghuninya.
Akhirnya Queen memilih untuk pulang ke rumah dengan hati yang tidak dapat digambarkan.
Sesampainya di rumah Queen merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Bahkan di sekolah pun dia terus dihantui bayangan Blitar. Lelaki misterius yang datang di alam bawah sadar Queen saat ia tersesat di alam astral.
Alam astral...apa benar? Queen terdiam cukup lama, memikirkan banyak hal. Menatap langit-langit kamar yang kosong.
Sejak ia di tinggalkan suaminya di perjalanan saat itu, Queen terus di hantui banyak adegan misterius. Hantu kah? Apa mungkin Queen sekarang sudah mulai percaya dengan yang namanya Mitos.
__ADS_1
Bullsit! Itu hanya halusinasi saja! Tepis Queen.