
Blitar tersenyum, “Queen, aku memiliki bulan yang indah di tahun ini, aku memiliki kenangan yang tidak aku rasakan selama ribuan tahun. Bisakah kamu tetap menemui aku di bulan yang sama di tahun depan? Di sini.”
Queen melepaskan diri dari pelukan Blitar, menatap skeptis pada raut tampan yang telah merebut hatinya dari Hendra hanya dalam waktu satu bulan. “Ada apa?”
Mata Blitar tak secerah lampu hias di ruangan mewah itu. Mata itu redup, “jika aku musnah nanti malam, maka aku tetap suamimu di tahun yang akan datang.”
Queen hanya wanita biasa, yang tidak mengenal dunia magic bahkan tidak percaya dengan dunia gaib. Takhayul.
Di hadapannya berdiri memeluk dirinya dengan nyata adalah makhluk gaib. “Mahkluk apa sebenarnya kamu?”
“Aku... Adalah mahkluk setengah manusia dan setengah iblis, suka tidak suka, mau tidak mau kamu adalah istriku,”
Queen tersadar dari lamunan, berpikir keras bahwa dia masuk ke dalam ilusi terlalu banyak.
“Aku bersuami, bagaimana bisa seperti yang kamu katakan?”
“Tinggalkan dia, atau dia akan aku cabik-cabik.”
Queen mencoba menyadarkan diri, ini hanya ilusi mimpi yang setiap dia memejamkan mata akan datang, meskipun mimpi yang berbeda-beda, tapi tetap lelaki itu yang menjadi aktor nya. “Aku memiliki dua orang anak, dan kita berbeda dunia.”
“Aku tidak menerima masukan apapun, aku mau kamu dan akan aku singkirkan semua penghalang.”
Queen menatap wajah Blitar yang mengancam. Lelaki tampan itu menjadi sangat menyeramkan. Queen mencoba melepaskan diri yang masih erat dalam pelukan.
__ADS_1
“Tidak semudah itu,”
“Tidak ada yang sulit untuk ku.”
Blitar menjentikkan jarinya di depan wajah Queen, seketika Queen menjadi penurut.
Lagu melow terdengar mengalun mengiringi keduanya menikmati malam romantis. Berdansa ala orang Belanda, lalu bersulang dan menikmati makan malam.
Waktu berjalan maju, tengah malam akan berhenti beberapa detik lagi. Blitar di landa gusar. Memapah Queen kembali ke dalam kamar
Queen yang setengah mabuk. Lagi yang terdengar mellow seperti sengaja dijadikan begroun malam romantis mereka agar Queen lebih hanyut dalam suasana.
Tidak dapat di bohongi, hati selalu jujur. Meskipun hidup dalam dekapan hipnotis dan di jarah mentah-mentah oleh mahkluk asing, Queen tetap menikmati.
Queen membuka mata, dia masih berada dalam bak mobil yang melaju seimbang.
Nafas wanita yang memiliki rambut sebahu itu tersengal, keringat mengucur deras dari pelipisnya. Mimpi itu datang lagi, di ulang-ulang dengan adegan bersambung.
Melepaskan diri dari alam gaib bukan keahlian Queen, tapi Queen seorang wanita yang taat beribadah.
Alangkah baiknya jika aku berdoa memohon pertolongan Allah. Queen memejamkan mata, membaca ayat kursi dalam hati, dan surat-surat pendek yang di ingatnya.
"Aku datang lagi, Queen ini bukan mimpi, ini adalah kenyataan, kehidupan nyatamu."
Blitar tidak mengunakan hipnotis untuk membuat Queen rela. Dengan sengaja Blitar melepaskan diri dari ikatan gaib. Melihat wajah Queen tersenyum puas dalam keadaan sadar.
__ADS_1
“Aku pergi untuk kembali,” tubuh Blitar memudar seiring waktu yang mulai meninggalkan tengah malam.
Queen meraub bayangan Blitar yang kian hilang.
Kesedihan yang mendalam saat menyadari bahwa kini ia sudah sendiri. Istana itu tinggal kekosongan.
TOK...!TOK...!
Seorang pria berkacamata mendatangi Queen. Membereskan kamar dan memberikan baju yang di pakai Queen saat ia datang.
“Kami akan mengantarkan kakak pulang,”
Eh, Queen mengangguk. Mengapa perpisahan dengan Blitar begitu menyakitkan. Lebih sakit dari perpisahannya dengan Hendra.
Hendra... Queen mengingat suaminya yang kejam. (Tinggalkan dia atau aku akan mencabik-cabik nya.) Teringat ancaman Blitar. (Tapi dia hanya manusia jadi-jadian.)
“Alhamdulillah," Queen kembali membuka mata, rupanya mobil yang di tumpangi Queen sudah sampai di sebuah pasar lokal.
Meskipun masih gelap Queen tidak melupakan ada di mana ia sekarang.
"Alhamdulillah, terima kasih pak, Saya sampai di sini juga."
Queen menjabat tangan pak sopir dan lekas berlalu.
__ADS_1