The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
NOSTALGIA


__ADS_3


SABTU malam, Hendra membawa Melly untuk menemaninya di acara resmi perusahaan.


“Halo tuan Hendra, kami turut berdukacita atas meninggalnya istrimu yang cantik itu,”


Bram partner bisnis Hendra datang menemui Hendra dengan segelas wine.


Hendra menyambut kehadiran Bram dengan mengayunkan gelasnya. “Thanks kawan,”


Bram menyeruput wine nya dengan pelan.


“Sayang wanita secantik Queen harus pergi dengan cepat, padahal aku berharap bisa memilikinya.”


Ha ha ha...


Hendra tertawa renyah sedikit tersedak menimpali lelucon Bram.


“Kamu tidak ingin mengenalkan wanita barumu?”


Hendra tersentak menyadari. “Melly perkenalkan ini best friend aku, Bram Wiranata. Ingat...?”


Melly menyambut Bram dengan anggun, sembari mengingat-ingat. Tapi akhirnya Melly menggeleng Pelan dan kecewa.


“Tidak usah sedih, aku memang bukan dari golongan konglomerat seperti Hendra, juga bukan dari mahasiswa dengan otak Jenius. Sudah sewajarnya nona cantik tidak mengenalku.” Bram tersenyum sarkasme,


“tapi aku tau kisah kalian berdua.”


“Oh ya,...?”

__ADS_1


Merasa ada angin segar Melly tersenyum senang. “Apa kamu tidak membawa istrimu?”


“No, aku belum kebagian,”


“Wooow...young woman's dream man..”


Ha ha ha....


Kedua manusia berlainan jenis itu tertawa renyah, obrolan keduanya mulai menunjukkan gairah.


“Balikan?” isyarat kaliamat Bram untuk hubungan cinta Melly dan Hendra. “Yes,”


Bram terkekeh kecil, “ belum ada 40 hari sudah dapat ganti aja.”


Bram mengacungkan gelas wine nya, menyetak pelan gelas wine Melly. Denting gelas terdengar sumbang. Bram berlalu begitu saja dengan senyum sindiran.


Dinginnya pesta malam membekukan. Pukul 12 malam tak di hiraukan Hendra.


Hendra yakin Melly jodohnya yang tertunda. Saat Queen sudah pergi jauh, dengan ajaib Tuhan mendatang Melly padanya.


Cinta lama bersemi lagi, judul yang cocok untuk kedua insan yang sedang bernostalgia mengenang masa lalu.


Hendra mendengar Melly berceloteh tentang masa-masa yang pernah mereka lewati. “Kamu tau nggak, aku tuh paling benci sama kamu yang nggak punya pendirian.”


Melly tertawa cekikikan, manakala ada kejadian lucu mereka lakukan di masa lalu.


“Aku malah ene’k kalau dah lihat kamu ngobrol sama cowok. Benci gw,”


“Why?” Melly memukul punggung Hendra dengan keras.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Hendra sengaja memelankan laju mobil. Dia menyusuri jalanan sembari mengedarkan pandangan.


Hendra ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua saja dengan Melly.


“Di rumah terlalu banyak orang, tidak ada waktu untuk kita, akan sulit untukku bersamamu,” Ucap Hendra Berlahan.


Melly hanya tersenyum mendengar omongan Hendra yang tak lebih dari keluhan. “Aku tak rela jika waktu terhabiskan sia-sia,” ujarnya lagi mengharap. “Apa kamu tidak merindukan aku?”


Melly menoleh, melihat samar pada lelaki yang di rindukan cukup lama.


“Bagaimana jika kita berhenti di jembatan panjang itu.” Hendra maksud yang di tunjuk Melly. Dia menggumam setuju.


Sekarang Hendra paham betapa dia rindu akan perempuan. Sebenarnya siapa yang di cintai Hendra?


Mobil berhenti tepat di sisi jembatan gantung.


Di tempat yang sedikit ke sudut ada kursi panjang menghadap pantai.


Pantai yang memiliki luas kurang lebih 10 meter sepanjang-panjang menemani keduanya melepaskan rindu.


“Sudah sangat lama aku tidak tidur di pangkuanmu Mel,” Hendra memejamkan mata, menarik tubuhnya untuk rebahan di kursi berbantalkan paha Melly yang mulus dengan rok mini nya. “Kamu cantik, tidak berkurang se inci pun dari dirimu yang dulu.”


“Hen,...kamu ingat nggak saat lahir anak pertamamu aku datang.” Melly membelai lembut rambut Hendra, melukis kebahagiaan yang di nantikan sejak lama.


Hendra mengangguk sembari matanya tertutup. “Saat itu aku sangat merindukanmu.”


Hendra menggenggam tangan Melly, mengencangkan pegangan nya. Hendra tau, saat itu Hendra justru memeluk Queen. Dan Hendra pun ingat Melly menghilang entah ke mana. Di lihat dari wajah Melly saat itu, Melly jelas terluka. “Maafkan aku,”


Melly berdehem lirih, “aku yang bersalah, mengapa kamu yang minta maaf.”

__ADS_1




__ADS_2