
Blitar mengibaskan tangannya. Menatap wanita yang tertidur pulas di atas lantai tanah yang lembab dan kotor.
Wanitanya tergeletak bagai tak bernyawa. (Jika aku musnah nanti, akankah dia masih milikku? Akankah tahun depan di bulan yang sama kami bertemu lagi.)
Blitar tidak memiliki kesempatan untuk terus tinggal berdampingan dengan wanitanya.
Setelah kemusnahan, dia hanya bisa tinggal di lereng gunung pesagi kecil di sanalah rumahnya. Dia hanya bisa menunggu satu tahun untuk bisa melihat dunia lagi.
Di tatap wajah cantik Queen dengan guratan-guratan kesedihan.
“Apa yang bisa kami lakukan kak?”
Anton, sebagai adik pertama Blitar tidak bisa menolak untuk andil memikul beban kesedihan kakaknya. Apa yang terjadi pada Blitar pun demi kebebasan mereka semata.
"Tidak aku sangka sekejam ini takdir mu kak."
...
“Kenapa Kakak tidak jujur siapa Kakak sebenarnya? kenapa kaka tidak membiarkan kakak ipar tau? Bukankah itu lebih baik!"
__ADS_1
Blitar menghela nafas dalam-dalam. “Belum waktunya. Kamu lihat ekspresi nya saat sadar tadi?”
“Setidaknya Kakak ipar bisa mengunjungi kakak di sini.”
Blitar membuang pandangan, terkekeh kecil, mengulangi kenangan yang terlewat. “Apakah ini sudah masuk tengah malam?”
Blitar menghembuskan nafas berat. “Aku tidak ingin dia tau terlalu banyak, aku takut dia akan lari. Dunia kita jauh berbeda, kehidupan jelas berbeda.”
“Senja telah sempurna, kami harus kembali pada tempat kami.”
“Anton...(panggilan Blitar untuk adik ke satu nya), sudah kamu atur bagaimana Queen pulang?”
“Saya sudah minta anak-anak untuk menunggu kakak ipar,”
“Lalu, apakah ini akan lewat begitu saja?”
“Di luar sana banyak anak-anak yang bisa di tugaskan untuk menjaga kakak ipar. Aku sudah menempatkan mereka sebaik mungkin, seperti yang Kakak inginkan.”
“Aku ingin tetap di sini, menunggu sampai Queen mendapatkan jalan pulang dan aku baru akan kembali! kak...kami akan menjaga kakak ipar sebaik-baiknya."
Tatapan tajam Blitar mengintimidasi keadaan, membuat semua adik-adiknya dan anak buahnya terdiam bungkam. Malam yang semakin buram, menyisakan kepedihan perpisahan.
__ADS_1
Ternyata Queen tidak bisa menerima kenyataan antara ada dan tiada.
“Apakah tidak sia-sia kak, membiarkan pertemuan yang lama kakak nanti lewat begitu saja?”
Blitar menutup matanya, nafasnya memburu, mengecap kecewa yang paling dalam.
“Menurutmu seperti apa rasanya jadi aku? Aku sudah tidak punya hati! Bahkan detak jantungku pun sudah berhenti.”
Anton berdiri tepat di dua langkah sebelah kanan Blitar. Menatap Queen yang tergeletak berantakan.
“Seandainya aku bisa melangkah ke sana aku ingin mendekapnya erat Anton.”
Ya...di dunia astral Blitar hanya bisa hidup di lingkungan yang sudah di beri garis melingkar oleh takdirnya. Blitar hanya memiliki satu bulan di bulan awal tahun di setiap tahunnya untuk nyata sebagai Mahkluk yang lengkap dengan jasadnya.
"Betapa aku ingin lepas dari lingkaran ini. Betapa lelahnya berputar di permainkan oleh takdir. Karma ini sungguh sudah sangat menyakitkan bagiku, akan lebih baik aku mati dari pada seperti ini."
Queen terbangun dari pingsannya, wanita itu tampak linglung. Blitar melompat untuk menghampiri, namun terhempas sampai dua meter. Tubuhnya terjerembab di antara semak belukar, meringkuk meraung dengan lolongan keras.
"Kak...!" Anton mengejar Blitar membantu untuk segera bangkit . Tubuhnya terjungkal ke tanah.
"Anton dan kalian semua! saat malam telah berganti aku ingin kalian menjaga Queen dengan jiwa raga kalian."
__ADS_1
*****