
Queen terhenyak sesaat, kakinya ragu-ragu untuk melangkah. Sekujur tubuhnya terasa kaku karena ketakutan mendera seperti gelombang musim dingin. Malam membekukan.
Awalnya berlari adalah tujuan yang begitu menggebu di hati kecil Queen. Namun, mendapatkan kenyataan nyalinya menciut seketika.
Hutan belantara, pohon-pohon sebesar tubuhnya bahkan lebih besar berdiri tegap. Queen menatap langit dengan Kegelapan tanpa cahaya satu pun. Bintang tidak ingin muncul menghiasi langit, atau bisa jadi ketakutan karena seramnya keadaan.
Dengan gemetar Queen menoleh kebelakang bertanya dalam diam, dan mengharapkan jawaban dari Blitar.
Inilah kenyataan yang terjadi.
Tidak ada apapun di belakangnya, istana khayalan di belakang Queen lenyap, kecuali pohon rindang dengan banyak cabang dan akar menjulur ke segala arah.
Hal yang tidak berubah pada Queen adalah pakaiannya. Membuktikan bahwa yang terjadi padanya benar -benar nyata.
(Apa ini? Apa yang terjadi? Mas Hendra...!)
Queen meringkus tubuhnya dengan melipat tangan ke dada, menyesal dalam ketakutan.
Grrrrr...grrrrr...
Suara erangan panjang terdengar dari balik pohon-pohon. Queen tersentak melihat ke segala arah. Mata-mata menyala di kegelapan malam.
“Blitar...?”
Tidak ada komando di hatinya yang memerintahkan naluri menyebut nama itu, semua terdengar seperti permohonan.
Hati siapa yang tau. Meskipun semua seperti ilusi, namun rasa yang di tinggalkan oleh Blitar nyata bagi Queen.
Queen menentang keadaan dengan keras, menyadarkan dirinya bahwa tidak ada yang namanya mahkluk gaib atau tempat astral. Itu semua hanya mitos.
Tapi ketakutan lebih nyata menguasai jiwanya.
“Blitar...”
Queen mundur sampai tubuhnya benar -benar terjebak di pohon rindang yang ada di belakangnya. Lari...!
Dengan mengendap pelan Queen merangkak menjauh. (Mahkluk apa itu? mengerikan...) Dalam hati Queen menyesali Perbuatannya. (Seadanya aku terus terjebak di istana khayalan itu?... di sana... apa yang terjadi?) membayangkan istana Blitar, membayangkan sentuhan hangat Blitar yang tidak pernah ia dapatkan dari Hendara, ada sesal yang tinggal di benaknya.
__ADS_1
Queen menoleh ke kiri, ke kanan. Mahkluk malam itu berada dimana-mana.
"Blitar, temuin aku sekali lagi! Ku mohon..." Queen memohon dalam hati. Suaranya merintih penuh harapan dalam ketakutan, meskipun otak'nya mengatakan bahwa harapan yang ada di hatinya adalah kesalahan.
Seketika hawa hangat memeluk tubuhnya. Suara lembut yang di kenalnya terdengar pelan dan jelas. Suara yang menemani dirinya hampir setiap hari.
"Blitar...!" Queen mencoba mengencangkan suara, berharap Blitar menjadi dewa penolong. "Benarkan ini nyata?"
"Berjalanlah ke depan aku akan menjagamu."
Ragu-ragu Queen berjalan seperti instruksi suara itu.
Mata-mata yang menyala tajam seolah semakin mendekati dan ingin menerkam.
“Oh Tuhan, kirimkan aku penolongmu.” Queen mendekap erat tubuhnya, meraup wajahnya gusar, “Blitar aku menyesal, tolong aku...”
Ucap yang terdengar begitu indah bagi jiwa yang memuja. Seperti halnya Blitar. Kekosongan hidupnya, kesunyian jiwanya. Menjadi sakit yang abadi.
KISAH CINTA KITA
Kisah cinta kita
Dihasut rindu ditikam luka
Dirajam derita didera sembilu
Hingga membuat rasa tak lagi bicara
Berdarah dan bernanah
Hanya bisa menjerit dalam sakit
Begitu dalam sesal ini
Membuat aku terpuruk
meringkuk dalam sepi sendiri
__ADS_1
Kisah cinta kita yang penuh luka
Di cabik-cabik keadaan
Terkoyak lah kepercayaan
Untuk kita yang tak lagi bisa bicara
Tetap merengkuh mimpi dalam rindu
Mendekam berpelukan dalam sepi
Menikam rasa seorang diri
Kisah cinta kita
Berada di dasar samudera
Memeluk dingin
tertawa bersama debur ombak yang menghantam karang
Seperti rintik hujan yang tak teruraikan
Inilah kisah cinta kita
Dari kisah cinta yang sederhana
Menjadi hujan yang penuh warna
Menanti pelangi sebentar lagi
Lalu hancur dalam debur
Yang tertinggal hanya luka
Tak ada habisnya
Kisah cinta kita
__ADS_1
Bersembunyi dalam seribu luka
Arjuna 26062023/22.12