The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
PADA LUKA AKU MEMINTA


__ADS_3


Waktu mempertemukan lagi dan lagi. Bayangan lelaki misterius yang timbul tenggelam dalam mimpi, bersambung dari satu kisah ke kisah yang lainnya. Seperti sesuatu yang sengaja di siar kan, menjadi topik hangat di kepala Queen.


Iqbal, lelaki misterius yang datang menjadi warga baru di lembaga pendidikan tempat di mana Queen menyalurkan bakatnya di bidang mata pelajaran sejarah. Lelaki yang memiliki wajah dan semua milik Blitar, tapi...


Queen bergegas ke kantor, meninggalkan setumpuk buku-bukunya...


“Iqbal...?!”


Buk Riswati guru bidang studi geografi menatap Queen dengan memaksa. “Ada apa Bu?” tegurnya terganggu.


“Mana guru baru itu?” bersama dengan berakhirnya ucapan Queen, yang di cari muncul di pintu.


Eh...”ada apa Bu? Mencari Saiya...”


Queen membalikkan badan melihat ke arah pintu. “Siapa? Saya cari Pak Iqbal.”


“....itu Saiya...”


Lelaki yang bernama Iqbal tampak heran melihat Queen yang mulai kebingungan. Lelaki itu melangkah bimbang melewati Queen yang berdiri sebal.


“Ada apa Bu?”


Menimbang perlakuan Queen selama ini yang tidak segan-segan memukul bahkan menghardiknya dengan kasar Iqbal memilih lebih hati-hati dalam berbicara.


“Bukan kamu! Saya cari pak Iqbal, guru matematika baru... itu...”


“Itu saya, yang ibu tuduh menguntit itu saya.”


Lelaki yang bernama Iqbal itu menatap Queen. “Iya, Queen, dia Iqbal...” Indri menimpali ucapan Iqbal, “emang ada berapa Iqbal di sini?” ucap Indri lagi.


“Bukan yang ini, tapi Iqbal yang mirip banget sama Bli...”


Iqbal yang wajahnya nyaris seperti pinang di belah dua jika di sejajarkan dengan Blitar itu yang di maksudkan Queen.


Awalnya Queen mencari Iqbal untuk memastikan jika Iqbal memiliki tato yang sama dengan Blitar. Tapi kemudian Queen di buat tidak berdaya dengan kenyataan. Iqbal tidak memiliki wajah yang seperti ia lihat pada beberapa kali pertemuan. Bahkan Iqbal yang ini memiliki wajah berbanding terbalik, sama sekali tidak ada kemiripan dengan Blitar.

__ADS_1


“Astagfirullah alazim,” Queen mengusap wajahnya berkali-kali, memastikan penglihatannya.


“Queen, ada apa sih? Semenjak kejadian itu kamu terus aja aneh.”


Indri menghampiri Queen yang terlihat bermasalah.


“Beberapa hari aku melihat kamu mirip seseorang. Menuduh mu dengan kasar. Jadi, bukan kamu yang salah, ternyata mataku lah yang salah.”


Queen mundur sampai tubuhnya terasa mentok di meja, duduk dengan nafas tertusuk, sakit. Kepalanya tiba-tiba sangat pusing, bumi berputar secara acak.


Astagfirullah alazim.... astagfirullah alazim... astagfirullah alazim...


Queen menekan dadanya, menatap Iqbal yang langsung mengapai tubuhnya yang limbung.


“Bu... Queen! istirahat dulu...”


Suara-suara mendenging di telinga Queen, “apa aku sudah gila?” ucapnya terbata, “bisakah? Adakah yang bisa membantu ku,”


DI KAMAR remang cahaya. Mata lelaki itu kosong dan tajam seolah menikam jantung. Detak jantung Queen yang awalnya normal menjadi lebih cepat.


Dug...! dug...! dug...!


Sosok yang meringkuk di sudut kamarnya bersimbah darah membekas luka di mana-mana itu seperti di kenali oleh Queen, tapi siapa...? "Itu apa?" Ucapnya terbata dan Ketakutan...


Tubuh bergelimang darah itu menatap Queen dengan sorot mata memohon.


“Si...si... siapa?”


Tubuh itu tertatih mencoba bangkit. Tangannya menggapai Queen dengan panggilan kecil memelas.


“Queen...ini aku...”


Terbata-bata lelaki itu memanggil Queen. Tubuh kurus berkulit coklat gelap dengan rambut panjang berantakan, jambang awut-awutan, seperti orang gila.


“Si...si...siapa? Kamu Siapa?!”


Queen mundur menjauh. Aroma anyir darah menusuk hidung bercampur bau busuk yang menyengat.

__ADS_1


“Ibuuuuu...!”


Queen tersentak! melihat sekeliling. Dia berada di ruang UKS. Rupanya dia tertidur.


Tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali tumpukan buku-buku dan peralatan kesehatan seadanya.


Heeeem... Queen bergumam pelan. Hanya mimpi.


Dengan tergesa Queen membereskan pakaian dan jilbabnya yang terkesan berantakan. Lalu melangkah keluar hendak ke ruang guru untuk segera berpamitan pulang.


"Bu, sudah baikan?" seorang lelaki yang di kenal Queen berdiri khawatir di depan pintu. Segelas air putih di tangannya ia sodorkan. "Minumlah,"


Awalnya Queen ragu, tapi tenggorokannya memang terasa kering, seolah ia habis berlari ribuan mil memaksanya untuk menerima kebaikan Iqbal. Memalukan! Pikirnya dalam diam.


"Duduk lah, aku ingin bicara." lelaki sederhana yang sempat di katakan misterius oleh Queen itu menyodorkan kursi kayu pada Queen. "Alangkah baiknya ibu bercerita sedikit padaku, siapa tau saya bisa membantu."


Queen duduk, tapi dia tidak merubah ekspresi wajahnya yang datar. Melirik Iqbal saja Queen merasa enggan.


"Ada apa ibu ini? Beberapa kali kita bertemu ibu seperti seseorang yang sedang di ganggu mahkluk gaib. Bahkan kemarin itu, saya bisa lihat dengan nyata, ada aura gelap di belakang ibu."


Queen mendengus sedikit kesal bercampur kurang senang.


"Memang apa yang Bapak lihat? Hantu? Mahkluk jadi-jadian? Atau memang otakku yang salah?!"


"Bu, coba buka hati sedikit, mari kita diskusi."


Queen tidak menjawab apa yang di katakan Iqbal, matanya terasa panas. "Apa bapak tau apa yang saya alami?"


Indri turut bergabung dalam obrolan keduanya. Menarik kursi dengan pelan agar suaranya tidak mengaggu konsentrasi obrolan Iqbal dan Queen. Meskipun indri kurang tau dunia magic, tapi Indri pun tidak bisa menyangkal tingkah laku Queen yang berubah aneh akhir-akhir ini. "Coba bercerita dengan kami, siapa tau kami bisa membantu ibu,"


"Saya sedang hancur... hancur dan se...hancurnya! Anak saya pergi! suami saya berselingkuh dan saya di kejar bayangan mahkluk astral!"


Hiks... Hikss ...hiks... hikss...


Queen tersedu-sedu...


Huaaaaa...huaaaa...

__ADS_1


Akhirnya pecah tangisan Queen di depan teman-temannya. Bebannya yang berat tak terangkat lagi. Di pelukan Indri Queen terus meluapkan emosi sesaatnya pada air mata.



__ADS_2