The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
JANGAN ADA YANG TAU SELEMAH APA AKU


__ADS_3


MALAM mencekam. Queen merasa malam ini sedikit seram. Karena tak ingin bertatap muka dengan hantu Queen memilih menyusul tidur ibunya.


“Heh! Ada apa Queen?”


Tidak menjawab pertanyaan ibunya, Queen menyelusup masuk kedalam selimut. Memeluk ayahnya yang sudah mendengkur halus.


“Menyeramkan Bu.”


Hampir setiap malam Queen tidur bersama orang tuanya. Lama-lama ayah dan ibu merasa terganggu.


Maka pada suatu hari yang baik, ayah berinisiatif memanggil beberapa orang santri dan tetangga untuk membaca surat Yasin di rumah. Zikir bersama pun di lakukan oleh kedua orang tuanya.


“Yah, aku nak mengajar lagi, kemarin telah ketemu kepala sekolah.”


Ayah bahagia dengan keputusan Queen, (mudah-mudahan segera bangkit dari keterpurukannya.)


“Di sana dekat dengan rumah Hendra,”


Queen mengangguk, “siapa tau dapat bertemu anak-anak ayah. Lah rindu anak ayah ini dengan cucu ayah.”


Lelaki yang memiliki nama Haris Fatah itu menghampiri anaknya. Memeluk dan membelai rambut panjang Queen. “Anak ayah adalah anak yang kuat, tambahkan hatimu nak, tetap jadi orang baik, pemaaf dan rendah hati.”


“Ya, ayah,”


Berat. Sungguh berat nian! Hati Queen menghadapi cobaan ini. Berpisah dari anak-anak dan suami yang sangat di cintainya. Mengapa Hendra tidak mencari nya? Mangkinkah dia lupa?


*****

__ADS_1


Napas Hendra tersengal ketika pelepasannya mereda, dengan masih membayangkan kenikmatan tangannya tak melepaskan pelukan.


Beberapa saat kemudian Hendra tertidur lelap dengan senyum di bibirnya.


KESEMPATAN yang di tunggu Queen datang. Bisa bertemu dengan suaminya adalah harapan terbesar Queen.


Setiap hari Queen berangkat ke sekolah pada pagi buta. Berharap bertemu dengan suaminya Hendra. Menjelaskan banyak hal dan berharap keluarga kecilnya bisa utuh kembali. Tidak penting di benci mertua, tidak masalah tidak di terima keluarga besar Hendra. Selama Hendra dan anak-anaknya tidak pergi itu buka hal yang sulit untuk di jalani. Queen terlalu yakin pada diri sendiri.


MOBIL Pajero putih parkir di halaman rumah mewah dua lantai. Hati Queen berdebar, rindu akan suaminya begitu menggebu. Sudah cukup lama Queen berada di seberang jalan. Mengintip seperti maling, mengawasi seperti detektif.


Rumah mewah tampak sepi, tidak ada suara anak-anak meskipun Queen mengawasi sudah beberapa hari.


Demi anak dan suaminya. Queen rela. Tekad Queen mengembara ke dalam strategi yang di rancangannya sendiri.


Seorang lelaki tampan turun dari mobil, (Hendra...) bisik hati Queen bahagia penuh harapan. Namun langkahnya terhenti saat di lihatnya seorang wanita seksi dengan senyuman menawan turun juga dari mobil Hendra.


Hendra dan wanita itu melangkah masuk rumah dengan bergandengan tangan.


Melihat hal itu seketika hancur semua harapan. Rupanya ia telah digantikan dengan yang lain.


Kedua orang itu masuk ke dalam rumah menghilang dari pandangan. Queen tidak bisa menahan diri. Dia berlari menghampiri pintu, mengetuk dengan keras. Hati yang memiliki cemburu dengan bebas dan iri yang mendalam.


“Iya,... siapa?”


Seraut wajah wanita cantik dengan rambut sebahu dengan pakaian yang modis muncul di pintu.


“Aku istri Hendra, mana dia?”


Mata wanita itu berubah seram. “untuk apa kamu mencari Hendra? Bukannya kamu sudah di buang ke hutan.” Melly menyodorkan senyuman manis yang sangat menyayat hati.

__ADS_1


“Pelakor ya kamu?” hampir saja Queen muntah menahan sesak dan kesal. Queen menerobos masuk melihat Hendra sedang menikmati secangkir kopi panas.


POK...!POK...!POK...!


Queen bertepuk tangan bahagia menghampiri Hendra yang terkejut bukan main.


“Queen...” Pangil Hendra terbata-bata. “Ini kamu? Benarkan?”


“Kenapa? Otakmu sudah di cuci ya sama mamimu! sehingga kamu lupa jika aku istrimu.”


“Kamu baik-baik saja?”


“Kecewa...? Kamu pasti berharap aku mati kan?”


“Bukan begitu, aku...”


“Terserah kamu mau apa, aku hanya ingin anakku.”


“Sayang kamu terlambat! anakmu sudah kami kirim ke luar negeri.” Melly menghampiri Hendra, memeluk Hendra dengan begitu mesra.


“Maksusnya?”


Hendra berdiri dengan tegak, membenarkan bajunya lalu menghampiri Queen.


“Maafkan aku, anak-anak aku kirim ke luar negeri, dan aku akan menikah dengan Melly.”


“Lalu aku, bagaimana?”


“Kamu pergi, aku tidak mau bersaing dengan wanita rendahan seperti mu.” Ucapan Melly sungguh terlalu. Tidak memiliki rasa penyesalan sama sekali. "Atau kamu kembali saja ke hutan itu, bunuh diri saja di sana."

__ADS_1


Tubuh Queen terhuyung ke belakang. Menatap nanar pada rumah dan isinya. Dengan bergegas ia melangkah keluar. (Jangan sampai mereka tau seberapa lemahnya diriku.)



__ADS_2