
Wanita yang memiliki kehidupan nyata rumit itu hanya berharap semua akan berakhir baik. Tidak tau apa yang kemudian terjadi lagi, sedetik kemudian, waktu hanya milik Tuhan.
“Mengapa kamu selalu pergi saat pagi? Dan mengapa aku selalu mengantuk setelah engkau pergi?”
Blitar tidak ingin menjawab pertanyaan Queen. Ini adalah malam terakhirnya menghabiskan waktu bersama wanitanya. Akan di sayangkan jika mereka melewati hari yang pendek dengan kesan yang tidak menyenangkan.
“Apa ada hal yang saya tidak boleh tau?”
Ini malam terakhir bersama Blitar sang pemilik kesedihan. “Apakah kamu tidak mengingat kebersamaan kita kemarin?”
Queen menelan ludahnya. Queen mengingat Blitar dengan jelas. Tapi untuk mempercayai bahwa ada dunia mitos, Queen sedikit enggan.
Pertemuan singkat yang menumbuhkan perasaan nyaman, cinta, (impossible!) tidak ada hal semacam itu di muka bumi ini.
Queen sudah mencintai Hendra cukup lama, tergila-gila dengan kakak seniornya sejak masuk menjadi anggota mahasiswa. Akhirnya Tuhan mempertemukan Queen dengan lelaki yang di idolakannya dalam ikatan pernikahan. Siapa yang tidak bahagia? Hendra adalah hadiah teristimewa untuk Queen dari Tuhan.
Mana bisa kehadiran makhluk jadi-jadian menggeser kuatnya cinta Queen pada Hendra.
Queen menggeleng kepala menolak penjelasan sendiri.
Semua kejadian terekam begitu indah. Queen menatap langit-langit malam yang terang. Pak sopir tidak menutup bak mobil, alasannya Langit cerah dan kasian pada Queen yang pastinya sangat pengap.
"Berikan aku bukti bahwa kita memiliki hubungan, bahwa ini buka prank kalian, beri aku pembuktian.”
“Kamu melihat aku sebagai serigala, apa itu bukan bukti.”
Queen berpikir sejenak. Bisa jadi itu setingan kamera, jaman sekarang apa yang tidak bisa. “Aku tetap tidak percaya,”
__ADS_1
“Jawaban apa yang kamu inginkan dariku?”
“Berikan aku pembuktian yang lebih spesifik.”
“Queen malam akan segera berakhir, kamu akan sendiri di sini,”
“Hendra akan menjemput aku!” Queen bersedekap membelakangi Blitar. Lelaki misterius yang sudah membiusnya dalam ilusi cinta. Dan dengan di sadari Queen, Blitar dengan mudahnya merampas cintanya pada Hendara.
“Ingin menolak ku?”
“Kita bukan siapa-siapa! aku dan kamu adalah mahkluk yang baru bertemu, lalu melakukan adegan yang tak lazim. Apa aku salah jika aku khawatir? Apa aku salah jika aku menolak percaya?”
“Menyesal aku menyadarkan mu! Akan lebih baik jika kamu dalam keadaan tidak sadar.”
Uh! Queen terbangun, melihat ke kiri dan ke kanan. Masih berada di dalam bak mobil dengan tumpukan barang dan beratap kan terpal. Huh! mimpi yang serasa nyata.
SETELAH senja. Seperti biasanya Queen akan terjaga dan melakukan aktivitas membersihkan diri.
Malam ini adalah malam istimewa buat Queen. Blitar berkata akan ada acara resmi khusus untuk Queen. Baju hijau muda begitu indah menghiasi penampilannya. Queen tidak bosan memantulkan penampilannya di cermin.
Dari sisi kanan, dari sisi kiri, Queen berdecak kagum dengan dirinya sendiri. “Aku begitu cantik,” ujarnya memuja.
Dua pelayan cantik tersenyum membenarkan rambut dan bajunya. “Apa aku sudah cantik?” kembali Queen memperjelas penampilan dengan pujian mereka.
“Kakak sangat cantik,”
Queen memutar tubuhnya di depan cermin. Membayangkan Blitar akan terkagum-kagum padanya.
“Aku tidak sabar bertemu dia,” ada yang salah di pikiran Queen. Wanita yang memiliki paras cantik itu terus memikirkan bagaimana cara untuk membuat Blitar tidak berpaling darinya.
__ADS_1
Waktu yang di nanti Queen tiba. Ketika langit gelap. Cahaya lampu di kamarnya menyala tidak kalah terang nya dengan rembulan.
Queen keluar seorang diri, berdiri cukup lama di depan pintu.
Busana sutra hijau muda di kenakan Queen sangat serasi. Yang pertama ingin Queen dapat adalah pujian dari Blitar.
Blitar terkesima melihat betapa indahnya Queen. Di sambutnya wanita itu dengan pelukan.
“Malam ini, aku tidak akan menghipnotismu. Kamu bisa memilih untuk tinggal atau pulang. Tapi, tinggallah sampai tengah malam nanti.”
Queen menatap wajah tampan yang memeluknya. Wajah itu bersinar di bawah cahaya lampu yang menyala mewah.
“Aku tidak ingin pergi dari sini,”
Betapa bahagianya Blitar mendengar itu. Namun...”kamu akan kesepian,”
ujar Blitar pelan.
“Aku memiliki anak-anak, mereka membutuhkan aku, tapi aku tidak ingin pergi,”
Ketika tengah malam masihkah kaliamat itu indah? Ketika Queen tau Blitar akan musnah bersama jasadnya, masihkah Queen menunggunya?
“Queen, pertemuan kita sebuah anugerah untukku. Tapi aku tidak memiliki begitu banyak waktu untukmu,”
Queen menyandarkan kepalanya di tubuh tegap yang memeluknya dengan hangat. “Tubuhmu hangat,”
Kecupan manis menyetubuhi kening Queen terasa manis. “Akankah ini terulang lagi?” bisik Blitar putus asa.
__ADS_1