
Blitar. Mengerang bahagia. Hampir dia melompat saking bahagianya.
Di depan ke lima adiknya Blitar kehilangan harga diri. Dia menangis meraung meluap kan emosi yang lama terpendam menjadi gelora yang tak terbendung.
“Sudah begitu lama aku kesepian,” ujarnya penuh harapan.
Di bebatuan cadas Blitar duduk memandang jauhnya batas pandangan.
Hampir saja dia kehilangan akal sehatnya ketika bisa merasakan kenikmatan bercinta bersama wanita yang di culik adiknya beberapa hari lalu.
“Apa dia reinkarnasi istriku?”
Enam lelaki dengan wajah yang menawan memiliki karakter kuat masing-masing. Duduk saling bertukar pikiran.
Notabenenya wanita yang di tangkap adiknya akan menjadi santapan ketika tengah malam tiba. Saat rembulan tembus bulat tanpa celah, ritual tiap tahun akan di langsungkan. Blitar akan meniduri wanita di setiap malamnya sebagai persembahan lalu akan memakannya hidup-hidup sebagai bentuk keputusasaan dan kepuasannya.
Sudah ribuan tahun hidup dalam kegelapan tanpa batas. Akhirnya...
“Kak bersemedi lah, mohon petunjuk pada sang hyang esa.”
Memiliki hidup hanya satu bulan, Blitar begitu tidak rela jika harus berpisah dari Queen.
__ADS_1
“Nanti malam adalah malam terakhir, jika besok aku mengalami musnah lagi, jaga dia untukku sampai bertemu di tahun yang akan datang.”
Anton mencengkeram erat tangan Blitar. Mengiyakan tanpa suara, “ kami akan selalu mengikuti mu,”
“Kalian harus mengikuti apa kata Queen tanpa bertanya seperti kalian mengikuti aku.”
Udara malam senja begitu melow. Membelai lembut rambut Blitar dengan kasih sayang.
“Aku sudah merindukan dia. Kalian tau, setiap malam aku bisa tidur pulas bersamanya, aku bisa menikmati nikmatnya bercinta!” Blitar tidak bisa menguraikan kebahagiaannya.
1500 tahun bukan waktu yang singkat untuk rasa sakit.
Kehilangan orang yang di cintai berkali-kali. Lebih menyakitkan lagi, kenyataan yang memaksa dirinya mengakhiri hidup kekasihnya dari jaman ke jaman dengan cara memangsanya sendiri.
Tidak bisa merasakan nikmatnya bercinta meskipun mencintai, tidak bisa merasakan nikmatnya tertidur meskipun memejamkan mata. Hidup abadi dalam kegelapan hanya ada luka dari pembunuhan. Blitar merasa hidupnya sudah seperti mayat hidup yang tidak memiliki perasaan apapun.
Saat hatinya tak lagi kuat menahan kesepian Blitar akan membabi buta membuat keributan. Membunuh dan memperkosa lalu memangsa.
Akhirnya...
“Aku berjanji akan mempertaruhkan hidup untuk wanitaku.”
Blitar meraup wajahnya, menggeleng tidak mengerti. “Kita tunggu hingga habis bulan purnama nanti malam. Jika aku tidak musnah bersama raga ku. Itu berarti ada apa dengannya? kita harus tau.”
__ADS_1
“Aku akan cari tau siapa dia.”
Hmmm... Blitar mengangguk setuju. “Hati-hatilah aku tidak ingin ada kesalahan untuk yang satu ini,”
“Aku sudah mencarinya ribuan tahun,”
KUTUKAN yang di dapatkan Blitar berasal dari istrinya sendiri. Akibat keinginan Blitar di masa lalu untuk menjadi yang terkuat. Memuja iblis dari lima penjuru dunia.
Mengorbankan darah ibu dan istrinya.
Tidak pernah di bayangkan oleh Blitar, kejayaan yang di dapatkan akan berbuntut panjang, keabadian yang pernah ia banggakan kini menjadi sakit yang tidak berkesudahan.
(“Kamu tidak akan merasa nikmatnya bercinta Selain dengan reinkarnasiku, kamu tidak akan bisa tidur sebelum meminum setetes darahku, dan kamu tidak akan mati sebelum mendapatkan ampunanku.” )
Sudah menjadi tradisi Blitar setiap tahun di malam purnama dalam hitungan bulan purnama awal. Blitar yang telah musnah bersama raganya akan di beri kesempatan untuk hidup normal layaknya manusia selama satu bulan.
Momen itu selalu Blitar gunakan untuk berinteraksi dengan dunia manusia sebaik mungkin, mencari sendiri reinkarnasi mending istrinya, yang konon memiliki tanda lahir bulan sabit memeluk matahari.
Di setiap kesempatan kehidupannya yang singkat Blitar akan pulang ke rumah Kayunya yang berada di hutan larangan gunung pesagi.
Tak bisa lagi di uraikan kesepiannya. Di rumah kayu Blitar akan berendam di air hangat, bersama bunga-bunga, bernyanyi bersama sunyi dengan kidung rindu.
“Coba kakak bersemedi, jika ada petuah dari sang bijak.”
__ADS_1