The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
QUEEN


__ADS_3


''Mas ...!” Queen mengetuk pintu berulang ulang dan memanggil suaminya.


Pintu terbuka. Berdiri adik iparnya Queen yang bernama kholif. Menyusul ibu mertuanya. Wajah mereka terkejut lalu kemudian menunjukkan wajah tidak sukanya dengan beringas.


“Mi...”


“Kamu...!”


Terkejutnya Nurmala melihat Queen yang sudah di nyatakan meninggal dunia ada di depan rumah. Bahkan Queen tidak mengalami luka serius sama sekali.


“Ini kakak ipar, mi?” kholif tidak percaya, “hantu...” kedua wanita jahat itu mundur beberapa langkah. Memastikan bahwa Queen bukan hantu.


“Mami iiiii.....” Alfat berlari melewati wanita yang masih terdiam di depan pintu dalam kejutnya.


“Alfat...”


“Mami...” keduanya berpelukan. Queen mencium anak yang sangat di rindukan nya.


“Ernando...” Queen mengembangkan tangannya untuk memeluk anak sulungnya.


“Mami... Alfat takut! nenek membunuh mami,”


Queen megeleng, dia tahu mereka tidak menyukainya. Tapi untuk melakukan hal gila membunuh. Tidak! Queen belum percaya jika mereka memiliki hati sejahat itu.


"Menyingkirkan dirinya!"


Ernando yang mendengar teriakkan Alfat memanggil ibunya berlari menghampiri pintu.

__ADS_1


Alangkah bahagia anak berusia 6 tahun itu saat melihat wanita yang di depan pintu benar -benar ibunya.


“Mami,...!" dengan wajah yang tidak dapat di lukiskan anak itu menghampiri ibunya.


"Mami mandi dan makan mami, mami pasti lapar, ayok mami...” Alfat menarik Queen dengan memaksa.


“Pergi kamu wanita dungu!” Nurmala menarik tangan Alfat dan menghempaskan tubuh Queen.


“Rumah ini bukan lagi rumahmu!”


“Mi...”


“Enggak ada satu pun yang menerima kamu di rumah ini, kamu pergi atau aku usir!”


“Mi, biarkan aku bertemu bang Hendra, mi,”


“Kamu...”


Nurmala menarik Alfat yang meraung meminta Queen datang menolong.


“Nenek jahat!”


Nurmala tersenyum sinis. Merencanakan penyelesaian yang manis.


Hendra teramat lemah dengan kedua anaknya, Alfat dan Ernanda dapat menjadi senjata Queen untuk melemahkan anaknya.


Nurmala akan meraih Alfat dan Ernando sebagai miliknya, itu lah rencana licik wanita itu. Hendra tidak boleh tau jika Queen masih hidup.


“Kamu itu tidak sepadan dengan kami. Kamu pergi, jangan pernah kamu kembali.”

__ADS_1


“Tapi mi, boleh lah anak-anak ikut aku,”


“Tak! Apa yang bisa kamu buat dengan anak-anak. Cuma seorang guru! Berapa gaji mu?”


Cih... Nurmala meludahi wajah Queen.


“Memang sudah tertunda, tapi Langit akan pastikan hukum karmanya,”


Tidak terhalang lagi oleh wanita mana pun. “Kamu hanya parasit di rumah ini, pergi...sana pergi... aroma tubuhmu sudah mencapai hidungku, busuk!”


Queen kaget, mundur beberapa langkah. Ia memegang dadanya yang terasa seperti akan meledak. Langit berubah mendung dengan arakan yang semakin pekat. Bagaimana bisa seorang ibu dengan Agama yang baik seperti Nurmala melakukan kekejaman semacam ini padanya.


“Tadi itu...” Queen sulit mempercayai bahwa ada manusia sejahat mereka.


Hendaklah melakukan itu? pada wanita sepertinya?


“Alfat kamu akan patuh kan, sama nenek, jangan nakal, ya? Mami bukan tak sayang pada kalian dua, tapi...”


Ernando meronta dari cekalan kholif, “Mami...!”


Queen hanya meratapi nasibnya. Menjauh dari orang-orang yang tidak ingin melihatnya.


Suaranya melembut. Kedua tangan mengembang. “Biarkan aku memeluk Alfat dan Ernando, mi,...”


Kedua mata Queen yang lembab, gelap menatap begitu teduh pada kedua buah hatinya yang menghiba pada neneknya untuk bisa memeluknya.


Hujan turun mengguyur tubuh Queen yang memang sudah teramat lelah. Wanita yang memiliki badan kurus berisi itu terduduk lama di halaman rumah memandang pintu yang telah terkunci rapat.


Melangkah pulang ke rumah orang tuanya adalah tujuan selanjutnya bagi Queen. Jarak yang jauh memakan waktu kurang lebih lima jam berjalan kaki.

__ADS_1


Di bawah guyuran air hujan tubuh Queen luruh ke lantai jalan.



__ADS_2