The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
BLITAR


__ADS_3

Wanita bertubuh langsing dengan body aduhai Queen Er. Di lihat dari namanya sudah bisa di tebak bahwa Queen Er memiliki darah campuran china.


Benar, Queen Er memiliki ibu yang berasal dari negeri sutra China, sementara ayahnya asli orang Padang Pariaman.


Queen Er anak ke dua dari tiga bersaudara Meilin dan Young ER. Keduanya tinggal di negeri asal ibunya. China.


Queen membuka matanya, menatap samar-samar lelaki yang pernah bercumbu dengannya duduk memunggunginya.


Jika di ingat kembali, Queen heran. Bagaimana bisa dia langsung di aduk-aduk oleh lelaki yang sama sekali belum di kenalnya.


Hipnotis! Queen membenarkan tuduhan. Mana mungkin dengan mudahnya Queen membiarkan dirinya di jamah orang lain selain suaminya. Sementara selama ini Queen adalah penganut agama Islam yang taat. Norma-norma agama di terapkan dalam kehidupan sehari-hari begitu ketat oleh sang ayah.


Mengingat pergumulan pertama kali bertemu, Queen bisa merasakan suhu tubuhnya langsung naik. Aneh... Sentuhan itu masih nyata baginya.


Oh tidak...!


Queen mendekap wajahnya malu. Dia duduk Berlahan-lahan berusaha tak menimbulkan suara.


Punggung lebar dengan tato binatang buas itu bergerak turun naik mengikuti irama nafasnya.


“Apa aku masih hidup? Apa aku jadi tumbal pesugihan Hendra? Atau...aku sebenarnya tersesat di alam gaib?” Queen bertanya dengan volume rendah. Berusaha tidak menyinggung pemilik rumah.


Queen pikir lelaki yang ada di hadapannya pasti memiliki tubuh manusia dan wajah serigala.


Dengan menguatkan diri Queen berusaha untuk tidak terkejut saat melihat wajah buruk di hadapannya.


Queen membangun kepercayaan dengan membayangkan aktor utama dalam dongeng pangeran serigala. Queen memiliki spekulasi, suasana seperti apa yang akan di hadapinya.


“Kamu ada di istanaku, bisa di bilang dunia gaib bisa di bilang dunia nyata.” Lelaki itu menolehkan wajahnya.


Oh my God...


Queen terpana dengan pesona lelaki itu. “Namaku Blitar, aku kekasihmu di tahun 1500 Masehi.”


Queen membungkam mulutnya yang tergelak geli bercampur aura terpesona. “Mana ada yang seperti itu?” jawabnya menahan tawa.

__ADS_1


“Ada, ini aku. Dari tahun 1500 Masehi hingga saat ini aku hanya memiliki satu kekasih yaitu kamu. Kamu sudah bereinkarnasi Ntah turunan yang ke berapa, aku masih tetap aku yang dulu.”


Blitar menyeka wajah sembab Queen. “Apa hidupmu sulit?”


Blitar beranjak mengambil sebotol minuman keras yang berbaris di lemari kaca.


“Mau minum?”


Queen menggeleng, “aku tidak pernah minum.”


Blitar mendengus, tetap menikmati minumannya. “Aku begitu mengantuk,”


“Mengapa kamu tidak tidur.”


Blitar menjimpit dagu Queen, menarik wajah Queen untuk lebih dekat.


Dua inci jarak keduanya. Nafas Queen tersengal turun naik. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik bertenaga kecil. Desiran yang mengalir menuju pusat Kenikmatan.


Duh!


Queen menepis lelaki tampan di hadapannya yang mengaku memiliki nama Blitar.


“Idih...gelay.”


Ha ha ha...!!!!


Tawa Blitar terlihat seram, teringat Auman Serigala semalam.


Semalam? Queen baru sadar. “Berapa hari aku di sini?”


“Satu bulan.”


“Astagfirullah...alazim..."


Blitar... Berdiri tegap menghadap jendela. Di pastikan ini bulan purnama.

__ADS_1


Queen heran, mendengar ia sudah berada di tempat itu selama satu bulan.


“Apa yang sudah aku lakukan di sini selama itu?”


Blitar melihat Queen yang kesusahan dengan gerakannya. Bagaimana tidak kesulitan Queen mendapatkan dirinya tidak berbusa sama sekali. Dia bergerak dengan menarik selimut tebal ke sana ke mari.


“Kamu bangun, menjerit pingsan lagi dan seperti itulah seterusnya.”


Queen merengut menyalakan Blitar, “ada serigala sangat besar di sini, bagaimana aku tidak takut.”


“Serigala itu aku. Kamu tidak terlihat takut dengan ku.”


(Mana mungkin aku takut dengan pria setampan itu.)


“Apa benar serigala itu kamu?”


Blitar mengangguk puas. “Datanglah kemarin, temani aku menikmati malam indah ini,”


Queen terdiam, “kamu tau kan konsekuensinya menolak ku?”


Huuuuuuuufffg... tidak mengatakan sepatah kata pun Queen mencoba membungkus tubuhnya dengan selimut, meskipun kesusahan ia mendatangi Blitar.


Berdiri sejajar meskipun ia merasa kecil di samping lelaki yang kemungkinan memiliki tinggi badan 200 cm itu.


Blitar menyelisipkan tangannya di pinggang Queen, menarik tubuh Queen untuk lebih dekat.


“Betapa aku merindukanmu sepanjang hidupku,” Blitar mencium rambut Queen.


Sudah lama tidak pernah merasakan bagaimana rasanya di manjakan. Rumah tangannya bersama Hendra laksana neraka, tidak memiliki ketenteraman sama sekali.


“Tuan, makan malam telah tersedia,” seorang pelayan masuk dengan sopan.”


(Zaman sekarang memang masih ada yang seperti itu?) Queen teringat keluarga kaya keturunan bangsawan atau berdarah biru yang di kelilingi pelayan. (Mana ada pelayanan seperti itu kecuali di keluarga berkelas atau di alam gaib.)


Blitar mengencangkan pegangan di pinggang Queen. Saat Queen mendongakkan kepala untuk protes bibirnya telah di sambut kecupan Blitar.

__ADS_1




__ADS_2