
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum," terdengar suara pintu rumah di ketuk dari luar,bergegas bu Mirna membuka pintu. Ternyata tukang rias sudah tiba di rumah Anjani,mereka datang tepat sehabis sholat subuh.
Ya,hari ini adalah hari pernikahan Dewi Anjani dengan Ustadz Malik Abazir sang guru ngajinya.
"Waalaikumsalam," sahut bu Mirna sambil membuka pintu.
"Mari silahkan masuk," bu Mirna meminta mereka masuk ke kamar milik Anjani.
"Anjani,perias nya sudah datang," ucapan bu Mirna yang langsung masuk ke kamar Anjani. Dan dia hanya mengangguk mempersilahkan mereka masuk ke kamar.
"Mbak Anjani,sudah siap kami rias?" Tanya salah satu dari mereka.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk.
Sang perias mulai mengeluarkan dan membuka peralatan nya untuk membuat Anjani secantik mungkin.
Acara pertama adalah akad nikah di lanjutkan dengan resepsi dan menyambut para tamu undangan.
Pada saat mereka mencoba merias wajah nya,entah kenapa air mata Anjani mengalir deras seperti air sungai.
"Mbak,gak papa?" Tanya Yuli-perias.
"Gak papa,lanjut saja," jawab Anjani.
"Tapi kalau mbak nangis begini,nanti bedaknya bisa luntur."
"Aku tidak mampu membendung air mataku," Anjani semakin terisak.
"Apakah mbak Anjani tidak setuju dengan pernikahan ini? Maaf mbak kalau saya lancang bertanya,"
"Aku...," Anjani menggantung kalimatnya,dia mengigit bibirnya.
"Mbak,saya cuma bisa ngasih semangat dan dukungan,semoga mbak Anjani ikhlas menerima kenyataan ini," sang perias mencoba menasihati nya.
"Aku,tidak tahu apa yang akan terjadi selepas ini," Anjani semakin terisak.
"Sudah mbak,jangan sedih,saya percaya sama mbak,bisa menjalani semua ini," Yuli mencoba menghiburnya.
"Apakah mbak Anjani di jodohkan sama orang tua?" Yuli bertanya lagi dan Anjani mengangguk perlahan.
"Yang sabar ya mbak,saya percaya pasti orang tua mbak Anjani berharap yang terbaik untuk anaknya,biar saya lanjutkan merias ya mbak,"
Yuli pun melanjutkan tugasnya dan merias wajah ayu milik Dewi Anjani.
Teman Yuli juga merias kedua orang tua dan adik Anjani di tempat lain.
Selesai di rias,Anjani pun berganti pakaian,kebaya berwarna putih dengan kerudung warna senada,karena mereka akan melangsungkan akad nikah terlebih dulu.
Waktu akad akan segera tiba dan pak penghulu,para saksi dan juga calon pengantin pria sudah menunggu Anjani.
Anjani keluar dengan di papah Yuli-perias pengantin. Menuju meja yang akan di gunakan untuk acara akad nikah.
Semua mata memandang ke arahnya,tak terkecuali sang calon suami,dengan postur tubuh yang tinggi semampai,mata bulat bak boneka barbie,di tambah lagi Anjani tidak pernah menggunakan make up,membuat nya semakin cantik jelita.
Sungguh indah dan cantik ciptaan Allah. Dialah bidadari syurga yang dikirim Allah untuk mendampingi Malik Abazir selama hidupnya.
Anjani duduk di sebelah calon suaminya,seperti biasa dia hanya menunduk dan tak bersuara.
Pak penghulu memulai acara dengan bacaan basmallah. Berakhir dengan bacaan hamdallah.
"Alhamdulillah,akad nikah berjalan dengan lancar,sekarang kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri," ucap pak penghulu di sambut suara hamdallah dari para saksi.
"Nah,sekarang,nak Anjani,cium tangan suami kamu," Anjani mencium tangan Malik dan di sambut dengan belaian lembut Malik mengusap kepala Anjani.
Anjani kembali masuk ke kamar di dampingi Yuli hendak berganti pakaian.
Selesai berganti,Anjani keluar dan duduk di kursi pelaminan,menyambut para undangan yang hadir.
Malik sesekali mengusap keningnya yang berkeringat dia merasa sedikit grogi duduk bersanding dengan Anjani.
"Selamat menempuh hidup baru ya An," Wanda,sahabat Anjani hadir di sana di temani oleh Danu,sang sepupu.
__ADS_1
"Terimakasih atas kedatangan nya ya Nda," mereka berpelukan dan Danu juga mengalami Anjani dengan wajah sedihnya.
"Selamat ya Anjani," suara parau Danu tak dapat di sembunyikan lagi,Anjani juga merasakan apa yang bos kecilnya rasakan saat ini. Tak terasa menetes air matanya.
Banyak tamu undangan yang hadir di pesta pernikahan Anjani dengan Malik.
Danu yang juga hadir di sana di temani Wanda. Mereka duduk di salah satu kursi tamu undangan. Danu terus menatap ke arah Anjani yang bersanding dengan pria lain.
Sesekali pandangan mereka berdua beradu dan terlihat jelas,gurat kesedihan terpancar di wajah Anjani,begitu juga dengan Danu,hati yang pilu tak dapat di sembunyikan lagi.
Sania juga hadir di sana,dengan berat hati dia menghadiri acara pernikahan itu. Kalau tidak di paksa oleh sang ibu,mungkin dia tidak akan hadir.
Pernikahan Dewi Anjani dengan Malik Abazir mematahkan hati dua insan.
Sania duduk dan bergabung dengan Wanda dan juga Danu.
"Wanda,kok bisa mereka berdua menikah?" Sania bertanya kepada adik tersayangnya itu.
"Ya bisa saja lah kakak ku sayang,ustadz Malik itu sudah lama jatuh cinta kepada Anjani,kenapa? Kakak kecewa ya?" Jawab Wanda seraya menggoda kakaknya itu.
"Kecewa? Tidak juga,lagian ya,si Anjani itu tidak terlalu cantik,menurut kakak dia biasa saja," celetuk Sania seraya melayangkan pandangan ke arah Malik sambil tersenyum.
"Sania,jangan asal bicara ya kamu!" Gertak Danu yang dari tadi duduk diam di samping Wanda.
"Sstt... Kalian berdua ini,sadar,ini tempat umum,tidak pantas berdebat,lagian kita ini saudara," Wanda mencoba menjadi penengah.
Mereka berdua diam dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
Sesekali,Anjani melirik ke arah Danu yang duduk bersebelahan dengan Wanda dan juga Sania.
Di tempat yang berbeda,terlihat bu Ida,bu Siti dan juga bu Mirna sedang mengobrol di sana,sesekali terlihat senyum dan tawa mereka. Entah apa yang mereka bicarakan.
Semakin sore,tamu semakin sedikit yang berdatangan,Wanda,Sania dan juga Danu sudah berpamitan pulang dari tadi.
Tinggal lah Anjani dan juga Malik yang masih menyambut para tamu undangan yang masih saja ada.
Selang beberapa menit,Anjani dan Malik masuk ke kamar hendak berganti pakaian dan berniat untuk beristirahat.
Anjani berniat merebahkan tubuhnya yang kelelahan,di susul Malik yang juga merebahkan tubuhnya di atas lantai.
Berbaring di atas kasur,membuat Anjani terlelap dalam tidur dan tanpa di duga adzan maghrib telah berkumandang.
Malik yang sudah mandi dan hendak melaksanakan sholat maghrib,terlihat Anjani yang masih tertidur pulas,dengan suara lembutnya,mencoba membangunkan sang istri.
"Anjani,bangun,sholat maghrib dulu yuk,"
Anjani membuka matanya dan dia terkejut,terdapat Malik duduk di samping tempat tidurnya.
Dia langsung bangun dan duduk agak menjauh dari sisi Malik.
"Ma-mas Malik," Terbata-bata dia memanggil nama suaminya. Masih seperti biasa,dia tetap menundukkan wajahnya.
Melihat tingkah istrinya itu,Malik hanya tersenyum dan cepat-cepat dia berdiri.
"Sudah adzan maghrib,kita sholat dulu yuk," kembali Malik mengucapkan kalimat yang sama.
"I-iya mas,aku ambil air wudhu dulu ya,"
Malik hanya mengangguk pelan,dan Anjani bergegas keluar dari kamarnya hendak berwudhu.
Selesai berwudhu,Anjani kembali masuk ke dalam kamar yang sudah ada Malik sang suami,sedang menunggunya.
Bergegas Anjani menggunakan mukenanya dan mereka menjalankan sholat maghrib berjamaah.
...****************...
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi,Wanda sudah bersiap untuk pergi ke kampus.
Tidak lupa juga dia makan sarapan yang telah di siapkan oleh ibunya.
Sania sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali,pak Herman pergi ke ladang di temani pak Tarno.
Terdengar klakson motor di luar rumah. Ternyata Danu.
__ADS_1
Wanda kuliah di kampus Danu dan mereka selalu berangkat kuliah bersama.
"Ibu,Wanda berangkat ke kampus dulu ya!" Teriak Wanda kepada ibunya yang ada di belakang sedang menjemur pakaian
Dengan sedikit berlari,bu Siti keluar menemui Wanda," Hati-hati di jalan ya,bareng sama Danu lagi?" Tanya ibunya.
"Iya bu,tuh Danu sudah datang,"
"Ya sudah,hati-hati di jalan,"
"Assalamualaikum," pamit Wanda seraya mencium pungung tangan ibunya.
Danu melajukan motor dengan kecepatan sedang,Wanda duduk di belakang boncengan dengan sesekali melihat pemandangan di jalan.
Tanpa sengaja mereka berdua bertemu dengan Andra di pertigaan jalan yang menuju kearah kampus mereka.
Berjalan menyusuri aspal dan sampai juga di parkiran pelataran kampus.
Tiba di sana semua mata melihat ke arah Danu dan juga Wanda.
Andra yang sudah dari tadi penasaran langsung menuju Danu dan memberondong beberapa pertanyaan.
"Dan,gebetan baru ya?"
"Gebetan baru pala loe,dia adik sepupu ku,"
"Oohh,kirain gebetan elo," jawab Andra cengar cengir.
"Dan,aku ke kelas dulu ya," Wanda nyelonong pergi tanpa menghiraukan Danu dan juga Andra.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Arini,tinggal lah beberapa hari lagi,ibu masih kangen sama kamu dan juga anak-anak mu," rengek bu Fatimah kepada Arini.
Arini memang pulang pada saat pernikahan Malik berlangsung,dia berada di desa sudah hampir satu minggu.
"Ibu,Arini harus segera pulang,banyak kerjaan yang Arini tinggalkan,nanti butik tidak ada yang jaga,anak-anak juga harus sekolah,"
Arini memiliki tiga anak dari pernikahannya dengan Rudi Santoso. Semuanya laki-laki,anak pertama bernama Anggara Santoso 17 tahun,anak kedua Novianto Santoso 14 tahun dan anak bungsunya Dandi Santoso berusia 9 tahun.
"Nene,bagaimana kalau nenek ikut kami saja," saran dari Anggara dan di setujui oleh adik-adiknya.
"Iya nek,nenek ikut kami saja,"
Bu Fatimah memandang cucunya,"nenek tidak bisa ikut kalian,nanti kakek di sini sendiri,tidak ada yang menemani,"
"Kan ada tante Sarah,ada tante baru juga,istrinya om Malik,"
Bu Fatimah hanya tersenyum mendengar perkataan cucunya itu.
"Kak Arini,kakak akan balik ke kota jam berapa?" Sarah bertanya kepada kakaknya itu.
"Nanti sore an Sar,habis sholat ashar," Arini menjawab pertanyaan Sarah.
"Ya sudah,kita makan siang dulu yuk,tadi ibu memasak makanan kesukaan kakak waktu masih kecil," ajak Sarah dan di ikuti Arini,anak beserta suami dan kedua orangtuanya.
Mereka menuju ruang makan,tersedia semua hidangan di atas meja makan.
"Waahh,ada sambal goreng petai dan juga ikan asin,jadi ingat waktu masih kecil,suka rebutan sama Sarah," kata Arini sumringah.
"Berarti,waktu kecil mama suka berantem ya sama tante?" Tanya si kecil dan di sambut suara tawa mereka semua yang ada di sana.
"Suami kamu mana Sar,kok tidak kelihatan dari tadi pagi?" Tanya kakak iparnya Rudi yang dari tadi hanya berdiam diri saja.
"Mas Toni masih ada urusan di sekolahnya mas," jawab Sarah sambil mengambil nasi untuk Amelia dan juga Salma.
"oohh," jawab Rudi singkat.
Mereka menikmati makan siang mereka bersama,kebersamaan yang tidak dapat terlupakan.
Sesekali mereka juga saling lempar canda dan tawa.
Terlihat begitu bahagia dan keluarga yang harmonis.
__ADS_1
****************