
Dia berjalan dengan langkah yang cepat.
Takut akan terlambat.
Karena hari ini adalah hari pertama dia bekerja.
Sebagai karyawan baru,dia tidak boleh telat. Harus tepat waktu.
Sedikit berlari dia menuju lift.
Ting!
Lift terbuka,dia segera masuk dan menekan nomer tiga.
Ya,dia harus pergi ke lantai tiga,karena tempat dia bekerja di sana.
"Tunggu!"
Terlihat seorang wanita juga berlari menuju lift yang akan tertutup.
Dia menahan pintu lift agar tetap terbuka.
"Terimakasih," ucap wanita tersebut.
Dia tidak sadar siapa yang ada di sampingnya.
Ting!
Lift berhenti di lantai tiga.
Danu keluar dan berjalan menuju meja kerjanya.
Di susul perempuan tadi. Siapa?
Ternyata Sania yang mengenakan setelan jas berwarna merah bata.
Dengan celana panjang warna senada. Sepatu hak tinggi tidak pernah ketinggalan.
Rambut lurus sebahu di gerai,berjalan menuju ruangannya.
"Selamat pagi bu Sania," sapa para karyawan.
Sania hanya mengangguk,terlihat wanita berkelas.
Mendengar nama Sania,Danu seketika menoleh ke arah perempuan tersebut.
Dia kaget,dengan penampilan Sania yang sekarang. Berbeda dengan Sania yang di rumah.
Terlihat anggun dan berwibawa.
"Danu,datang ke ruanganku sekarang," ucap Sania sambil berlalu menuju kantornya.
Danu tercengang dan menoleh ke teman kantornya.
Teman nya mengangguk.
Danu mengekor Sania dari arah belakang.
"Tutup pintunya," ucap Sania dan dia duduk di kursi kerjanya.
Danu terlihat canggung dan celingukan di ruangan Sania.
"Danu,sini duduk,"
Dengan gugup Danu duduk di depan Sania.
"Danu,kamu kenapa? Tidak kenal sama aku? Adik sepupu kamu?" Ucap Sania menggoda Danu.
"Kamu berbeda dengan yang biasa aku lihat," kata Danu tercengang.
"Apanya yang beda,biasa saja lah,"
"Kamu,kenapa manggil aku kesini?" Tanya Danu kepada Sania.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu kerja di sini?" Sania balik bertanya.
"Sejak kamu pergi dinas ke luar kota waktu itu," jawab Danu.
"Ooh,pantesan mereka sudah mengenalmu,"
"Tapi kalau boleh tahu,kamu kenapa manggil aku kesini,aku masih banyak kerja tuh,numpuk," Danu mulai menggerutu.
"Cuma ingin memastikan saja,ya udah sana,silahkan bersibuk ria kakak ganteng," goda Sania yang membuat bulu kuduk Danu merinding.
Sania malah terkekeh melihat tingkah abang sepupunya itu.
Danu meninggal kan Sania yang masih cekikikan menahan tawa.
"Tunggu Danu," panggil Sania.
"Ada apa lagi bawel?" Seloroh Danu yang sudah berada di depan pintu.
"Nanti kita makan siang bareng,oke," ucap Sania sambil mengacungkan jempol dan di balas acungan jempol juga oleh Danu.
Danu nyengir dan pergi kembali ke meja kerjanya.
Temannya yang berada di sebelahnya bertanya kepada Danu.
"Kamu terlihat akrab dengan bu Sania,kalian saling kenal ya?" Dia bertanya penasaran.
Danu hanya tersenyum tipis dan berkata,"lanjut kerja dan fokus pada pekerjaan saja ya,"
Temannya kecewa dengan jawaban Danu.
Dia berniat bertanya lagi,namun Danu memberi isyarat,sehingga dia urungkan niatnya itu dan kembali kerja lagi.
Begitu banyak mertas menumpuk di depan Danu,tak terasa sudah jam istirahat.
Waktunya untuk makan siang bagi para karyawan.
Sania keluar dari ruangan nya dan mendekati Danu.
Berjalan berada di samping Sania membuat Danu menjadi pusat perhatian.
Roni yang hendak menyapa Sania,juga tidak jadi.
Dia terkejut,sejak kapan anak baru itu akrab dengan Sania?
'Apakah dia sainganku? Aku tidak boleh tinggal diam. Aku juga harus selangkah di depannya,'
Ucap Roni dalam hati.
"Sania," panggil Roni dari arah samping.
Sania menoleh, salah tingkah dan sedikit canggung.
"Selamat siang pak Roni," sapa Danu dan Roni hanya mengangguk.
Terlihat jelas Roni tidak suka dengan kehadiran Danu di situ.
Tanpa berpikir lagi,Danu juga sudah berinisiatif hendak meninggal kan mereka berdua.
"San,kalau kamu ada perlu sama pak Roni,aku pergi dulu deh," ucap Danu kepada Sania.
"Ehmm,anu,kita makan siang bareng saja, bagaimana? Kita bertiga,yuk jalan," Sania menggandeng tangan Danu dan Roni tertinggal di belakang.
Danu benar-benar merasa tidak enak hati sama pak Roni.
"San,jangan gini dong,nanti orang mengira kita sedang pacaran," bisik Danu kepada Sania.
Sania malah semakin erat menggandeng tangan Danu.
Di kantin,semua mata memandang ke arah mereka bertiga.
Di tambah lagi tingkah Sania yang seperti anak kecil sedang bermanja sama bapaknya.
Semua karyawan berbisik,apa hubungan antara Danu Dengan Sania.
__ADS_1
Bagaimana nasib pak Roni jika mereka berdua menjalin hubungan khusus?
Semakin panas saja gosip di kantin.
Danu yang merasa risih di liatin orang segera kabur meninggal kan Sania yang sedang mengambil makan.
Segera Danu mencari tempat duduk yang kosong.
Kebetulan ada di belakang paling ujung.
Beruntung duduk di sini,tidak ada orang yang akan mengawasi terus.
Lagi asiknya melahap makanan,Sania datang dan duduk di depannya.
"San,kamu kesurupan ya?" Danu bertanya sewot.
"Kenapa sih Dan,aku tidak boleh ya duduk di sini?" Jawab Sania dengan nada ganjennya.
Merinding Danu mendengar nya.
Ya Tuhan,mimpi apa wanita ini semalam. Atau dia kesambet dari mana.
"Aku sudah selesai makan,kamu jangan ngikuti aku terus," Danu berdiri dan pergi meninggalkan Sania yang mungkin sedang kesambet.
Danu pergi jauh meninggalkan Sania. Dia akan kembali ke meja kerjanya.
Tidak perduli orang mau ngomong apa.
Sania malah tertawa melihat tingkah abang sepupunya itu.
'Lucu,sungguh lucu,' Ucap Sania dalam hati.
Sedang mengawasi kepergian Danu,Roni tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.
"Danu,dia cukup ganteng," gumam Roni kepada Sania.
"Tidak cuma ganteng,dia cukup sempurna untuk di jadikan pendamping hidup," timpal Sania yang masih menatap punggung Danu,perlahan mulai hilang.
Roni merasa kesal di buatnya.
"Sania,sejak kapan kamu kenal sama dia?" Tanya Roni kesal.
"Sejak hari ini," jawab Sania cuek.
"Kamu sengaja ya,manas-manasi aku?"
"Apa hubungan nya dengan anda bapak Roni yang terhormat," jawab Sania sedikit ketus.
Entah kenapa semenjak pulang dari dinas,Sania dan Roni tidak akur.
Ada masalah apa sebenarnya?
Sania selalu menghindar dan kadang sengaja mencari masalah dengan Roni.
Selesai makan,Sania pun pergi meninggalkan Roni sendiri duduk di sudut ruang kantin.
Roni memandangi Sania yang telah berlalu pergi meninggalkan nya.
'Sania,kamu kok jadi gini sama aku? Apa salahku? Apa mungkin kamu menjalin hubungan khusus dengan anak baru itu?'
Semakin rancau pikiran Roni.
Sudah tahu Sania tidak bisa menerima cintanya.
Namun dia masih bersikeras dan kukuh untuk mengejar cinta Sania.
'Sania!! Kau membuatku gila,sampai kapan aku akan tergila-gila pada mu? Sania!!!'
.Berteriak dalam hati,tidak akan ada orang yang mengetahuinya.
...****************...
.
__ADS_1