
Hari ini Anjani pulang kerja sendiri. Dia mengayuh sepeda dengan santai.
Sambil menikmati pemandangan di pedesaan yang tertata rapi.
Masih banyak pohon kelapa dan jenis pohon lainnya di desa itu.
Anjani terus mengayuh sepeda,melewati pemukiman warga,persawahan yang terlihat sejuk di mata.
Sore hari yang indah. Matahari juga sudah di ufuk barat.
Menandakan hari akan menjelang malam. Fajar mulai mendekat.
Anjani masih mengayuh sepedanya menuju rumah.
Rumah Anjani terletak di pinggiran sawah,oleh karena itu,dia melintasi persawahan.
Banyak juga warga sekitar yang melewati jalanan sawah itu.
Mereka yang baru pulang dari sawah,ladang dan ada juga yang sedang mencari rumput.
Untuk pakan hewan ternak.
Anjani sungguh menikmati pemandangan itu.
"Hai Anjani,baru pulang kerja ya?" Sapa ibu-ibu yang sedang berjalan dan bersimpangan dengan nya.
"Iya bu Titi," senyum khas mengembang di wajahnya.
Dia melanjutkan mengayuh sepeda.
"Pak Bejo,baru pulang dari sawah?" Anjani menyapa pak Bejo yang lewat di depannya.
"Iya Anjani,kamu dari toko ya?" Pak Bejo balik bertanya kepada Anjani.
Anjani mengangguk dan tersenyum kepada pak Bejo.
Melewati persawahan dengan sedikit letih,Anjani sampai juga di rumah.
'Kok sepi? Apa mas Malik belum pulang ya nganter Vania?' Anjani berucap dalam hati.
Dia membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah.
Memang rumah terlihat sepi,karena suaminya belum juga pulang.
Anjani langsung menuju kamar mandi hendak mandi dan menjalankan sholat asar.
Selesai sholat dia menuju ke Dapur,mencoba membuka kulkas dan melihat apakah ada bahan yang bisa di masak untuk makan malam.
Dia memulai untuk memasak,baru akan mencuci sayuran,pintu di ketuk dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum,Anjani," terdengar suara dari luar.
"Waalaikumsalam," Anjani menyahut salam itu.
Ceklek!
Anjani membuka pintu,ternyata suaminya baru pulang.
"Mas Malik,kok baru pulang?" Tanya Anjani sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Iya,tadi mampir sebentar ke toko,malah Vania gak mau di ajak pulang," jawab Malik dan dia masuk ke dalam.
__ADS_1
"Mas Malik mandi dulu sana,aku sedang masak buat kita makan malam," ucap Anjani samb berjalan menuju dapur.
Malik pun berangkat mandi.
Sehabis mandi mereka makan malam bersama.
"Bagaimana keadaan Vania sekarang mas?" Anjani bertanya kepada suaminya.
"Alhamdulillah sudah ada kemajuan,dia sudah bisa di ajak komunikasi,tapi..." Malik menggantung kalimatnya.
Tapi kenapa mas?" Anjani penasaran.
"Tapi,dia masih sering melamun," jawab Malik.
"Kasihan Vania,masih belia sudah harus menerima kenyataan yang pahit," Anjani meneteskan air mata,menangisi nasib adiknya yang malang.
Malik pun tidak dapat berkata-kata,dia juga sedih melihat nasib Vania yang malang.
...****************...
Bella Adelia,terlihat berjalan begitu tergesa-gesa.
Tap!
Tap!
Tap!
Dia melangkah begitu cepat. Langkah kakinya semakin jelas terdengar.
Ceklek!
Dia membuka sebuah pintu,tertegun dengan apa yang telah dia lihat.
Berada di depan pintu hampir pingsan melihat pemandangan yang begitu menjijikkan.
"Be-Bella," lelaki itu menyebut nama Bella dengan terbata-bata.
Bella hanya melihat tak mampu bersuara. Hanya linangan air mata yang mewakili Perasaan nya.
Tak sanggup lagi berlama-lama di sana,dia pun berlari pergi meninggalkan tempat kos itu.
Berlari sekencang kencangnya,tak perduli namanya di panggil.
Berlari menerobos kendaraan yang melintas. Tanpa sadar dia sudah berada di tengah-tengah jalan raya yang begitu ramai kendaraan melintas.
Tiin!!
Suara klakson berbunyi bersahutan,Bella semakin pusing. Tiba-tiba dia pingsan di tengah jalan.
Melihat kejadian itu,seorang pemuda yang berada tepat di depan Bella pingsan,dia menghentikan mobilnya dan keluar menolong Bella.
Tanpa pikir panjang,Danu mengangkat tubuh Bella yang sudah lemas.
Di bawa masuk ke mobil dan akan di bawa ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian dia tersadar dari pingsannya.
Dia membuka mata,terdapat kakak dan juga mamanya di sana.
"Bella,sayang,kamu sudah sadar nak?" Mamanya mendekati Bella dan duduk di samping ranjang rumah sakit.
"Mama,kenapa Bella bisa di sini?" Bella bertanya penasaran.
"Tadi kamu pingsan di tengah jalan,untung ada seorang pemuda baik mau menolong kamu," jawab mamanya.
"Bella,coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kamu bisa pingsan di tengah jalan begitu?" Roni mendekat dan bertanya kepada adik tercintanya itu.
__ADS_1
"Itu..." Bella teringat kejadian yang telah dia alami tadi. Membuat nya menangis.
"Sudah-sudah jangan menangis,kalau tidak bisa bercerita tidak usah di paksakan," ucap bu Anggita mama Bella dan juga Roni.
"Mama," Bella memeluk mamanya erat.
"Tapi..." belum sempat Roni melanjutkan kalimatnya,mamanya memberi isyarat untuk diam.
Sebenarnya Roni penasaran namun demi menjaga perasaan adiknya. Dia pun tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kemana perginya pemuda yang menolong Bella?" Mamanya bertanya kepada Roni.
"Dia sudah pulang," jawab Roni.
Danu pulang setelah Roni dan juga mamanya sampai di rumah sakit.
Kehadiran Roni membuat Danu terkejut. Ternyata Wanita muda yang dia tolong adalah adik Roni.
Beberapa menit yang lalu,
"Suster,tolong sus,dia pingsan," Danu membopong Bella masuk ke dalam rumah sakit itu.
Beberapa suster mengambil ranjang rumah sakit dan Danu menidurkan Bella di sana.
Di dorong menuju ruangan,Danu menunggu di depan ruangan.
Beruntung tas milik Bella di bawa oleh Danu.
Dengan terpaksa dia memeriksa identitas wanita tersebut.
Di bukanya tas milik Bella,terdapat ponsel milik Bella di sana.
Mencoba mengaktifkan ponsel nya dan mencari-cari nama orang yang mungkin dekat dengan Bella.
Terpampang nama Abangku.
Danu menekan nama itu dan mencoba menghubunginya.
Usai berbincang melalui ponsel,Danu menutup sambungan.
Tak berapa lama Roni dan juga mamanya sampai di rumah sakit.
"Danu,sedang apa di sini?" Roni terkejut melihat Danu di sana.
Danu berdiri di depan pintu ruangan,sengaja menunggu keluarga Bella.
"Dia siapa?" Tanya mamanya.
"Salah satu karyawan di perusahaan ma," jawab Roni.
"Aku tadi yang menghubungi kamu Ron," jawab Danu kepada Roni.
"Dimana Bella sekarang?" Bu Anggita terlihat panik.
"Dia ada di dalam bu,kata dokter dia hanya pingsan,sebentar lagi juga sadar," jawab Danu dan bu Anggita pun langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Bella.
"Karena kalian sudah ada di sini,aku pamit pulang,nih tas milik adikmu," Danu berpamitan pulang kepada Roni seraya menyodorkan tas milik Bella.
"Terimakasih sudah menolong adik ku," ucap Roni kepada Danu.
"Iya sama-sama,aku pulang dulu ya,"
Danu pun pergi meninggalkan Roni.
Roni pun masuk ke ruangan tempat Bella di rawat.
...****************...
__ADS_1