
"Ibu,sudah lama semenjak kak Anjani menikah belum pernah sekalipun pulang kerumah," Vania,menggerutu kepada sang ibu yang sedang duduk di teras rumah sambil meminum secangkir teh buatan Vania di temani sang bapak juga di sana.
"Kakak kamu mungkin sibuk,apa lagi sekarang mereka sedang membangun rumah baru untuk kakak mu dan juga suaminya tinggal," pak Tarno menimpali.
"Kan rumahnya dekat,kamu kalau kangen maen saja kesana," jawab bu Mirna sambil menyeruput teh nya.
Waktu menjelang sore,cuaca sedikit mendung,memang cocok menyeduh secangkir teh di teras rumah sambil menikmati suasana.
"Vania sebenarnya juga ingin main ke sana,tapi takut sama bu nyai,orangnya galak," sungut Vania yang di sambut tawa bapak nya.
"Jangan ngomong seperti itu,nanti ada yang dengar,kamu di marahi sama bu nyai," jawab bu Mirna.
Vania memang anak yang cerdas,meskipun dia masih kelas enam SD,namun perawakan nya yang bongsor membuatnya terlihat sudah dewasa. Di tambah lagi dia juga sudah haid sejak kelas lima SD. Tahun ini dia akan melanjutkan sekolah SMP.
"Pak,bu,nanti sehabis maghrib Vania mau ke rumah Sinta,mengerjakan kerja kelompok," Vania mencoba minta ijin kepada kedua orang tuanya.
"Sinta yang mana? Kan kamu punya teman yang namanya Sinta dua orang," ibu bertanya untuk memastikan.
"Sinta yang rumahnya di desa sebelah bu,tidak lama kok paling sehabis sholat isya' Vania sudah pulang," jawab Vania sambil menjelaskan kepada ibunya.
"Oohh,Sinta anak nya pak Rahman itu,bukan? Nanti bapak jemput pulangnya," tanya sang bapak sembari menawarkan jasa hendak menjemput anak gadisnya.
"Tidak usah pak,dekat sini kok,lagian Vania bukan anak kecil lagi,kan." Vania menolak tawaran sang bapak.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan,jangan pulang kemalaman," pesan ibunya sedikit khawatir. Vania mencoba meyakinkan kedua orangtuanya agar tidak terlalu khawatir.
Adzan maghrib berkumandang,mereka bertiga masuk ke rumah,mengambil mukena dan bapak mengambil sarung dan peci,bersiap hendak pergi ke surau menjalankan solat berjamaah.
Di sana Vania bertemu dengan Anjani,sang kakak yang selama ini dia rindu kan kehadirannya,rumah terasa sepi sekarang tanpa kehadiran sang kakak.
"Kak Anjani!" panggil Vania dari arah belakang yang waktu itu Anjani sedang berdiri hendak mengenakan mukena nya.
"Vania! ya Allah,kamu apa kabar,bapak sama ibu apa kabar," sambut Anjani sambil memeluk adik semata wayang nya.
"Alhamdulillah baik kak,kakak sekarang sombong,mentang-mentang sudah menikah,tidak pernah mau main ke rumah lagi," gerutu Vania,tak terasa menetes air matanya.
"Jangan ngomong begitu,sebenarnya kakak juga kangen sama kalian,tapi..." Anjani menggantung kalimatnya.
"Tapi kenapa kak?" Vania bertanya penasaran.
Dan Anjani hanya menggeleng kan kepala pelan,tanpa di sadari bulir bening menetes membasahi pipinya.
"Tidak apa-apa," jawabnya lirih.
Dia tidak sanggup menceritakan semua pengalamannya selama hidup di rumah mertua.
Perlakuan suami yang kadang kurang adil untuknya.
Sikap ibu mertua yang baik di depan suaminya dan jahat di belakang suami.
Untungnya masih ada kak Sarah yang selalu memberi dukungan untuk nya. Sarah pun tidak berani membantah ibunya. Setiap ucapan ibunya,Sarah hanya bisa patuh,begitu juga Anjani.
"Kak,kenapa kakak kok malah melamun," pertanyaan Vania membuyarkan lamunan nya.
__ADS_1
"tida apa-apa,yuk sholat,sudah mulai tuh,imam nya sudah hadir,"
Yang menjadi imam kebetulan malam itu ustadz Malik,suami Anjani. Selesai sholat Vania bergegas pulang,karena dia sudah berjanji sama Sinta akan datang ke rumahnya selepas sholat maghrib.
Vania juga berpamitan kepada kakak dan juga ke pada snag ibu yang berada di sebelahnya.
"Hati-hati di jalanya nduk,ingat,pulang segera," pesan ibunya kepada Vania,dan dia mengangguk dan lekas pulang.
Malam itu,cuaca memang sedang mendung namun belum turun hujan. Vania berangkat menuju rumah Sinta mengayuh sepeda yang biasa dia pakai untuk berangkat sekolah.
Vania,kakak dan kedua orang tuanya tidak ada yang tahu,musibah apa yang sedang menunggu Vania malam ini.
...****************...
Danu masih menggigil sepanjang malam,setelah peristiwa semalam yang telah menimpanya.
Beruntung sang ibu lekas pulang sehabis acara di sana.
"Assalamualaikum," bu Ida membuka pintu seraya mengucapkan salam,namun tidak ada yang menyahut.
"Danu,kamu di mana?" Beliau mencari Danu di dapur,di belakang rumah juga tidak ketemu.
Sekilas beliau melirik ke arah pintu kamar Danu yang masih tertutup.
Perlahan beliau berjalan menuju ke kamar Danu dan mencoba membuka pintunya,betapa terkejutnya bu Ida melihat anak semata wayangnya sedang menggigil sembari berselimut tebal.
"Astagfirullah,Danu,kamu kenapa nak?" Bu Ida segera menghampiri Danu dan mencoba membuka selimutnya.
Betapa terkejutnya Danu kala itu,"tidak,jangan,jangan mendekat!" seperti orang sedang mengigau,dia berteriak histeris sambil memejamkan matanya.
Perlahan Danu membuka matanya,melihat sang ibu sudah berada di depannya,lekas dia memeluk ibunya begitu erat.
"Ibu,Danu takut bu,Danu takut," ucapnya sambil masih memeluk ibunya lebih erat lagi.
"Sudah-sudah,tenang,ibu di sini,coba ceritakan sama ibu,apa yang sebenarnya terjadi," jawab sang ibunya sambil mencoba melepaskan pelukan Danu terhadapnya.
Danu mulai menarik nafas panjang,dan dia memulai ceritanya dari awal dia menolong anak muda yang telah mengalami kecelakaan,sampai sesosok yang ada di sudut rumahnya.
Bu Ida menyimak setiap ucapan Danu,dan beliau mencoba untuk memahaminya.
"Ya sudah,kamu tenang dulu,nanti ibu akan kerumah Ustadz Maulana,biar ustadz yang menangi apa yang telah terjadi padamu semalam," bu Ida mencoba menenangkan hati anak nya.
"Tapi bu,Danu masih takut," dengan wajah ketakutannya dia masih mencoba untuk bersembunyi di balik selimutnya.
Sang ibu dengan sabar membujuk nya dan berpamitan untuk pergi ke rumah ustadz Maulana yang rumahnya cukup jauh jika berjalan kaki.
Bu Ida sudah siap untuk menstater motor matik nya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Ustadz Maulana.
Sampai di depan rumah pak Ustadz,kebetulan terlihat Anjani sedang menyapu halaman rumah.
"Assalamualaikum,Anjani," sapa bu Ida sambil menstandar motornya.
"Wa'alaikumsallam,eh bu Ida,tumben ada apa pagi-pagi begini," jawab Anjani dan dia menyambut bu Ida sambil mencium punggung tangan wanita itu.
__ADS_1
"Pak Ustadz Maulana ada?" Tanya bu Ida kepada Anjani.
"Ada bu,di dalam,mari silahkan duduk dulu,saya panggilkan bapak," jawab Anjani sembari mempersilahkan bu Ida duduk di teras rumah.
Anjani pun masuk ke dalam dan mencari bapak mertuanya itu.
Tidak berapa lama,pak Ustadz pun keluar menemui bu Ida yang sedang menunggu di teras.
"Assalamualaikum,bu Ida,tumben pagi-pagi begini?" Sapa pak Ustadz seraya melayangkan pertanyaan kepada bu Ida.
"Wa'alaikumsallam, pak Ustadz,iya pak saya ada perlu sama pak Ustadz," jawab bu Ida dengan suara yang bergetar.
"Iya bu ada apa? Coba ceritakan pelan-pelan kepada saya,"
Bu Ida memulai bercerita apa yang telah menimpa anaknya kepada sang Ustadz.
Ustadz Maulana manggut-manggut mendengar cerita dari bu Ida.
"Saya mengerti,baiklah,saya akan ikut bu Ida ke rumah," jawab pak Ustadz dan mereka pun pergi ke rumah bu Ida dengan mengendarai motor masing-masing.
Baru sampai di halaman rumah,pak Ustadz sudah merasakan energi negatif di sekitar rumah itu.
Pak Ustadz mencoba berjalan mengelilingi rumah,benar saja,ada sesuatu yang tidak beres di belakang rumah.
Di sana pak Ustadz mencoba berkonsentrasi,mencari sumber masalah itu berasal. Beliau menutup mata sambil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Selesai membaca beliau mencoba berjalan mendekati pohon pisang yang ada di dekat sumur.
"Tolong bu Ida ambilkan saya cangkul," pinta pak Ustadz tanpa menoleh
Bu Ida dengan segera masuk ke gudang untuk mengambil cangkul tanpa bertanya.
"Ini pak Ustadz cangkulnya," bu Ida memberikan cangkul yang tadi dia ambil dari gudang yang ada di sebelah dapur.
Beliau mencangkul tepat di bawah pohon pisang yang dia maksudkan.
Baru beberapa cangkulan,terlihat ada kain putih di sana,semakin dalam sang Ustadz mencangkul,semakin nampak apa yang telah beliau cari.
Beliau berjongkok dan mengambil kain putih itu.
Ternyata kain mori dan masih ada bungkusan di dalam nya.
Pak Ustadz mencoba membuka bungkusan itu,ada paku payung,ada boneka yang terbuat dari jerami kering beserta kembang kantil yang masih kuncup 7 biji.
Siapa yang mengirim semua itu?
Apa maksud dan tujuan orang tersebut berbuat jahat kepada keluarga bu Ida?
Bagaimana pak Ustadz menangani masalah ini?
Haruskah di kembalikan kepada sang pemiliknya,atau di bakar saja?
Biar Allah SWT yang membalas nya.
__ADS_1
Bagaimana baiknya ya sobat?
...****************...