The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 28 Yang sabar Anjani


__ADS_3

Kandungan Anjani sudah menginjak 9 bulan.


Dia mulai merasakan perutnya tidak baik-baik saja.


Sepertinya sudah mau melahirkan.


"Mas,mas Malik,sepertinya aku mau melahirkan," Anjani mencoba membangunkan suaminya yang sedang tidur.


"Ada apa?" Ucap Malik membuka mata.


"Perutku terasa seperti mau melahirkan mas," Anjani meringis menahan sakit.


"Betulkah?" Malik panik apa yang harus di lakukan.


"Antar aku ke klinik mas,cepat sudah tidak tahan,"


"I-iya, mas siap-siap dulu," Malik langsung bangun dan bersiap untuk mengantar istrinya ke klinik terdekat.


Sambil bersiap-siap dia melihat jam dinding,pukul 00.00WIB.


Apa? Tengah malam begini apa masih buka kliniknya?


"Anjani,ayo mas bawa kamu ke klinik sekarang,kamu kuat kan di bonceng motor?"


"insyaallah kuat mas,hati-hati jalannya ya mas,"


"iya iya,"


Mereka berdua mengendarai sepeda motor menuju klinik terdekat.


"Suster,tolong istri ku mau melahirkan!" Malik berteriak panik melihat Anjani meringis menahan sakit.


Salah satu suster keluar membawa kursi roda dan mendorong Anjani menuju kamar persalinan.


"Bapak,mohon tunggu di luar ya," perintah suster tersebut.


Malik nurut saja. Dia merogoh kantong jaketnya.


Mencoba menghubungi kakaknya Sarah.


"Assalamualaikum kak,"


"Waalaikumsalam,Malik ada apa malam-malam begini telfon,tumben tidak biasanya," jawab sang kakak.


"Saya sekarang berada di klinik kak,sepertinya Anjani akan melahirkan," jawab Malik dan Sarah pun mengerti.


Selang beberapa menit kemudian terlihat keluarga Malik dan keluarga Anjani tiba di sana.


Malik yang sedang berdiri di depan pintu menyambut kedatangan mereka.


"Malik,bagaiman Anjani?" Tanya bu Mirna cemas.


"Masih di dalam bu,suster dan bidan sedang menangani," jawab Malik.


Mereka semua sedang menunggu di luar kamar bersalin.


Sudah hampir tiga jam,tapi belum terdengar suara tangisan bayi.


"Ya Allah,Selamat kan istri dan anak hamba," Malik mondar mandir di luar sembari berdoa.


Beberapa menit kemudian terdengar tangisan bayi dan semua berucap hamdalah hampir bersamaan.


"Alhamdulillah ya Allah," Malik bersujud syukur anak pertamanya telah terlahir.


Seorang suster keluar dan mengabari bahwa persalinan berjalan dengan lancar.


"Alhamdulillah pak,bu,semua selamat,"


"Anak saya,laki-laki apa perempuan sus?" Malik bertanya kepada suster.


"Perempuan pak,kalau mau berkunjung,nanti ya kami pindahkan dulu ke ruang pasien," jawab suster dan dia masuk lagi ke dalam.


Di ruangan pasien...

__ADS_1


Terlihat Anjani masih lemas terkulai,setelah melahirkan anak pertamanya.


Malik yang berada di sampingnya membelai lembut rambut istrinya.


"Mas,anak kita," ucapan Anjani masih lemes.


"Anak kita perempuan sayang,dia cantik sepertimu," jawab Malik dengan senyum.


"Iya Anjani,anak kamu perempuan,sehat dan cantik seperti ibu nya," ucap Sarah.


Mereka semua sangat gembira dengan kelahiran anak pertama Anjani.


...****************...


Beberapa bulan kemudian...


"Syifa,jangan lari nak!" Anjani mengejar anak anaknya.


Syifa Aulia,anak Anjani yang sekarang sudah berumur delapan belas bulan.


Dia sudah pandai berjalan dan berlari.


Anjani sudah tidak lagi bekerja di toko,dia sudah sibuk menjaga anaknya.


Di tambah lagi dia sedang hamil sudah anak ke dua yang berusia tiga bulan dalam kandungan.


"Mas,tolong jaga Syifa sebentar ya,aku mau mencuci baju dulu," ucap Anjani.


"Memang dia pergi ke mana?" Tanya Malik.


"Dia ada di depan tadi sedang main-main sama anak sebelah,"


Malik keluar dan melihat apakah dia masih ada di sana.


"Syifa,kamu sedang apa?" Tanya Malik kepada anaknya.


"Ba ba,ba ba," Syifa masih belum pandai berbicara.


"Anjani,nih Syifa,mandikan dulu ya,"


"Tolong kamu mandikan dong mas,aku masih nyuci baju belum selesai," jawab Anjani di kamar mandi.


"Aku gak bisa,kamu aja yang memandikan ya," Malik menurunkan anaknya dari gendongan nya di depan pintu kamar mandi.


Anjani hanya pasrah.


"Syifa,sini ibu mandikan dulu sayang," panggil Anjani kepada anaknya.


Syifa pun mendekati ibunya yang sedang mencuci baju dan mulai bermain air.


Selepas memandikan anaknya,Anjani berniat memberikan kepada Malik agar di bantu memakaikan baju.


Lagi-lagi Malik menolak dengan alasan tidak bisa.


Dengan sabar Anjani memakaikan baju Syifa.


Selepas itu dia akan menyuapi anaknya karena dia memang belum sarapan.


Malik hanya duduk dan berdiam diri di depan tv sambil minum kopi.


Sekarang Malik pergi ke toko seminggu kadang sekali kadang dua kali.


Karena di sana sudah ada pekerja. Jadi Malik merasa lebih santai.


Dia tidak perduli sama sekali dengan kesibukan Anjani.


Bagi Malik,sebagai seorang istri memang sudah kewajiban menjaga rumah,anak dan melayani suami.


Semua pekerjaan rumah Anjani kerjakan sendiri.


Berapa lelahnya Anjani,mengurus anak yang baru berusia lima belas bulan di tambah lagi dia hamil tiga bulan.


Namun dia harus sabar dan dia harus kuat menghadapi kehidupan barunya.

__ADS_1


Malik yang dulu menyayangi dan memanjakan Anjani kini berubah.


Dulu waktu belum memiliki anak,Malik begitu perhatian terhadap Anjani.


Tapi sekarang,Anjani merasa suaminya begitu tidak perduli.


Apa lagi yang bisa Anjani buat selain bersabar.


"Anjani,tolong dong ambilkan aku makan,lapar nih," pinta Malik kepada Anjani.


"Sudah ada di meja makan mas,ambil sendiri sana," jawab Anjani yang sedang menyuapi anaknya.


"Kamu sekarang mulai membantah ya?" Celetuk Malik sinis.


"Mas,aku sedang menyuapi Syifa," jawab Anjani dengan nada suara sedih.


"Sekarang kamu tidak perduli sama aku,kamu yang di pikirkan hanya Syifa,Syifa," gerutu Malik beranjak dari duduknya dan pergi keluar.


"Mas,kamu mau kemana?" Tanya Anjani.


"Aku mau ke warung," jawab Malik sambil membanting pintu.


Brak!!


Anjani kaget,suaminya berubah.


Ya,Malik telah berubah tidak lagi hangat seperti dulu.


Anjani hanya bisa menahan kesedihan dan sakit hatinya.


Entah kenapa Malik menjadi dingin.


Dia pergi kemana pun Anjani tidak tahu.


"bu bu,bu bu," Syifa mencoba memanggil ibu kepada Anjani.


Anjani mengusap air mata nya dan memeluk Syifa.


Hanya Syifa yang bisa menjadi obat sakit hatinya.


"Syifa,makan yang banyak ya nak,biar nanti tumbuh besar dan menjadi anak yang sholeha," ucap Anjani.


"Sehabis makan,Syifa nonton tv ya,ibu mau melanjutkan cuci baju," ucap Anjani kepada anaknya.


Anjani pun berdiri dan menyalakan tv untuk anaknya.


Dia pun mulai melanjutkan mencuci baju.


Mesin cuci rusak,sudah dua minggu,Anjani juga sudah bilang sama suaminya namun tidak di gubris sama sekali.


Terpaksa mencuci pakai tangan di dalam kamar mandi.


Sehabis mencuci dia pun ke halaman belakang untuk menjemur pakaian.


Sedang menjemur pakaian dia seperti melihat seseorang yang tidak asing baginya.


Dia mencoba memastikan kalau saja yang dia lihat salah.


Siapa wanita itu?


Dia sedang mengobrol dengan.....?


Apa?


Pria itu?


Siapa mereka?


Terlihat begitu mesra saat berbincang dan sesekali mereka tertawa lebar.


Deg!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2