The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 14 Vania yang malang 2


__ADS_3

Ustadz Maulana lalu berdiri dan menunjukan kepada bu Ida apa yang telah beliau temukan.


"Ini lah sumber masalah yang semalam mengganggu Danu bu,"


Ucap pak Ustadz sambil menunjukkan kepada bu Ida.


Bu Ida terkejut dan juga bingung,"i-ini apa pak Ustadz?" Bu Ida bertanya terbata-bata.


"Ini adalah sejenis ilmu hitam,yang Dengan sengaja di tanam di sini oleh orang yang syirik kepada jenengan,"


Jelas pak Ustadz dan bu Ida benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat.


"Astaghfirullah," ucap bu Ida sambil mengelus dadanya.


"Orang ini berniat mencelakai keluarga bu Ida," jelas pak ustadz.


"Kira-kira siapa orangnya ya pak ustadz?" Bu Ida bertanya karena penasaran.


"Mungkin saingan dagang jenengan bu,saya


juga tidak mau suudzon," jawab pak Ustadz lagi.


"Terus bagaimana itu pak Ustadz?"


"Biar nanti saya tangani ya bu,bu Ida jangan khawatir,yang penting sekarang sumber masalahnya sudah terpecahkan."


"Terimakasih banyak pak Ustadz,"


"Iya sama-sama,Danu kemana? Kok dari tadi tidak kelihatan?"


"Ada pak Ustadz,di dalam kanan,dia kayak orang ketakutan gitu," jelas bu Ida kepada Ustadz Maulana.


"Boleh saya tengok?" Ustadz Maulana meminta izin kepada bu Ida.


"Iya pak Ustadz boleh,mari ikut saya," jawab bu Ida sambil mengajak pak ustadz masuk dan menuju kamarnya Danu.


"Danu,nak,ini ibu sama Ustadz Maulana,"


Danu membuka kain selimutnya dan melihat ke arah pak ustadz,buru-buru dia bangun dan duduk di tepi ranjang.


"Pak Ustadz," sapa Danu Sambil mencium punggung tangan Ustadz tersebut.


"Heemm,kamu kenapa Dan?" Tanya pak Ustadz kepada Danu.


"Saya merasa tidak tenang pak Ustadz,saya merasa dari tadi di awasi dan takut banget," jawab Danu yang masih menunduk kan wajah nya.


Pak Ustadz mencoba melihat sekeliling kamar Danu, '


sudah bersih,tidak ada apa-apa lagi di sini,Alhamdulillah.' 


Ustadz Maulana membatin dan mengangguk perlahan.


"Sudah,jangan khawatir,sudah aman kok," ucap pak Ustadz Maulana kepada Danu.


"Ya sudah bu Ida,saya pamit permisi,insya allah sudah tidak ada apa-apa,jangan lupa,banyak sholawat,Dzikri dan juga lima waktunya jangan sampai di tinggal," pesan Ustadz Maulana kepada bu Ida dan juga Danu.


"Terimakasih banyak ya pak Ustadz atas bantuan nya,"


"Iya sama-sama,saya permisi dulu ya,assalamualaikum," pamit pak Ustadz.


"Wa'alaikumsallam," sahut bu Ida dan juga Danu hampir bersamaan.


Ustadz Maulana pun pergi dan meninggalkan rumah bu Ida.

__ADS_1


"Danu,sudah tidak ada apa-apa nak,sudah aman,"


Jelas bu Ida kepada anaknya.


"Benar bu,tidak akan kembali lagi?" Tanya Danu masih was-was kejadian semalam terulang lagi.


"Iya,insyaallah sudah di tangani oleh pak Ustadz,ya sudah pergi mandi sana terus sarapan,"


Dan bu Ida pun beranjak pergi dari kamar Danu.


Berniat hendak mencuci pakaian yang belum sempat dia cuci.


Beliau juga akan pergi ke toko baju untuk membukanya sendiri.


Semenjak Anjani sudah tidak bekerja di sana lagi,bu Ida sedikit kerepotan.


Beliau berharap Anjani masih bisa bekerja lagi di tokonya,mengingat sekarang Danu juga sebentar lagi akan wisuda.


Selesai mandi,Danu berjalan menuju dapur untuk sarapan.


"Ibu masak apa hari ini?" Tanya Danu kepada ibunya yang sedang mencuci baju.


"Masak soto ayam tuh,sana cepet makan mumpung masih hangat," jawab bu Ida yang masih berdiri di dekat mesin cuci.


"Ibu sudah makanan?" Tanya Danu kepada ibunya.


"Ibu nanti saja,Selesai mencuci nanti,"


"Makan dulu sini bu,temani Danu,gak enak makan sendiri," rengek Danu dan bu Ida pun tidak sanggup menolak permintaan anak nya itu.


Mereka berdua pun makan sarapan bersama.


*************************


Dia masih trauma,mengingat apa yang telah terjadi padanya semalam membuat nya menangis tak tertahankan.


Tok!


Tok!


Tok!


Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar. Namun Vania masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur.


Air mata menetes deras bak air sungai yang mengalir.


Ya,semalam vania mengalami hal yang tidak pernah dia bayangkan.


Semalam dia berangkat ke rumah Sinta sehabis sholat Maghrib untuk Mengerjakan tugas sekolah dari gurunya.


Dia pulang sedikit larut karena tugas yang begitu sulit,dia pulang jam 20.00WIB.


Mengayuh sepeda dalam keadaan hujan gerimis,melewati jalanan yang sudah sepi orang berlalu lalang.


Waktu melewati gang sempit yang begitu gelap,sebenarnya dia takut namun tidak ada jalan lain lagi.


Hanya jalan itu akses menuju ke rumahnya.


Tanpa curiga sedikitpun dia dengan santai mengayuh sepeda nya melewati gang tersebut.


Ternyata di ujung gang terdapat segerombolan pemuda kurang lebih ada lima pemuda yang sedang mengadakan pesta miras.


Di lihat dari segi wajah,mereka berusia sekitaran 16-17 an tahun.

__ADS_1


Setara Dengan anak siswa SMA kelas 11.


Ada salah satu dari Mereka yang usianya sudah dewasa.


Sekitaran dua puluhan tahun.


Deg,hati Vania seketika menjadi was-was,takut apa yang akan terjadi nanti.


Dia mencoba untuk tenang.


Salah satu dari mereka berdiri dan mencoba menghentikan sepeda Vania.


"Hei cantik,nyalimu besar juga ya lewat sini,"


Goda pemuda tersebut seraya mencoba memegang tangan Vania. Dia mencoba menepis nya.


Karena dalam keadaan mabuk,pemuda tersebut emosi dan menjambak jilbab Vania.


Vania menjerit ketakutan,sepedanya jatuh dan dia juga tersungkur ke tanah.


Dengan wajah memelas dia meminta tolong untuk di biarkan lewat saja.


"Ma-maafkan sa-saya,to-long ijinkan sa-saya lewat," Vania memelas sambil terbata-bata.


Melihat Vania yang tidak berdaya membuat para pemuda itu tertawa lebar.


Karena bentuk tubuh yang bongsor,mereka mengira Vania anak remaja SMP kelas 8.


Pemuda yang menghadang Vania mencoba mendekatinya,tangan nya yang telah di rasuki setan mencoba membelai wajah cantiknya.


Jelas saja Vania menghindar dan....


Plak!!


Tamparan tak dapat ter elakkan karena dia mencoba melawan.


"Kurang ajar,berani-berani nya kamu mencoba menolak ku," geram sang pemuda.


Ternyata dia adalah ketua geng tersebut.


Empat yang lainnya pun mendekat dan mengitari Vania yang telah bersimpuh di tanah.


Sang ketua geng berjongkok,melambaikan tangannya,dalam artian menyuruh kepada ke empat temannya untuk memegang tangan dan kaki Vania.


Mereka pun memegangi tangan dan kaki Vania,dan membuatnya terlentang hingga tidak dapat berbuat apa-apa.


Entah setan mana yang telah merasuki jiwa sang ketua,tangannya mulai piknik ke bagian tubuh Vania.


Vania meronta,merintih meminta tolong di dalam gelap hujan gerimis.


Mendengar suara rintihan Vania,membuat sang bos geng lebih menggila.


Dia mencoba untuk menyingkap baju gamis yang di kenakan Vania.


Akankah ada yang menolong Vania?


Apakah mungkin akan ada seseorang yang mau menolongnya?


Mengingat kondisi tempat yang begitu remang-remang,jarang ada orang yang melewati jalan itu.


Di tambah lagi,jalan yang sedikit seram.


*******************

__ADS_1


__ADS_2