
Satu minggu kemudian...
Aku tidak percaya aku akan dinas keluar kota dengan Roni.
Ada apa dengan ku ini?
Mengapa hatiku sedikit bahagia?
Tidak!
Tidak mungkin,perasaan ini terasa aneh.
"Sania,kamu kenapa?" Roni melihat sikapku yang sedikit aneh.
"Ti-tidak apa-apa," jawabku sambil mengibaskan rambutku.
"Sepuluh menit lagi kita akan mendarat di kota tujuan,jangan lupa barang bawaannya,"
Dia bicara begitu dingin,kenapa dia berubah begitu?
Apa dia ada masalah?
Kenapa wajahnya sedikit kesal.
Ah,sudah lah,lupakan saja. Toh dia bukan siapa-siapa ku.
"Iya,aku tidak akan lupa kok," jawabku sambil tersenyum manis kepadanya.
Namun dia tidak menghiraukan ku.
Hatiku sakit? Ya,aku merasa sedikit kesal dengan sikapnya padaku.
Pesawat yang kami tumpangi sudah mendarat,kami berjalan menuju pintu keluar.
Tanpa aku duga,kami di jemput seseorang yang asing bagiku.
"Selamat siang tuan Roni," seorang pria setengah baya menyapa kami.
Dan Roni hanya mengangguk.
"Sania,silahkan masuk ke mobil," dia menyuruh ku masuk mobil dengan nada suara yang dingin ku rasa.
Tanpa banyak tanya,aku pun masuk mobil dan dia juga duduk di sampingku.
'Ada apa dengan Roni,sikapnya tidak seperti biasanya?Kenapa dia sekarang dingin kepadaku?'
Aku bicara sendiri dalam hati.
Sudahlah,mungkin dia lelah karena mengurus bisnis keluarga tidak mudah.
Aku melihat keluar jendela mobil,kota yang begitu asri.
Tertata pepohonan di tepi sepanjang jalanan.
Kami juga melewati taman kota yang begitu indah dan begitu tertata dengan indah.
Sepanjang perjalanan aku tidak menghiraukan Roni,aku menikmati pemandangan kota yang indah.
Tidak lama kami tiba di sebuah gedung yang menjulang tinggi ke langit.
"Pak Santo,tolong bawakan barang-barang kami ya," perintah Roni kepada sopir itu.
"Baik tuan,"
Kita berdua pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke gedung itu.
"Selamat datang di hotel kami tuan Roni,"
Apa?
Pegawai hotel pun kenal dengan Roni?
"Mari tuan,saya antar ke kamar tuan,silahkan ikut kami nona Sania,"
Mereka juga tahu namaku?
Menuju kamar tanpa mendaftar?
Ada apa ini?
Aku seperti linglung di buatnya.
Aku hanya mengikuti mereka dari belakang.
"Tuan,ini kamar anda dan kamar nona Sania berada tepat di sebelah kanan kamar anda,"
Sang pelayan hotel membuka pintu untuk Roni dan membawakan barang-barang nya masuk ke kamar.
"Terimakasih ya pak," Ucapku kepada pelayan itu.
Aku memberi dia uang tips dan menyuruhnya pergi karena kami sudah tidak butuh bantuan.
"Terimakasih nona,kalau ada apa-apa hubungi saya," ucapnya dan saya mengangguk.
Diapun pergi meninggalkan aku dan Roni dalam suasana beku seperti salju di kutub utara.
__ADS_1
"Ron,aku pergi ke kamarku ya,mau istirahat dulu capek seharian perjalanan," aku pamit kepada Roni dan dia masih seperti tadi.
"Iya,"
Jawabnya singkat.
Aku pun berlalu dan meninggal Roni di kamarnya.
Aku menuju kamarku.
Aku membereskan barang-barang ku dan bersiap untuk mandi.
Capek banget perjalan naik pesawat selama hampir 4 jam.
transit 2 kali membuat ku benar-benar capek.
Selesai mandi aku mencoba untuk merebahkan badan di atas kasur.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu kamar di ketuk.
"Sania,apa kamu tidak turun untuk makan malam?" Suara Roni terdengar di balik pintu.
Makan malam?
Emang sekarang jam berapa?
Ku coba melihat jam di layar ponselku.
Astaga,sudah jam 9 malam,aku tertidur sehabis mandi tadi.
"Ku rasa aku tidak ikut deh,aku masih merasa capek," jawabku melemah.
"Apa perlu aku meminta pelayan mengantar makan malam ke kamarmu?"
Kenapa dia begitu tiba-tiba perhatian kepada ku?
"Tidak usah,aku tidak lapar,"
Tidak ada jawaban,apa mungkin dia sudah pergi?
Sudahlah,aku akan melanjutkan tidurku.
Tok!
Tok!
Tok!
Aku melirik jam yang ada di dinding tepat di depan ranjang ku.
Jam 00.00 WIB?
Siapa yang mengetuk di jam segini.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
Semakin keras pintu di ketuk.
Aku dengan sedikit malas,bangun dan berjalan menuju pintu.
Ku coba mengintip dari balik pintu.
Roni!?
Aku kaget,kenapa dia tengah malam begini mencari aku?
"Sania!!! Buka pintu nya!!!"
Berteriak di tengah malam begini,ganggu orang tidur saja.
Ceklek,
Ku buka pintu kamarku,Roni yang ada di depanku sempoyongan langsung ambruk di pelukanku.
Aku mencium bau alkohol dari tubuhnya.
Ada apa sebenarnya?
Tidak biasanya dia mabuk sampai seperti ini.
"Roni kamu kenapa?"
"Sania,sampai kapan kamu akan menolak aku,hah!?"
Dia meremas pipiku sampai terasa panas.
__ADS_1
"Roni kamu mabuk,lebih baik aku antar kamu pergi ke kamar mu ya," aku mencoba membujuk nya.
"Tidak! Aku mau tidur di sini sama kamu," berjalan sempoyongan menuju tempat tidurku?
Bruk!
Dia ambruk di ranjang ku.
Ya Tuhan,apa yang harus aku lakukan?
Aku berdiri di samping nya.
Dengan seksama,aku mencoba memandangi dia yang sudah tertidur.
Melihat wajahnya yang begitu polos saat dia tertidur.
Tiba-tiba dia bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Roni,kamu kenapa?" Ku coba bertanya dengan nada pelan.
Dia malah menarik tanganku,membuat aku terjatuh di pangkuannya.
Deg!
Baru pertama ini wajahku beradu begitu dekat dengan dia.
Aku mencoba memberontak,namun semua sia-sia.
Dia memeluk pinggang ku terlalu erat.
"Sania,kamu tahu,aku begitu sangat menyukai kamu," dia mencoba mencium leherku.
Ini tidak boleh,dia mabuk. Aku harus melepaskan pelukannya.
"Roni,lepaskan dulu,kita bisa bicara baik-baik,oke," dia semakin erat memeluk ku.
"Tidak,aku tidak mau melepaskan mu,sampai kapanpun. Kamu milik ku Sania," terasa hangat nafasnya di belakang telingaku.
Aku harus bagaimana,ya Tuhan apa yang harus aku lakukan.
Aku mencoba berbalik dan memegang wajahnya.
"Roni,kamu tenang dulu ya,aku ambilkan air minum," untungnya dia setuju dan aku bisa lepas dari pelukannya.
Ku coba berdiri dan mengambil air minum.
Ku sodorkan segelas air hangat kepadanya.
Setelah minum,dia kembali ambruk lagi.
Dia langsung tertidur begitu saja?
Hmm,memang kalau orang sedang mabuk seperti orang gila.
Ngomongnya ngelantur.
Ya sudahlah,biar malam ini dia tidur di sini dan aku akan tidur di lantai.
Ku bantu melepaskan sepatunya dan menyelimuti nya.
Aku bersiap tidur di lantai,sebelah ranjang ku.
Aku masih memikirkan Roni. Ada apa dia sebenarnya?
Seingatku,dia tidak pernah bergaul dengan yang namanya miras.
Apa belakangan ini,dia memiliki tekanan hingga dia berada di jalan buntu?
Entahlah.
Semoga malam ini cepat berlalu dan pagi akan segera datang.
...****************...
Silau,aku mengernyitkan mata,ternyata matahari sudah naik dan masuk lewat cela jendela kamarku.
Aku masih tidur di lantai.
Ku coba bangun dan akan melihat Roni sudah bangun apa belum.
Bruk!
Roni jatuh dari ranjang dan dia menindih tubuhku?
Apa lagi ini?
Sekali lagi,wajahku beradu dengan nya.
Mata kami saling menatap.
Kenapa?
Ada apa?
Apa yang akan Roni lakukan padaku sekarang?
__ADS_1
Mengapa dia tidak segera bangkit?
...****************...