The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 6


__ADS_3

Mereka berdua sampai di rumah bu Ratna,Jarak yang perlu mereka tempuh kisaran 10 menit dari rumah.


"Assalamualaikum,bu Ratna."


"Waalaikumsalam,eh kalian berdua,mari duduk dulu." jawab bu Ratna sambil menyuruh mereka duduk.


"Ibu ambilkan uang dulu ya," dan bu Ratna masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang.


Anjani dan adiknya duduk di teras rumah bu Ratna,tak lama bu Ratna keluar sambil membawa uang buat membayar kue yang di pesannya.


"Maaf bu,bukankah ini kebanyakan?" Tanya Anjani sambil menghitung lembaran yang di kasih oleh bu Ratna.


"Tidak apa-apa,lebihnya buat kamu sama adik kamu." bu Ratna memang orang kaya dan terpandang di kampung itu,tapi dia tidak sombong dan tidak pelit.


"Terimakasih banyak bu,kalau begitu kami permisi,mau pulang." ucap Anjani dan mereka pun berpamitan untuk pulang.


Di jalan,tidak sengaja mereka bertemu Wanda yang entah dari mana,dia naik motor dari arah berlawanan dan Wanda menghentikan laju motornya.


"Anjani...!!" Teriak Wanda dari arah seberang jalan.


Seketika Anjani menghentikan sepedanya dan Wanda pun mendekat.


"Kamu dari mana?" Tanya Wanda.


"Dari rumah bu Ratna,mengantar kue." jawab Anjani.


"Kamu sendiri dari mana? Lama tidak ketemu." Anjani balik bertanya.


"Panjang ceritanya."


"Intinya,aku di paksa bapak sama ibu untuk kuliah,sebenarnya sih aku sudah bosan sekolah,sudah males mikir pelajaran." gerutu Wanda.


"Kamu mestinya bersyukur,bisa kuliah,coba lihat aku,boro-boro kuliah,asalkan setiap hari bisa makan itu alhamdulillah banget." timpal Anjani sedikit menasehati sahabatnya itu.


"Aku mau tanya sesuatu deh sama kamu."


"Tanya apa?"


"Kamu beneran akan di lamar ustadz Malik?"


"Kamu tahu dari mana?" Anjani balik bertanya.


"Gosipnya sudah menyebar di penjuru surau." ledek Wanda.


Beberapa hari terakhir Anjani memang tidak ke surau karena sedang datang bulan.

__ADS_1


Anjani tertunduk mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu,di susul kemudian dengan menghela nafas. Dia gusar,bimbang.


"Aku...," Anjani menggantung kalimatnya.


"Sudah,jangan gusar,suatu saat kamu pasti akan bisa menerimanya dengan sepenuh hatimu." Wanda mencoba mengutkan hati sahabatnya itu.


"Aku pulang dulu ya,takut ibu nyariin,soalnya tadi aku pergi tidak pamit." ucapan Wanda.


Mereka akhirnya menghentikan obrolannya dan Anjani melanjutkan mengayuh sepedanya.


"Kak,apa benar kakak mau menikah sama ustadz Malik?" Tanya Vania yang sedari tadi menjadi pendengar,sepanjang kakaknya ngobrol sama Wanda.


"Enggak tahu Van,kakak masih bingung,belum punya jawaban yang sesuai." jawab Anjani lesu.


Mereka berdua melanjutkan perjalan menuju rumahnya.


\*\*\*\*


Awan terlihat begitu hitam di sertai angin kencang,sepertinya akan segera turun hujan. Pak Tarno yang masih berada di sawah,bergegas untuk pulang,karena cuaca yang begitu buruk,dia takut nanti hujan lebat dan tidak bisa pulang.


"Jo,ayo pulang,kelihatannya akan turun hujan," pak Tarno memanggil Bejo,tetangganya yang juga berada di sawah.


"Iya pak,angin juga terlalu kencang." Bejo pun memutuskan untuk pulang bareng pak Tarno.


Dalam perjalanan pulang,mereka berdua melewati pematang sawah yang licin karena hujan semalam,cuaca sekarang memang tidak dapat di prediksi. Terkadang panas terik menyengat sampai berminggu-minggu,lalu beberapa hari kedepan turun hujan sangat lebat di Sertai angin kencang.


"Iya Jo,angin juga kencang banget,kayak mau banjir," ucap pak Tarno sambil memegangi caping (tudung kepala) menggunakan tangan nya.


Mereka berdua jalan sempoyongan karena di terpa angin kencang. Gerimis mulai turun tatkala mereka masih berada di tengah pematang sawah.


"Jo,bagaimana ini? Angin semakin kencang dan hujan sudah mulai turun?" Pak Tarno mulai merasa panik.


"Bagaimana kalau kita berteduh di gubug dulu pak,sambil menunggu hujan reda." usulan Bejo di iyakan oleh pak Tarno. Mereka berdua berjalan menuju gubug yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berjalan.


"Kita berteduh di sini saja dulu pak," saran Bejo sambil meletakkan cangkulnya.


"Iya bener,daripada nanti kita kehujanan,jarak rumah kita juga masih jauh."


Hujan deras bercampur angin di barengi dengan suara petir menggelegar di langit,membuat siapa saja yang mendengarnya pasti merinding ketakutan. Di tambah lagi waktu sudah beranjak sore.


Di rumah terlihat bu Mirna dari tadi keluar masuk rumah,dia mencemaskan pak Tarno yang masih belum pulang juga,hujan deras membuat bu Mirna semakin gusar.


'Ya Allah,semoga tidak terjadi hal buruk kepada suami hamba,lindungi dia ya Allah'


Ucap bu Mirna dalam hati,sambil terus mondar-mandir mengharap suaminya datang.

__ADS_1


Terdengar suara pohon tumbang,sepertinya menimpa rumah warga sekitar. Namun bu Mirna tidak berani keluar karena hujan masih deras di sertai angin kencang.


"Ibu kenapa? Dari tadi keluar masuk?" Tanya Vania dengan rasa penasaran.


"Bapak kamu,belum pulang," ucap bu Mirna gugup.


"Memangnya bapak ke mana to bu?" Tanya Vania lagi.


"Pergi ke sawah,hujan deras begini belum pulang,ibu jadi kepikiran,"


"Ya Allah bapak,semoga tidak terjadi papa sama bapak ya bu," Vania memeluk ibunya yang dari tadi berdiri di samping jendela.


"Iya,semoga Allah selalu melindungi bapak mu dan semoga hujan segera berhenti,"


"Amiinn...," jawab Vania.


Di gubug tempat pak Tarno dan pak Bejo berteduh,angin menerpa dengan sangat kencang,membuat gubug terguncang dengan hebat,sampai hampir roboh.


"Pak Tarno,gimana ini? Hujan semakin deras," pak Bejo mulai panik.


"Iya Jo,aku juga panik,malam juga akan segera datang,kalau kita pulang sekarang juga gak mungkin,angin masih kencang,hujan juga semakin deras,"


"Bagaimana kalau kita bermalam di sini saja?"


"Ya gak mungkin lah Jo kita bermalam di sini,anak istri kita di rumah pasti kepikiran. Kita tunggu saja hujannya reda,lalu kita pulang," ujar pak Tarno dan pak Bejo pun menyetujuinya.


Mereka berdua mulai merasa kedinginan,hujan sudah mulai sedikit reda,angin juga tidak seperti tadi.


"Pak Tarno,sudah mau masuk magrib,hujan juga sedikit reda,lebih baik kita pulang sekarang saja," ajak pak Bejo.


"Ya sudah,yuk kita pulang,cangkulnya jangan lupa di bawa,takut ada yang ngambil kalau ketinggalan," pak Tarno mengingatkan.


Akhirnya mereka berdua pulang sambil membawa cangkul dan kembali berjalan melewati pematang sawah yang becek dan licin.


Mereka pun sampai di perkampungan warga,dan pak Bejo melihat ada rumah salah satu warga tertimpa pohon nangka,untung hanya teras rumahnya dan Alhamdulillah tidak ada korban jiwa.


Banyak warga berbondong-bondong membantu rumah mbok Ijah.


Untung hujan sudah reda,jadi warga bisa bergotong royong membantu menyingkirkan kayu pohon nangka.


Adzan maghrib berkumandang,pak Rt bilang sama mbok Ijah, "Mbok Ijah,hari sudah malam,kami akan melanjutkan membantu membersihkan rumah mbok Ijah besok ya,"


Dan mbok Ijah menyetujuinya,"Iya pak Rt,terimakasih banyak atas bantuannya,"


"Iya mbok,sama-sama,kami permisi dulu,mau ke surau untuk sholat berjamaah," pak Rt dan juga segenap warga berpamitan kepada mbok Ijah.

__ADS_1


Pak Tarno dan pak Bejo pun juga ikut berpamitan,mereka berdua pulang kerumah masing-masing dan bergegas mandi untuk menjalankan sholat maghrib.


\*\*\*


__ADS_2