
Anjani yang masih sibuk membersihkan Rumah barunya,di bantu juga oleh sang suami.
Anjani sedikit lega karena telah memiliki Rumah sendiri,meskipun terlihat sederhana namun dia bahagia.
Sibuk seharian Membuat Anjani kelelahan,dia mencoba istirahat dan duduk di sofa ruang tengah,dia memperhatikan Suaminya yang sedang memasang kabel TV.
Diam-diam Anjani mulai merasa iba dan juga kasihan pada suaminya.
Dia juga merasa bersalah karena masih belum bisa menjadi istri yang sebenarnya.
Ya,sudah hampir dua bulan mereka menikah dan Anjani masih belum Bisa menjadi istri yang sebenarnya.
Dalam artian,dia belum mau di jamah oleh sang suami.
Memandang wajah sang suami dari arah samping,menatapnya dalam-dalam.
Perlahan Anjani mendekat dan mengusap keringat yang mengalir di pelipis suaminya.
Sontak saja,Malik terkejut dengan apa yang telah di lakukan oleh istrinya itu.
Seketika Malik berpaling dan memandang ke arah Anjani,mata mereka saling beradu.
Baru kali ini wajah mereka berdua beradu pandang dengan jarak yang begitu dekat.
Wajah putih Anjani berubah memerah seperti tomat masak.
"Apa kamu sakit,Anjani?" Tanya suaminya sambil memegangi wajah Anjani dengan kedua tangan nya.
Anjani hanya menggeleng kepala pelan.
Dadanya berderu seperti gendang,dia memejamkan mata karena menahan malu.
Malik tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke pipi Anjani,tanpa sengaja Anjani menoleh dan seketika bibir mereka berdua bersentuhan.
Anjani semakin malu,dia hendak pergi namun tangannya di tahan oleh Malik.
"Anjani,aku benar-benar tulus mencintai kamu,aku juga sudah bersabar selama ini,dan hari ini izinkan aku," Malik membelai lembut rambut Istri nya itu.
Belum sempat Anjani menjawab pernyataan Malik,mulutnya yang menganga karena tidak sadar apa yang telah terjadi.
Membuat Malik semakin bergairah ingin memiliki istrinya seutuhnya.
Dengan sigap Malik membopong Anjani masuk ke dalam kamar.
Kamar baru,menjadi saksi bisu malam pertama pernikahan mereka,meski sudah hampir dua bulan.
Baru hari ini Malik bisa memiliki semua yang ada pada diri Anjani.
***********************
Sudah hampir masuk waktu maghrib dan mereka berdua masih berada di atas ranjang.
Mungkin masih kelelahan menjalankan kewajiban nya sebagai suami istri.
Perlahan Malik membuka matanya dan melihat sang istri masih terlelap di sampingnya.
Perlahan dia beranjak dari tempat tidurnya hendak mandi dan membersihkan diri.
__ADS_1
Sebenarnya Anjani juga sudah bangun namun dia masih malu-malu untuk membuka matanya.
Melihat suaminya sudah keluar dari kamar,Cepat-cepat dia bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.
Anjani berjalan menuju dapur,memeriksa apakah masih ada yang bisa di masak untuk makan malam sembari menunggu suaminya selesai Menggunakan kamar mandi.
Karena dia juga harus membersihkan diri sehabis menjalankan kewajiban sebagai seorang istri.
Selang beberapa menit Malik keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sedang berdiri di dekat kulkas,memeriksa ada apa di dalam kulkas.
Malik mendekati istrinya dan memeluk dari belakang.
"Kamu sedang apa,sayang?" Suara lembut Malik membisiki ke telinganya,membuat jantungnya berdetak kencang.
"Ma-mas Malik,aku sedang memeriksa apakah ada bahan makanan yang bisa di masak untuk makan malam kita nanti," jawab Anjani masih membelakangi Malik.
"Mandi dulu sana gih,sehabis sholat maghrib kita pergi ke minimarket belanja kebutuhan rumah," ucap Malik masih memeluk istrinya dari belakang.
"I-iya deh mas,aku mandi dulu,lepasin pelukannya dong," Anjani masih juga malu terhadap suaminya.
Malik pun melepaskan pelukannya dari tubuh Anjani. Dan Anjani pun segera menuju ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
Perlahan tapi pasti,kebekuan antara suami istri mulai mencair.
Beruntung mereka sudah pisah rumah dan tinggal berdua saja,tidak akan ada yang mengganggu dan rasa canggung.
********************
Vania masih mengurung diri di kamar,teringat lagi apa yang telah dia alami semalam.
Lima orang pemuda yang mencoba merusak masa depannya.
Menjerit,menangis,merintih,mencoba meronta dan meminta tolong,namun sayang sia-sia saja teriakan nya itu.
Empat pemuda yang memegangi tangan dan kakinya,sang bos geng dengan leluasa tangannya piknik dari mulai ujung kaki Vania yang begitu mulus.
Meraba hingga naik ke paha. Vania menangis sejadi-jadinya.
'Ya Allah,tolong selamatkan hamba' isak Vania Tanpa mereka hiraukan.
Mereka berlima tertawa terbahak melihat kondisi Vania yang tidak berdaya itu.
Andi-sang bos geng. Semakin mengila mendengar tangisan Vania.
"Malam ini,kamu menjadi milik ku," ucap Andi yang masih Mencoba merobek celana laging milik Vania. Di barengi tawa yang menggema.
Vania menutup matanya karena tidak percaya apa yang terjadi sekarang.
Berharap semua ini hanya mimpi.
Ketika dia membuka matanya lagi,ini bukankah mimpi.
Dengan sisa-sisa tenaga,dia mencoba berteriak lagi,
Tolooonnggg!!!!!
Suara Vania menggelegar,Membuat telinga siapa saja yang mendengar merasa teriris hatinya.
Lima pemuda itu malah tertawa lebar,mendengar teriakan Vania yang meminta tolong.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara motor yang datang dari arah berlawan mendekati sumber suara teriakan Vania yang meminta tolong.
Terlihat mereka bertiga,satu di antaranya berboncengan dan yang satu sendirian.
Segera orang yang mengendarai motor itu menstandar motornya dan berlari mendekat kepada kelima pemuda itu.
"Hei...!"
Hasan-abang nya Sinta,berlari bersama teman-teman nya sambil berteriak mendekati mereka berlima.
Sontak saja mereka terkejut. Tidak mungkin di tempat sepi begini saat malam pula ada orang lewat.
"Apa yang kalian lakukan bung?" Tanya Hasan sambil berkacak pinggang.
"Lepaskan anak itu,kalau tidak aku akan menghubungi polisi," perintahnya dengan kasar.
"Eh,mas Hasan,jangan mas,kita cuma bercanda saja kok," Andi mencoba menenangkan hati Hasan.
"Candaan kalian keterlaluan!" Teriakan teman Hasan,Warso.
"Hei,kalian,lepaskan gadis itu!" Perintah Andi kepada ke empat teman nya yang masih memegangi tangan dan kaki Vania.
Segera mereka mendengarkan perintah bos nya.
"Pergi kalian dari sini,sebelum aku berubah fikiran!" Gertak Hasan dan mereka pun berlarian tunggang langgang.
Hasan mendekati Vania dan melepaskan jaket yang dia kenakan untuk menutupi pakaian Vania yang sempat sobek.
Vania hanya menangis,beridiripun rasanya sulit,tiba-tiba dia pingsan di tangan Hasan.
Dengan cekatan,Hasan menggendong Vania dan membawanya menggunakan motor.
Salah satu temannya membawa sepeda Vania.
Hasan dan juga teman nya mengantar Vania pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah,kedua orang tua Vania terkejut melihat keadaan anak gadisnya seperti itu.
Segera pak Tarno menyuruh Hasan membawa Vania masuk ke kamarnya.
Bu Mirna menemani Vania di kanan dan menangisi musibah yang telah menimpa anaknya.
Pak Tarno keluar menemui Hasan dan juga temannya.
Mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Vania yang begitu buruk kondisinya.
Kemudian Hasan menceritakan Kejadiannya.
Tanpa sadar,pak Tarno menitikkan air mata,mendengar cerita dari Hasan.
Akankah pak Tarno melaporkan perbuatan mereka kepada pihak berwajib?
Akankah dia di beri keadilan?
Mengingat posisi dia yang hanya kuli sawah dan si istri cuma pesuruh?
Mungkinkah Vania mendapatkan keadilan,jika sang bapak menegakkan kebenaran?
****************
__ADS_1