The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 29 Kamu kuat


__ADS_3

Pagi ini Anjani pergi ke pasar untuk belanja sayur mayur dan juga lauk pauk.


Perut buncitnya semakin membesar.


Ya,Anjani mengandung lagi anak ke dua,sudah berumur tujuh bulan kandungan yang berarti anak pertamanya sekarang berumur dua tahun.


Sedikit repot untuk Anjani belanja sambil menggendong Syifa.


Semua mata melihat ke arah Anjani uang sedang berjalan memilih sayuran.


Tidak sedikit juga mereka bergosip.


Anjani tidak menghiraukan gosip ataupun gunjingan orang-orang yang ada di pasar.


"Ibu,Syifa mau itu," rengek Syifa kepada Anjani sambil menunjuk balon yang ada di depan pintu pasar.


"Iya nanti beli ya," bujuk Anjani.


Untung Syifa anak yang nurut,dia juga anak yang cerdas.


Mereka berdua sudah selesai belanja dan pulang ke rumah menggunakan sepeda.


Sambil mengayuh sepeda,Anjani teringat kejadian kemarin pagi.


Pas dia menjemur pakaian,seperti melihat seseorang yang sedang berbincang di pinggir jalan.


Hatinya terasa sesak jika mengingat kejadian itu.


'Mas Malik,kamu benar-benar berubah,aku sudah tidak mengenali dirimu lagi,' batin Anjani sepanjang perjalanan pulang dari pasar.


Lagi,bulir bening menetes membasahi pipinya.


Dia segera mengusapnya,jangan sampai Syifa melihatnya bersedih.


Anjani pun sampai di rumah. Ibu mertua sedang menunggunya di teras rumah.


Anjani seketika ketakutan melihat ibu mertua yang sedang duduk di sana.


Walau bagaimanapun juga,Anjani harus tetap menghadapi nya.


"Assalamualaikum bu,ibu sudah lama?" Tanya Anjani mengulurkan tangan hendak menciumnya namun di tepis sama ibu mertuanya.


Anjani hanya tersenyum kecut dan memanggil Syifa agar mau salim sama neneknya.


"Syifa,beri salam sama nenek," ucap Anjani kepada putri kecilnya itu.


Namun Syifa malah sembunyi di balik badan Anjani.


Ya jelas sang nenek marah dan ngomel kepada Anjani.


"Begini nih kalau tidak becus mendidik anak,masih kecil sudah tidak tahu sopan santun,bagaimana kalau besar kelak!" Sungguh ucapan ibu mertua membuat hati Anjani teriris.


Namun Anjani mencoba untuk bersabar dan menguatkan hati.


'Kamu harus kuat Anjani,' bisiknya dalam hati.


Ceklek!


Anjani membuka pintu dan mempersilakan ibu mertuanya masuk.


Bu Fatimah langsung nyelonong masuk sambil membawa tas.


Tas besar? Apa isi di dalam nya.


"Anjani,mulai hari ini aku akan tinggal di sini,sampai aku bosan," celetuk bu Fatimah sambil duduk di sofa ruang tengah.

__ADS_1


Deg!


Anjani kaget dan juga bingung,bagaimana ini?


Mas Malik saja,beberapa bulan terakhir sudah membuat nya stres di tambah ibu mertua yang cerewet.


'Ya Allah,inikah ujian?' Menangis batin Anjani.


"Ngapain kamu hanya bengong di situ? Cepetan pergi masak,aku sudah lapar,"


Anjani hanya mengikuti perintah ibu mertuanya.


Dia segera pergi ke Dapur dan mulai memasak sayur dan juga lauk pauk.


Sedang mencuci sayur,ibu mertua menghampiri sambil melihat perut Anjani yang sudah terlihat membuncit.


"Anak masih kecil,sudah hamil lagi,dasar cuma nyusahin suami saja kamu ini,Memangnya kamu tidak KB?"


Ya Allah,bagai di sambar petir di siang bolong Anjani mendengar ucapan ibu mertuanya.


'Andai engkau tahu ibu,anak lelakimu lah yang menginginkan aku untuk hamil lagi,andai engkau tahu,anak lelakimu yang melarang aku untuk ikut program keluarga berencana,apa engkau masih bisa ngomong seperti itu ibu?'


Anjani hanya bisa membatin dalam hati.


"Malah bengong,sudah cepetan masak,aku sudah lapar," bentak bu Fatimah.


Anjani mulai menggoreng lauk,menumis sayur kangkung yang tadi baru saja dia beli di pasar.


Bu Fatimah hanya duduk di depan tv sambil melihat berita hari ini.


"Sudah matang bu,mari makan bersama," ucap Anjani sambil mempersiapkan alat makan.


"Aku gak mau makan satu meja sama kamu,kecuali kalau Malik di rumah,kamu jangan coba-coba mengadu sama Malik ya!"


Anjani hanya bisa menangis.


"ibu,kenapa menangis?" Tanya Syifa dengan nada lugu.


"Ibu tidak nangis kok,tadi kena bawang jadi mata ibu perih," Anjani berbohong kepada anaknya.


Jelas dia menangis,namun tidak mungkin jujur kepada Syifa yang masih lugu.


"Ibu,Syifa mau minum susu," dia merengek,mungkin dia mengantuk karena sudah waktunya untuk tidur siang.


"Syifa tunggu di sini ya,ibu buatkan susu dulu," ucap Anjani dan Syifa hanya mengangguk.


Sang mertua yang sudah selesai makan,dia langsung masuk kamar tanpa membereskan piring kotor bekas dia makan.


Anjani hanya mengelus dada dan menguatkan diri sendiri. Dia menghela nafas panjang.


Dengan sabar dia membereskan meja makan dan mencuci piring kotor.


Sampai lupa tujuan nya,membuat kan susu untuk Syifa.


Karena terlalu lama menunggu ibunya membawa susu,dia sampai tertidur di atas sofa.


Anjani membelai lembut rambut anaknya itu. Di ciumnya kening gadis cilik itu.


'Maafkan ibu ya nak,ibu masih belum bisa membahagiakan kamu," menetes lagi air mata Anjani.


Sudah berapa liter air mata Anjani keluar untuk hari ini saja.


Anjani membopong Syifa untuk pindah ke kamar dan dia membereskan mainan milik anaknya itu.


Selesai beberes,Anjani kembali ke dapur untuk mengambil makan siang.

__ADS_1


Dia baru ingat kalau tadi pagi dia belum sarapan,pantesan dia merasa begitu lapar.


Hari yang begitu melelahkan. Betapa lelahnya jika ibu mertua juga tinggal di sini.


Anjani dari pagi sampai sore bekerja membereskan rumah seperti kuda.


Ibu mertua yang dengan sengaja membuat ulah.


Kadang pot di jatuhkan dengan sengaja. Kadang berjalan ke luar tanpa memakai sendal.


Dia masuk rumah begitu saja tanpa mencuci kaki.


Lantai baru saja di pel dan masih basah,dia sengaja berjalan mondar mandir keluar masuk tanpa alasan.


Memang ibu mertua Anjani dari awal sudah tidak menyukai nya.


Sepertinya dia akan balas dendam kepada Anjani.


Tapi apa salah Anjani hingga di hukum seperti itu.


Hari semakin sore,Malik baru saja pulang dari tokonya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum,Anjani," suara dari balik pintu. Itu suara Malik.


Dengan tergopoh sang ibu yang membukakan pintu.


Ceklek!


"Waalaikumsalam,nak kamu sudah pulang?" Jawab ibunya.


"Ibu! Sudah lama ya di sini?" Jawab Malik dan langsung memeluk ibunya.


"Ibu sudah seharian di sini,ibu kangen sama Syifa,makanya ibu datang," jawab ibunya sambil mengajak nya duduk di ruang tengah.


Anjani yang mendengar dari arah dapur hanya tersenyum sinis.


'Kangen Syifa? Cucunya mendekat saja di bentak-bentak,kangen dari mana,' kata Anjani dalam hati.


"Anjani sama Syifa kemana bu?" Tanya Malik kepada ibunya.


"Mereka sedang berada di kamar mandi,sebenarnya ibu ingin sekali memandikan Syifa,tapi dilarang oleh Anjani," kata ibunya dengan suara sedih tapi palsu.


"Benarkah? Biar nanti ku tegur Anjani," ucap Malik emosi karena dia merasa Anjani tidak menghormati ibunya.


"Anjani!!" Malik berteriak memanggil Anjani yang sedang memakaikan baju anaknya.


Anjani yang sudah mendengar obrolan mereka berdua sudah mengerti apa maksud panggilan suaminya itu.


'Ya Allah beri hamba kekuatan hati,'


Tap!


Tap!


Tap!


Malik berjalan mencari Anjani.


Di mana wanita itu?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2