
Di rumah ustadz Malik, Sarah sudah mulai mempersiapkan kebutuhan untuk melamar Anjani,dua hari lagi lamaran itu akan di gelar di rumah Anjani.
"Ibu,beli cincin apa tidak ya buat lamaran besok?" Sarah bertanya kepada ibunya.
"Beli juga boleh,tapi yang emas muda saja,ngirit," celetuk bu Fatimah.
"Kok gitu bu?" Sarah heran dengan jawaban ibunya.
"Udah gak papa,lagian Anjani kan miskin,paling dia juga tidak tahu kalau itu emas muda," jawab bu Fatimah ketus.
"Ibu kok ngomongnya gitu sih? Dia calon mantu keluarga kita lho bu?"
"Ibu gak suka sama dia," jawab bu Fatimah sambil menlengos.
"Kalau ibu tidak suka,kenapa ibu merestui hubungan ini?" Tanya Sarah heran.
"Adik kamu tuh,ngerengek kayak anak kecil,minta restu menikahi Anjani dan bapak kamu juga mendukung,ya sudah,terpaksa ibu restui meskipun harus bersandiwara di depan mereka," kata bu Fatimah kesal.
"Astagfirullah ibu,kalau gak suka,ya sudah bilang saja tidak,"
"Kamu tidak tahu ya,adik kamu tuh ngancam,tidak akan menikah selain dengan si Anjani itu," bu Fatimah semakin emosi.
"Kalau ibu sih,lebih suka sama Sania,anak pak Herman tuh,sudah cantik,mudah bergaul,berpendidikan,pokoknya,Anjani tidak sebanding dengan dia,di tambah lagi ya,Sania sederajat sama keluarga kita,tidak seperti keluarga Anjani,kerjanya cuma ngutang sana sini,Sudah gak usah di bahas,seserahan ibu pasrahkan ke kamu sepenuhnya,ibu tidak mau tahu,ibu capek mau tidur,"
Sarah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ibunya itu.
Sarah masih sibuk dan meng ingat-ingat apa saja yang akan dia beli besok.
Mau tanya sama ibunya juga percuma,mau tanya sama Malik dia masih ke sawah membantu bapaknya menanam sayuran.
Dia hanya sesekali menghela nafas dan berharap acara lamaran besok berjalan dengan lancar.
Tiba-tiba pintu rumah di ketuk dari luar,
Tok!! Tok!! Tok!!
"Assalamualaikum," suara dari balik pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Sarah sambil membuka pintu,ternyata mas Toni,suami Sarah.
"Mas,tumben baru pulang?" Sambut Sarah seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Iya,tadi melayat kerumah saudara teman," Toni adalah seorang guru bahasa arab di salah satu MTs di kampungnya,biasanya sehabis dzuhur di sudah pulang,tapi hari ini menjelang ashar baru sampai rumah.
"Kamu sedang apa?" Tanya Toni kepada Sarah.
"Ini,sedang mempersiapkan parsel buat lamaran besok," jawab Sarah sambil menuju tempat dia tadi duduk.
"Anak-anak kemana,tumben sepi?"
"Sedang tidur,"
Sarah memiliki 2 malaikat yang cantik-cantik dari pernikahannya, Amelia berusia 6 tahun yang sudah sekolah TK dan Salma yang baru berusia 2 tahun.
__ADS_1
"Ohh,pantesan rumah agak sepi," sahut Toni sambil duduk di sebelah Sarah yang masih sibuk mempersiapkan keperluan lamaran.
"Mas,besok beli cincin couple tidak ya? Apa pas nikahan saja tukar cincinnya?" Tanya Sarah kepada sang suami untuk meminta pertimbangan.
"Kok malah tanya sama mas,ya mas tidak tahu lah dek,coba tanya sama ibu," jawab Toni kebingungan.
"Hmm,ibu ngambek tuh di kamar,"
"Kok ngambek,kayak Amel saja?"
"Tau ah,pusing," Sarah meninggalkan suaminya dan menuju ke kamar hendak membangunkan anaknya yang sedang tidur karena sudah sore.
\*\*\*
Di rumah keluarga bapak Herman,ada Wanda,Sania dan juga kedua orang tuanya sedang asyik mengobrol di ruang tengah,kebetulan hari ini hari minggu tak heran jika Sania ada di rumah.
"Kamu akan kuliah di mana,Nda?" Tanya Sania kepada adiknya itu.
"Bapak,ibu,Wanda tidak ingin kuliah," rengek Wanda kepada orangtuanya.
"Kuliah tidak mau,kerja juga tidak mau,apa kamu mau nikah saja!!?" Geram ibunya karena bapaknya terlalu memanjakannya. Maklum,Wanda anak bungsu,pantas saja bapak dan juga kakak nya terlalu memanjakan dia.
"Pak...," rengek Wanda kepada bapaknya. Tapi kali ini sang bapak tidak bisa lagi membelanya karena beliau sudah berjanji sama istrinya tidak akan membela anak tersayang nya.
"Sudah,nurut saja sama ibu kamu,toh juga demi kebaikanmu,kan?" Ucap pak Herman kepada Wanda.
"Sekarang kamu pilih,kuliah,kerja apa nikah?" Tanya ibunya sedikit menggertak.
"Ibu,mana mungkin Wanda nikah sekarang,kuliah juga membosankan,"
"Gimana Wanda? Kuliah apa nikah?" Ibunya semakin memojokkan Wanda.
"Iya deh,Wanda kuliah saja,daripada nikah muda," akhirnya Wanda nyerah dan ibu bernafas lega. Sang ayah ngacungi jempol tanda setuju.
"Nah gitu,jangan sukanya lontang-lantung kayak anak jalanan saja," kata ibunya di sambut tawa cekikikan Sania dan juga bapaknya. Wanda manyun.
"Kuliah di kampus Danu saja," saran Sania,lagi-lagi bapak nya setuju.
"Iya,di kampus Danu saja,biar tidak terlalu jauh juga," timpal ibunya. Wanda hanya diam dan menghela nafas panjang.
Sehabis perdebatan sengit antar emak dan anak,bu Siti bangkit dari tempat duduknya menuju ke dapur,di susul Sania yang akan berbaring di kamar karena merasa capek.
Pak Herman juga pergi meninggalkan Wanda seorang diri di ruangan itu.
Tidak kuliah di suruh nikah. Kalau kuliah mau ambil jurusan apa? Wanda sendiri bingung,karena selama sekolah tidak ada mapel yang dia sukai.
Semakin di pikirkan semakin pusing dan Wanda mengacak-acak rambutnya,hingga seperti sarang burung perkutut.
\*\*\*
Di warung bakso mang Ujang,terlihat Danu dan juga Andra-teman kuliah Danu,sedang malan bakso di sana. Dari Danu SD,bakso mang Ujang memang sudah menjadi favorit nya,sampai sekarang dia masih menjadi pelanggan setia.
"Eh,nak Danu,sudah lama ya?" Tanya istri mang Ujang kepada Danu,mereka memang sudah kenal lama,tak heran jika bu Tini terlihat akrab dengan Danu.
__ADS_1
"Lumayan deh bu," jawab Danu.
"Ini teman kamu apa saudara dari jauh?"
"Ini Andra bu,teman kuliah,"
"Oohh,ya sudah,selamat menikmati bakso buatan kami ya,ibu permisi dulu," bu Tini berlalu meninggalkan Danu dan juga temannya di sana.
Sejauh mata memandang,terlihat seorang gadis menggunakan kerudung berwarna pink,mengayuh sepeda butut nya,semakin lama semakin mendekat ke arah jalan depan warung bakso. Tidak salah lagi dia adalah Dewi Anjani,gadis yang diam-diam telah mencuri hati Danu.
"Anjani...!!" Panggil Danu sedikit berteriak dari dalam warung.
Seketika Anjani menoleh dan menghentikan sepedanya,karena dia kenal betul pemilik suara yang memanggil namanya.
"Mas Danu,sedang apa di sini?" Sapa Anjani sekalian bertanya.
"Sedang makan bakso,kamu baru pulang dari toko,ya?"
"Iya mas,ibu yang jaga di sana. Mas Danu,kasihan ibu sendirian di toko,mas Danu tidak kasihan apa?"
"Iya kasihan juga,rencana nya habis dari warung mau langsung ke toko,nyamperin kamu,malah ketemu di sini,kamu,mampir dulu yuk,makan bakso dulu,enak lho baksonya," Danu menawari Anjani sambil berharap dalam hati.
"Terimakasih mas,lain kali saja,sudah sore takut keburu magrib," Anjani menolak secara sopan dan halus.
"Ya sudah deh kalau begitu,besok kamu masuk kerja tidak?"
"Ehmm... Ya sudah mas Danu,Anjani pulang dulu,assalamualaikum," Anjani pergi tanpa menjawab peetanyaan Danu.
Dia tidak bisa berterus terang kepada Danu,bahwa besok adalah hari lamaran nya. Karena sebenarnya Anjani juga memiliki rasa istimewa terhadap bos kecilnya itu.
"Waalaikumsalam," jawab Danu dengan rasa kecewa.
Danu kembali duduk di samping Andra.
"Cewek tadi siapa Dan?"
"Karyawan di toko ibu ku," jawab Danu lesu.
"Lumayan juga tuh cewek,cantik..." belum sempat melanjutkan kalimatnya,Danu menggetok jidat Andra.
"Sakit tahu Dan," Andra meringis menahan sakit sambil memegangi jidatnya.
"Mang Ujang,berapa?"
"Biasa mas Danu,"
Danu membayar baksonya dan pamitan sama mang Ujang.
"Ndra,aku mau ke toko dulu,kamu mau ke mana?"
"Aku mau langsung pulang saja deh,capek,"
"Ya sudah,aku duluan ya," Danu tancap gas meninggalkan Andra yang sedang menstater motornya. Tak lama Andrapun juga meninggalkan warung bakso milik mang Ujang
__ADS_1
\*\*\*