
Sehabis sholat subuh,aku meraih musaf yang ada di sebelahku,ku baca perlahan,dengan harapan bisa membuat hatiku tenang.
Entah karena apa tiba-tiba air mataku berjatuhan membasahi musaf di tanganku.
Teringat perkataan ibu, jangan menolak pria jika sudah ada yang mau melamar.
Ku tutup musafku,aku sudahi membacanya.
'Ya Allah,jika ini memang takdir ku,aku akan menjalani nya dengan ikhlas,jika memang ini yang terbaik untuk hamba,kuatkan hati ini ya Allah,hamba ridho menjalani semua takdir yang Engkau kehendaki,hamba yakin pasti akan ada pelangi selepas badai.'
Ku dekap musaf di dalam dadaku,airmata terus mengalir deras bak air sungai,tak dapat ku bendung lagi.
Nanti malam,sehabis sholat isya',aku akan di lamar oleh seorang pemuda yang tidak pernah aku cintai.
Bagaimana kedepannya aku menjalani hidupku? Dengan orang yang masih asing bagiku.
Aku bersujud lagi dan tanganku masih mendekap erat musafir yang telah basah oleh air mataku.
Aku tidak bertenaga,tapi aku tidak boleh terlihat sedih di depan orang tuaku.
Aku bangkit,ku usap kedua mataku,aku letakkan musaf ku dan ku lipat mukenaku.
Aku raih handuk yang ada di balik pintu kamar,berniat untuk mandi pagi,berharap air pagi bisa menjernihkan hati dan fikiran ku.
Aku melirik ke arah dapur,ibu sudah mulai beraktivitas di dapur,segera aku menuju kamar mandi dan bergegas untuk mandi.
"Anjani,tumben baru mau mandi?" Tanya ibu tanpa menoleh ke arahku.
"Iya bu,tadi agak kesiangan bangunnya,jadi langsung sholat,belum mandi," jawabku asal-asalan.
Selesai mandi,seperti biasa aku bantu ibu menyiapkan makan sarapan untuk keluarga.
"Ibu masak apa hari ini?"
"Ibu mau masak sayur lodeh,sama goreng ikan asin," jawab ibuku sambil menguleg bumbu.
"Waahh,itu masakan kesukaanku bu," Aku tiba-tiba memeluk ibuku dari arah belakang.
"Kamu kenapa?"
"Ibu,nanti kalau Anjani sudah menikah,apakah masih bisa memakan masakan ibu?" Sambil aku bertanya dan masih memeluk erat tubuh ibuku yang sudah mulai rapuh.
Ibuku membalikkan badan dan menatap wajahku dalam-dalam,"Anjani,meskipun kamu sudah menikah,pintu rumah ibu masih terbuka lebar untuk kamu pulang anak ku,"
Ibu mengelus pipiku yang sudah basah oleh airmata. Dan aku semakin erat memeluk ibuku.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis lagi,mari bantu ibu masak,sesudah masak kita akan mebuat kue untuk di sajikan kepada calon suamimu dan calon mertuamu nanti malam," bujuk ibuku. Dan aku hanya mengangguk.
“Oya,Anjani nanti kalau sudah selesai memasak,kamu ikut bapak ke sawah ya,suruh bapak mengambilkan beberapa singkong untuk di masak buat nanti malam,”
“Baik bu,” jawabku sedikit lemas.
Masakan sudah matang semua,sudah waktunya bapak dan juga Vania sarapan,karena mereka berdua yang paling pagi meninggalkan rumah. Kalau aku sedikit siang pergi ke toko dan ibu juga akan ke rumah tetangga untuk membatu di sana kalau di butuhkan.
“Bapak,Vania,ayo sarapan dulu,” panggil ibuku dari dapur,di barengi bapak yang dari arah belakang rumah,di susul Vania keluar dari kamar dan sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
“Masak apa hari ini bu?” Tanya bapak sambil duduk di ruang tengah beralaskan tikar.
“Sayur lodeh sama goreng ikan asin pak,” aku yang menyahut.
“Bapak nanti tidak usah bawa bekal,biar nanti di antar sama Anjani,sekalian ambil beberapa singkong untuk di masak buat nanti malam,” dan bapak ku hanya mengangguk karena beliau sibuk mengunyah makanannya.
“Vania,makan yang banyak biar kenyang,” kata ibuku.
“Vania sudah kenyang bu,Vania berangkat sekolah dulu ya pak,bu,” dia pamit sambil mencium punggung tangan kami semua.
“Assalamualaikum,” pamit nya.
“Waalaikumsallam,” jawab kami bertiga hampir bersamaan.
“Bapak juga ke sawah dulu ya bu,mumpung masih pagi,”
Ibu juga sedang mempersiapkan bekal untuk bapak yang akan ku bawa nanti ke sana.
“Ibu,apa lagi yang akan Anjani ambil di sawah nanti?” Aku bertanya kepada ibuku sambil mencuci bekas piring kotor tadi.
“Suruh bapak mengambil beberapa singkong saja,kamu mau berangkat sekarang apa nanti?” Tanya ibu kepadaku yang masih sibuk mengisi rantang bekal buat bapak.
“Sekarang saja bu,biar nanti bisa membantu ibu bikin kue.” jawabku.
“Ya sudah,ini bekal untuk bapak kamu,jangan lupa di bawa ya,” ucap ibuku sambil menyodorkan rantang berisi bekal makanan untuk bapak.
Sesampainya di sawah,aku tidak menyangka akan bertemu mas Malik di sana,dia terlihat salah tingkah dan aku biasa saja. Karena tidak ada persaan istimewa dsri hatiku.
Aku berjalan menuju gubug yang biasa bapak berteduh waktu istirahat. Aku mencoba untuk duduk di sana sebentar,dan aku memandangi bapak ku yang kepayahan mencangkul di tengah sawah. Aku menatapnya penuh rasa iba,kasihan bapak,kepanasan dan mandi keringat setiap hari hanya untuk menghidupi kami,tak terasa menetes air mataku.
Dari kejauhan aku melihat bapak melambaikan tangan ke arahku,dan aku membalasnya sambil tersenyum. Aku beranjak dari duduk ku dan aku berniat menghampiri bapak yang sedang mengambil singkong.
“Bapak,kata ibu jangan banyak-banyak,” sambil ku mendekat ke arah bapak. Cuaca kala itu sedikit mendung. Di sertai angin semilir membuat aku betah berada di sawah.
“Anjani,kamu tumben ke sawah?” Sapa mas Malik yang berada di sawah sebelah milik bapak.
__ADS_1
“Mas Malik,iya mas,ini di suruh ibu mengambil singkong,” jawabku dan aku masih menundukkan kepala setiap kali aku bertemu dengan nya. Entah perasaan apa yang yang ada di hatiku ini untuk dirinya. Aku memang tidak memiliki rasa terhadapnya,aku juga tidak membenci nya. Cuma aku masih enggan untuk menatap wajahnya.
Dia memang pemuda yang baik,ramah kepada siapa saja dan suka menolong dan satu hal lagi,dia suka bersedekah,semua penduduk warga sangat mengelu-elukan dia dan dia menjadi primadona bagi para emak-emak di kampung ku termasuk ibu ku.
Aku selama ini menghormatinya sebagai guru ngaji ku dan tidak lebih.
Mas Malik sepertinya mencuri-curi pandang padaku namun aku cuek saja.
Sesekali hembusan angin kecil mengibaskan hijab ku,aku tak menghiraukan,aku jongkok tepat di sebelah bapak ku sambil mengambil daun singkong muda dari pohon yang sudah bapak cabut.
Bapak masih sibuk membersihkan singkong-singkong itu,memisahkan nya dari tanah.
Singkat cerita aku bawa singkong dan sedikit daun mudanya menuju ke rumah.
"Bapak,untuk bekal makan siang,Anjani taruh di dalam gubug itu," ucapan ku sambil berdiri dari jongkok ku. Sebentar berjongkok membuat kaki ku kesemutan.
Aku sedikit limbung karena agak pusing.
"Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya bapak ku sambil memegangi tangan ku.
"Anjani kesemutan dan sedikit pusing pak," jawab ku sambil memegang dahiku sendiri.
Samar-samar kulihat mas Malik mendekat ke arah kami. Entah mau apa dia.
"Pak Tarno,kenapa dengan Anjani?" Tanya mas Malik kepada bapak.
"Dia sedikit pusing,tadi kelamaan jongkok," jawab bapak.
"Di bawa ke gubug saja pak,biar istirahat sebentar di sana," saran mas Malik dan bapak segera memapahku ke arah gubug.
Mas Malik mengikuti kami dari belakang sambil membawakan singkong yang barusan bapak ambil.
"Kamu terlihat pucat nduk,"
"Apa benar pak?"
"Iya nduk,apa kamu sedang sakit?"
"Anjani baik-baik saja kok pak."
"Kamu istirahat dulu sebentar di sini,nanti kalau sudah mendingan,baru kamu pulang,ya?" Pinta bapak ku dan aku mengangguk tanda setuju.
"Kamu kenapa An,wajahmu pucat gitu?" Tanya mas Malik seraya meletakkan singkong di sebelah gubug.
"Tidak papa mas,mungkin darah rendah ku kambuh,"
__ADS_1
Bapak masih di sebelahku dan menuangkan air hangat untuk ku. Beliau menyodorkan gelas itu dan aku meminumnya sampai habis.
***