
Dia masih berada di atas tubuhku.
Jantung ku berpacu kencang seperti kuda liar.
Kami saling pandang,dalam posisi yang sama.
Segera aku tersadar dan mendorong Roni dari atas tubuhku.
"Ma-maaf kan aku,Sania aku tidak bermaksud," dia meminta maaf dengan terbata-bata.
"Ehem,Ron gimana hasil rapat semalam?" Ku coba mengalihkan pembicaraan dan dia terus berdiri.
"Alhamdulillah,semua berjalan lancar,aku... balik ke kamar ku dulu ya,mau mandi,"
Dia pergi tanpa melihat aku. Dan aku mengangguk saja.
Aku segera berdiri dan membereskan semua yang semalam aku buat alas untuk tidur.
Di tempat Roni,
Ya Tuhan,kok bisa aku semalam tidur di kamar Sania?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Semoga aku tidak melakukan hal buruk kepada Sania.
Lebih baik aku mandi dan bertanya kepada Sania apa yang terjadi semalam.
Balik ke Sania,
Byur!
Wosh!
Terdengar gemericik suara air kran yang aku nyalakan di kamar mandi hotel.
Aku mencoba berendam di dalam bak mandi.
Teringat kejadian semalam,ucapan Roni kepadaku.
Apa aku harus bertanya kepada nya?
Tidak-tidak,sangat memalukan.
Tapi kok,aku bergetar ya saat mata kami berdua bertatapan?
Deg!
Hatiku berdebar mengingat hal semalam.
Apa aku mulai membuka hati untuk Roni?
Tidak mungkin,aku tidak mungkin memiliki rasa terhadap nya.
Namun,jika di ingat-ingat wajah Roni juga lumayan ganteng,di banding dengan mas Malik masih mendingan Roni deh.
Argh...!!!
Apa yang aku pikirkan.
Cinta ku untuk mas Malik seorang,meskipun dia sudah beristri.
Aku tidak perduli jika aku menjadi madunya.
Toh,Roni juga sudah punya tante yang sekarang sedang berada di sisinya.
Berendam satu jam membuatku menggigil, huh.
Nanti jam sepuluh harus ada rapat lagi.
Aku beranjak dari kamar mandi,berganti pakaian ku pilih baju atasan berwarna putih,di padukan dengan jas hitam dan juga celana panjang dengan sepatu dinas ku.
Bagaimana nanti aku menghadapi Roni?
Sikap yang seperti apa yang harus aku tunjukkan padanya?
Sudah lah anggap saja tidak ada terjadi apa-apa.
Ku bersiap keluar,ku buka pintu kamar.
Ceklek,
Ku coba menoleh ke arah kamar Roni.
Deg!
Roni sudah di depan pintu.
Sedang menunggu siapakah?
"Ehem,Selamat pagi pak Roni,"
Aku menyapanya dengan senyum.
__ADS_1
"Selamat pagi," sambil membetulkan dasi.
Bersikap biasa saja kali ya.
"Sania,mari kita turun,sarapan bareng," dia bersikap seakan tidak ada yang terjadi semalam.
Baguslah biar tidak terlihat canggung.
"Siap pak,"
Canda ku dan mengikuti langkahnya dari arah belakang.
Ting!
Lift yang kami tunggu sudah sampai.
Kami masuk kedalam lift,cuma berdua tidak ada orang lain.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantungku benar-benar aneh deh sekarang,kenapa jantungku berdebar saat berada di samping nya?
Wajahku juga terasa panas.
"Kamu kenapa? Wajahmu merah begitu,kamu sakit ya?" Dia menoleh ke arahku dan memegang pipiku dengan kedua tangannya.
Jantungku semakin kenceng berdebarnya.
Aku langsung membuang muka.
"Ah,aku tidak apa-apa kok," aku tersenyum mencoba menutupi perasaan ku.
Dia hanya tersenyum melihat tingkahku.
Ting!
Lift sudah di lantai bawah,terbuka dan kami jalan menuju tempat makan.
Berniat untuk sarapan di sana.
"Sania,kamu mau makan apa?"
"Nanti deh,aku lihat dulu,di sana ada menu apa saja," jawabku sambil berlalu menuju meja prasmanan.
Aku berjalan mencoba mencari tempat yang kosong.
Aku duduk di sana sambil menunggu Roni yang sedang mengambil air minum.
Dia berjalan menuju ke arahku duduk.
Deg!
Lagi-lagi,kenapa dengan aku ini?
Tidak aku hiraukan,aku makan dengan lahap sarapanku.
"Sania,semalam..."
"Ron,kamu coba sayur ini,rasanya enak loh,"
Aku memotong perkataannya sebelum di lanjut.
Aku tahu maksud perkataan nya.
"Enak kan,sehabis ini kita akan ketemu klien di mana?"
Aku mengalihkan pembicaraan saja,biar tidak membahas masalah semalam.
Memalukan,pasti nanti wajah ku memerah seperti tomat.
"Aku sudah janjian sama pak David ketemuan di hotel Clinton,kamu sudah bawa berkasnya?"
Dia menjawab ku sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Sudah dong,sudah ada di dalam tas nih,"
"Sudah selesai? Yuk kita berangkat sekarang,"
Kami berdua beranjak dan berjalan menuju pintu keluar.
Pak Santo sudah menunggu di depan.
"Selamat pagi tuan,selamat pagi nona Sania,"
"Selamat pagi pak Santo,bapak sudah sarapan?" Sambutku dan pak Santo tersenyum.
"Sudah non,silahkan masuk ke dalam mobil,"
Klek,
__ADS_1
Pak Santo membuka kan pintu mobil untuk aku.
Kami berdua duduk di bangku belakang sopir.
"Sania,Coba aku lihat dulu berkas-berkas nya,papa ku bilang pak David ini orangnya sedikit rumit,"
Ku buka tas ku dan ku sodorkan berkas-berkas milik pak David.
Roni terlihat serius kalau mengenai pekerjaan.
Dia manggut-manggut,"Sepertinya tidak ada masalah,"
Dia menyodorkan lagi kertas itu kepadaku.
Mobil yang kami tumpangi berhenti di depan hotel Clinton.
Aku keluar dan di susul Roni berdiri di sampingku.
Kami masuk kedalam dan bertanya kepada resepsionis.
"Maaf mbak,kami sudah buat janji sama pak David,"
"Bentar ya mbak,saya konfirmasi pak David dulu,"
Resepsionis tersebut menghubungi pak David lewat pesawat telepon.
"Pak David bilang suruh langsung ke sana saja mbak,beliau ada di lantai paling atas,nomer 301,"
"Iya,terimakasih ya mbak,"
Aku dan Roni berjalan menuju kamar yang di maksud.
'Lantai paling atas? Kenapa bertemu di hotel? Kenapa tidak di kantor saja? Kan mau membahas pekerjaan.'
Ting!
Lift berhenti di lantai 45.
Mencoba mencari kamar milik pak David.
Sudah ketemu.
Ting Tong!!
Tak lama ada seorang pelayan membuka pintu untuk kami.
Aku kok merasa ada yang tidak beres ya?
Roni masuk dan aku mengekor saja di belakang.
"Pak Roni,mari silahkan duduk pak,"
Dia kah pak David?
Berperawakan tinggi,wajah putih bersih.
Badan kekar seperti binaraga.
Kira-kira tinggi nya sama dengan Roni.
Terlihat masih muda.
Di luar angan-angan ku. Biasanya orang yang bernama David.
Orangnya pendek,botak,suka main perempuan.
Aku tersenyum sendiri.
"Siapa gadis di sampingmu itu?"
David bertanya kepada Roni namun aku dengan spontan memperkenalkan diriku.
"Saya Sania pak,sekretaris nya pak Roni,"
Sambil aku mengulurkan tangan yang hendak di jabat pak David,namun Roni langsung menjabat tangan pak David mewakili.
Seakan tidak boleh ada orang lain memegang tangan ku.
Tapi kenapa? toh aku bukan siapa-siapa nya?
Iya kan.
David tertawa melihat tingkah Roni itu.
"Mari-mari silahkan duduk,mau minum apa,nanti saya suruh pelayan untuk mengambil nya,"
Terlihat David orang nya ramah.
Tapi tidak tahu juga.
Sebenarnya pekerjaan apa sih yang akan di bahas kok di hotel bukan di kantor?
...****************...
__ADS_1