The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 22


__ADS_3

Anjani dan Malik berada di dalam kamar,setelah menenang kan Vania dari trauma nya.


Anjani mencoba meminta ijin kepada sang suami untuk bermalam di rumah ibunya.


"Mas,malam ini ijinkan saya tidur di rumah ibu ya," pinta Anjani kepada suaminya.


"Iya boleh,mas juga ingin tinggal sebentar di sini," jawab Malik memeluk tubuh istrinya yang berdiri di depan jendela.


"Sayang,kamu lagi mikirin apa sih?" Malik bertanya kepada Anjani yang sepertinya sedang melamun.


"Aku kasihan sama Vania mas,apa mungkin Vania bisa kembali seperti dulu?" Tanya Anjani kepada suaminya itu.


Malik yang memeluk nya dari belakang,mencoba memutar tubuh Anjani.


Sambil mengelus wajah ayunya,Malik berkata,"Kamu yang sabar ya,coba besok kita bawa Vania bertemu temanku dulu,dia dulu adik kelas ku waktu kuliah,"


Mereka saling berpelukan di malam mencekam yang dingin.


"Mas,aku minta maaf ya,selalu merepotkan kamu,"ucap Anjani dalam dekapan suaminya.


"Kenapa kamu minta maaf? Sudah seharusnya kan,kita itu keluarga," Malik mencoba menengadah kan wajah Anjani.


Mereka saling menatap,tatapan yang dulu tidak ada artinya bagi Anjani sekarang terlihat jelas benih cinta mulai tumbuh di hati Anjani untuk suaminya.


Malik mendekatkan wajahnya,semakin dekat semakin tanpa jarak.


Bibir mereka bertemu,Anjani tidak bisa lagi menolak keinginan suaminya itu.


Hatinya mulai bergetar,berdetak kencang oleh sentuhan dan belaian dari Malik sekarang.


Malam ini,menjadi milik mereka berdua saja.


...****************...


Sudah jam tujuh?


Wanda kesiangan,dia semalam bergadang terlalu larut.


Tok!


Tok!


Tok!


Pintu kamar di ketuk,namun tidak ada jawaban dari dalam.


Sang kakak mencoba menerobos masuk,


"Wanda!!!"


Teriakan Sania membuat nya langsung terbangun.


"Ada apa sih kak,pagi-pagi begini,berik deh," Wanda ngedumel pada kakak nya.


"Sudah siang! Kamu tidak kuliah?" Bentak Sania kepada Wanda.


"Nanti,Wanda masuk jam satu,"jawabnya malas dan berbaring kembali.


Sania melihat itu langsung menarik bantal dan melempar tepat di muka Wanda.


"Aduh,apaan sih kak,sakit tahu!" Kesal di ganggu sang kakak,dia mencoba untuk duduk.


"Wanda,coba kamu jujur sama kakak,di mana kamu sembunyikan sepatu yang kakak beli kemarin?"


"Sepatu apaan sih,Wanda gak tahu," jawab nya sewot.


Sania semakin marah,"Wanda! Itu sepatu pemberian dari bos kakak,"


"Sepatu yang mana kak? Wanda gak ngerti deh maksud kakak," Wanda mencoba mengingat sepatu apa yang di maksud kakaknya itu.


Sania tidak perduli lagi dengan sang adik,segera dia pergi meninggalkan Wanda dalam keadaan kesal.


Dia mencoba mencari di semua sudut rumah,namun masih tidak menemukannya.


"Ibu,ibu pernah lihat sepatu Sania tidak?" Sania bertanya kepada ibunya yang sedang berada di beranda belakang.

__ADS_1


Sedang memberi makan ikan peliharaan nya.


"Sepatu? Sepatu yang mana?" Bu Siti balik bertanya.


"Sepatu sport yang warnanya putih,itu di kasih sama bos,katanya buat olahraga besok,"


Di kantor Sania memang selalu rutin mengadakan jalan sehat setiap jum'at pagi.


Sepatu pemberian Roni. Waktu itu dia lupa tidak membawa sepatu.


Lantas Roni meminta tolong pak satpam untuk membeli sepatu buat Sania.


"Oohh,Sepatu itu,tuh ibh taruh di rak sepatu belakang," jawab bu Siti sambil menunjuk ke arah yang di maksud.


"Makanya,lain kali taruh di dalam kamar,kalau perlu di kelonin biar gak kelabakan nyari. Ganggu orang sedang tidur saja," seloroh Wanda sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Kamu jam segini baru bangun,memang nya tidak pergi kuliah?" Tanya ibunya kepada Wanda.


"Masuk jam satu bu," jawab Wanda langsung ngeloyor ke kamar mandi hendak mandi.


"Sania,kamu semalem kan baru pulang dari luar kota? Masa iya sih,sekarang ke kantor?"


Tanya ibunya yang sedang mempersiapkan sarapan untuk mereka.


"Iya bu,masih ada pekerjaan yang belum beres,"jawab Sania sambil makan roti untuk sarapan.


Wanda pun yang selesai mandi berjalan menuju meja makan,dia duduk di sebelah Sania untuk mendapatkan sarapannya juga.


"Kak,mana oleh-oleh buat adik mu?" Tanya Wanda kepada kakaknya itu.


Sania tersenyum,"Wanda sayang,kakak pergi bekerja bukan jalan-jalan,"


"Memangnya gak sempat jalan-jalan?" Jawaban kakaknya membuat nya sewot.


"Oh ya,kakak pagi-pagi cari sepatu sport buat apa?" Mencoba bertanya kepada sang kakak yang telah mengganggu tidur indahnya.


"Oh itu,itu pemberian dari Roni,anak bos kakak," sambil menyantap sarapan nya tanpa menghiraukan adiknya.


"Kenapa pak Roni ngasih sepatu ke kakak?" Semakin penasaran Wanda di buatnya.


"Kak San,jawab dong,apa kakak diam-diam berkencan ya dengan pak Roni!" Teriak Wanda tanpa di hiraukan Sania.


Dari jauh Sania hanya melambaikan tangan dan pergi untuk berangkat kerja.


Di dalam mobil,dia teringat peristiwa yang membuatnya sedikit canggung waktu dinas bareng Roni.


Ketemu dengan pak David,minum alkohol di dalam kamar hotel.


Waktu itu kebetulan pacar David menghampiri Sania dan juga Roni yang sedang membahas kerjasama.


"Oh,Bella ku sayang sudah datang," sambut David dan mereka berpelukan tak luput juga cipika cipiki.


Sania benar-benar merasa risih melihat peristiwa itu.


"Baiklah pak Roni,kita sudah sepakati semuanya,mari kita ke KTV,bagaimana?" David menawarkan kepada Roni.


Sania memandang Roni dengan maksud menolak.


Namun Roni melakukan hal yang sebaliknya.


"Baik,ayo kita kesana sekarang. Kalau belum mabuk jangan pulang," ucap Roni bersemangat dan di sambut tawa David.


Sania hanya mengekor saja. Berharap malam akan segera berlalu.


Sudah hampir tiga jam,mereka berempat di KTV,Roni semakin menggila meminum alkohol.


David dan juga Bela sudah tidak memiliki rasa malu lagi.


Di depan Roni dan Sania,mereka bercumbu mesra layaknya tidak ada siapapun di sana.


Sania benar-benar merasa merinding.


Di tambah lagi,Roni semakin gila karena mabuk.


Sudah puas bersenang-senang,mereka pun memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Roni yang sudah lemas karena alkohol berjalanpun sempoyongan.


Sania dengan terpaksa memapah nya menuju kamar hotel.


Kebetulan KTV tempat mereka bersenang-senang berada di sebelah hotel mereka menginap.


Dengan susah payah Sania membawa Roni masuk ke kamarnya.


"Kunci kamarmu mana Ron?" Tanya Sania.


"Di kantong saku celana ku," jawabnya masih lemes.


Sania mencoba meraba kantong celana belakang.


"Bukan di sana,di sini," tunjuk Roni.


Apa?


Di kantong depan?


Gila kamu ya,nyuruh aku ngambil di kantong depan?


Sania ragu-ragu,namun tidak ada pilihan lain.


Dia meraba kantong depan celana Roni.


Deg!


Tersentuh sesuatu yang tidak biasa dia sentuh.


Aahhh,sialan Roni. Ucap Sania dalam hati.


Dan akhirnya ketemu juga.


Dia memapah Roni menuju ranjang nya. Mencoba membaring kan Roni tepat di atas ranjang.


Entah apa yang telah dia pijak,mereka terjatuh di atas ranjang.


Sania tepat menindih tubuh Roni.


Deg!


Berdebar lagi,adegan semalam terulang lagi.


Buru-buru Sania bangkit namun pinggang nya di tahan Roni. Sehingga bibir mereka bersentuhan tanpa sengaja.


Roni tersenyum. Wajah Sania menjadi merah seperti buah ceri.


Segera dia bangkit dan berdiri di samping tempat tidur Roni.


Roni juga duduk di samping ranjang.


"Sania,terimakasih ya,sudah mau merawatku," ucap Roni dalam keadaan mabuk.


"Iya,sudah sepantasnya aku merawat kamu,nih minum air dulu," jawab Sania sambil menyodorkan segelas air hangat kepada Roni.


Sania mengambil kursi yang ada di sudut ranjang itu.


Dia duduk tepat di hadapan Roni.


Mencoba bertanya,dari hati ke hati.


"Kalau aku boleh tahu,kenapa akhir-akhir ini kamu suka mabuk?" Sania bertanya serius.


Bukannya di jawab,Roni malah menangis.


Sania kaget,tidak pernah dia melihat Roni serapuh ini.


Lamunan nya seketika buyar,ada kendaraan yang dari belakang mengklakson.


Dia kembali fokus menuju kantornya.


Bagaimana dia bersikap jika nanti bertemu Roni di kantor?


Sungguh menjadi canggung.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2