
Hampir setengah jam Anjani dan Malik menunggu bapak dan ibunya pulang.
"Assalamualaikum," terdengar suara berat ibu dari arah luar rumah.
"Waalaikumsalam,Bapak,ibu," Anjani menyambut kedua orang tuanya di susul Malik juga menyambut mertuanya.
Mereka kembali masuk rumah dan duduk di sana.
"Vania? Kamu kenapa,kok kelihatannya sakit gitu?" Anjani mencoba bertanya kepada Vania yang terlihat pucat.
Tidak satu orang pun yang menyahut.
Akhirnya bh Mirna yang membuka suara.
"Anjani,Malik,kalian sudah lama ya di sini? Ibu masak dulu ya buat kalian makan siang," ucap bu Mirna sambil berdiri hendak menuju dapur.
Anjani juga ikut berdiri,"Biar Anjani bantu ya bu,"
Anjani berjalan mengikuti ibunya menuju dapur,Ingin rasanya bertanya tentang apa yang telah menimpa kepada Vania.
Dia juga bingung harus memulai dari mana?
"Ibu,Anjani pengen makan sayur lodeh buatan ibu," kata Anjani sedikit bermanja kepada ibunya.
"Iya,nanti ibu masak buat kamu,cuci sayurnya dulu,tuh ada di bakul,"
Anjani meraih bakul berisi sayuran dan membawanya ke sumur.
"Sayuran ini hasil dari kebun kah,bu?" Tanya Anjani.
"Iya,tadi pagi ibu ke kebun metik sayur,beruntung sekali kamu pulang," jawab bu Mirna sambil mengupas bawang.
"Oh ya,ibu tadi dari mana,kok Anjani sampai rumah tidak ada orang?"
Bu Mirna menghela nafas,"Nanti sehabis makan ibu cerita semua sama kamu," jawab bu Mirna yang masih mengupas bawang.
Anjani hanya mengangguk.
Dia sebenarnya sudah tahu apa yang telah terjadi.
Namun dia mencoba diam dan biar ibunya yang menceritakan sendiri.
...****************...
Selesai makan siang mereka berkumpul di teras rumah sedang berbincang dan kadang juga bercanda.
Sambil di temani secangkir kopi dan kue kering yang di hidangkan bu Mirna untuk suaminya dan juga Malik.
Anjani sepertinya sedang berada di dalam kamar Vania.
Dia mencoba berkomunikasi dengan adik semata wayangnya itu.
Namun,Vania tidak merespon sama sekali setiap Anjani bertanya kepadanya.
Pandangannya kosong.
Seperti orang linglung. Sungguh miris keadaan Vania sekarang.
__ADS_1
Berbeda jauh dengan Vania yang dulu. Periang,selalu tersenyum,suka bercanda.
"Van,kamu kenapa?" Anjani mencoba bertanya kepada adiknya.
Vania hanya bengong dengan pandangan mata yang kosong.
Dia hanya menggeleng,menangis kadang juga berteriak tidak.
Anjani sungguh tidak tega melihat keadaan adiknya.
Seperti hatinya tersayat seribu pisau.
Sakit,perih,itu yang di rasakan Anjani melihat keadaan Vania sekarang.
Tak berapa lama bu Mirna masuk ke kamar Vania dan menghampiri Anjani yang sedang duduk di sana.
"Ibu,kenapa Vania jadi seperti ini?" Tanya Anjani yang di iringi tetesan air mata.
"Mari ikut ibu sebentar," ucap bu Mirna menarik lengan Anjani keluar dari kamar Vania.
Mereka berdua berada di dapur. Bu Mirna memulai cerita nya kepada Anjani. Apa yang telah menimpa Vania beberapa minggu lalu.
Sebenarnya Anjani sudah mengetahui nya dari tetangga. Namun dia akan lebih lega jika ibunya menceritakan sendiri.
"Begitulah awal mula kenapa Vania jadi seperti ini," ucap bu Mirna mengakhiri ceritanya.
Mereka berdua tidak tahan dan berpelukan sambil menangis.
"Lalu kenapa Vania di bawa ke puskesmas tadi bu?" Anjani bertanya kepada ibunya.
"Lalu,bagaimana bu? Apa yang harus kita lakukan untuk membuat Vania kembali seperti dulu?" Anjani pun khawatir dengan kondisi adiknya seperti itu.
Tentu hal itu tidak boleh di biarkan,jika terus berlanjut bisa jadi di kehilangan ingatan.
Dengan kata lain,dia bisa kena gangguan jiwa.
Malik yang dari tadi di teras bersama dengan mertuanya,mendadak ingin pergi ke kamar kecil.
Tanpa mereka sadari,Malik telah berdiri di balik pintu dapur.
Malik pun mendekati istri dan juga ibu mertuanya.
"Saya sudah mendengar semua yang telah menimpa Vania,mungkin lebih baik kita bawa Vania ke psikolog saja," mencoba memberi ide untuk kebaikan adik ipar.
"Iya bu,saya setuju Dengan pendapat mas Malik,kita bawa dia ke psikolog saja ya," bujuk Anjani kepada sang ibu.
Ibunya masih bingung,apa yang harus dia putuskan?
Pergi ke psikolog?
Buat makan saja pas-pasan,bagaimana bisa membawa Vania periksa kesana.
Berapa biaya yang harus di keluarkan?
Seakan tahu apa yang telah ibu mertua pikirkan. Malik seketika memberi solusi.
"Kalau masalah biaya ibu jangan khawatir,saya ada kenalan seorang teman yang dulu waktu kuliah,dia ambil jurusan psikolog,nanti saya bawa Vania berjumpa dengan nya,"
__ADS_1
"Iya,bu kita bawa saja Vania dulu,ya,masalah biaya,Anjani ada sedikit tabungan,bisa di pakai dulu," Anjani mencoba membujuk ibunya.
"Ibu diskusi dulu ya sama bapak mu," jawab ibu karena bingung.
"Iya,nanti kita diskusi bareng sama bapak,Anjani tidak tega melihat Vania seperti itu bu," jawab Anjani sedih.
Sedang berdiskusi,Anjani merasa mual dan segera lari ke kamar mandi.
Ibu yang melihat semua itu panik dan mencoba untuk bertanya kepada Malik.
"Nak Malik,itu Anjani kenapa? Apa dia sedang sakit?" Tanya bu Mirna panik.
Malik hanya tersenyum dan berkata,"Dia sedang ngidam bu," jawab Malik tersenyum.
Tidak tahu apa yang bu Mirna rasakan.
Anjani hamil pertama,sungguh itu berita yang membuat nya gembira.
Vania masih mengurung diri di kamar selama berminggu-minggu.
"Anjani,apa kamu baik-baik saja nak?" Tanya bu Mirna.
"Anjani gak apa-apa kok bu,cuma kalau bau aroma kopi suka mual pinginnya muntah gitu," jawab Anjani yang sedikit lemas.
"Gak apa-apa,itu sudah biasa bagi orang yang lagi ngidam," jawab bu Mirna tersenyum.
"Ya sudah,besoknya kalau aku mau minum kopi,aku akan bikin sendiri saja," ucap Malik di iringi tawa mereka.
Vania yang berada di dalam kamar hanya meringis menahan sakit hati yang tak bisa di obati.
Dia berteriak histeris membuat semua yang ada di ruang tengah berlari untuk melihatnya.
"Vania,kamu kenapa nak?" Bu Mirna langsung menenangkan Vania yang ada di atas kasur.
"Kalian,bisa tertawa lepas? Lalu,bagaimana dengan ku? Siapa aku? Apa kalian sudah melupakan aku,yang sedang sekarat ini?" Vania berbicara seakan kami melupakan deritanya.
Seakan kami semua mengabaikan dia. Seakan kami tidak perduli lagi padanya.
Vania,apa yang kamu bicarakan?Kenapa kamu bisa ngomong seperti itu kepada kami semua?" Anjani balik bertanya dan mencoba mendekatinya.
"Kak,kamu jangan mendekati aku,aku kotor,aku sudah tidak suci," semakin menjadi jeritan Vania.
Deg!
Anjani terkejut,baru kai ini Vania ngomong kasar kepadanya.
Anjani tidak dapat lagi membendung kesedihan nya.
Berderai air bening membasahi pipi mulusnya.
'Vania,kenapa kamu bersikap seperti ini?'
Malik yang berada di sampingnya mencoba menguatkan Anjani.
Lalu,bagaimana mereka akan membujuk Vania untuk pergi periksa?
...****************...
__ADS_1