The Story Of Dewi Anjani

The Story Of Dewi Anjani
BAB 26 Harap harap cemas


__ADS_3

Malik dan Vania sampai juga di depan rumah dokter Faizal.


Mereka sudah 4x datang kesini untuk kontrol dan juga konsultasi.


Masalah kesehatan Vania,belakangan ini sudah mulai ada kemajuan.


Vania sudah mulai mau di ajak berkomunikasi.


Dia juga mulai bisa di ajak ngobrol.


Malik menghentikan motornya di depan ruang praktek dokter Faizal.


Vania turun dan di susul Malik di belakang nya berjalan menuju teras rumah dokter Faizal.


Rumah yang terlihat klasik dan mewah.


Ting tong!


"Assalamualaikum," Malik menekan bel rumah dan berucap salam.


Tidak menunggu lama pintu rumah terbuka dan di sambut oleh dokter Faizal.


"Waalaikumsalam,kak Malik,mari silahkan masuk,mari Vania,"


Mereka masuk ke dalam ruangan dokter Faizal praktek.


Sebelum datang ke rumah dokter,terlebih dulu Malik membuat janji.


Setelah ngobrol cukup lama,mereka pun keluar dari ruangan itu.


"Alhamdulillah,kak Malik,Vania sudah banyak kemajuan. Dia sudah bisa mengontrol emosi dan sudah mulai belajar kejadian masa lalu," jelas dokter Faizal kepada Malik.


"Alhamdulillah,terimakasih ya Zal,sudah mau meluangkan waktu buat Vania," ucap Malik.


Vania yang berdiri di sebelah Malik tersenyum.


Ya,Vania sudah mulai membaik dari hari ke hari.


Mereka berdua pun berpamitan untuk pulang. Malik bersiap menyalakan motornya.


Vania pun duduk di belakang Malik.


Orang akan mengira Vania sudah dewasa,padahal dia baru berusia dua belas tahun.


Sudah lama tidak masuk sekolah,bagaimana nanti Vania untuk melanjutkan sekolahnya.


Menjelang ujian kelulusan dia malah mengalami musibah yang tak terduga.


Malik melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Waktu menunjukkan sudah tengah hari,Malik pun membawa motornya mampir ke toko nya untuk istirahat sejenak sebelum kembali ke rumah.


Mereka berdua sampai di pelataran toko milik Malik.


"Van,ini toko milik mas Malik,kita istirahat sebentar di sini ya?" Ucap Malik kepada Vania dan dia pun mengangguk.


Mereka berdua berjalan masuk ke toko tersebut


Kebetulan selama Malik mengantar jemput Vania,dia merekrut pegawai untuk menunggu tokonya itu.

__ADS_1


Seorang remaja bernama Firman,berasal dari rumah sekitar toko itu.


"Vania,mari masuk,kita istirahat sejenak,selesai sholat Dzuhur kita pulang ya," kata Malik dan Vania hanya mengangguk.


Vania duduk di kursi depan sedangkan Firman sedang sibuk melayani pelanggan untuk memfoto copy.


Malik masuk ke dalam dan bersiap untuk melaksanakan sholat Dzuhur dulu sebelum mengantar Vania pulang.


Vania duduk dan melihat orang berlalu lalang di sekitar jalan depan toko.


Dia seperti orang yang sedang melamun melihat orang berlalu lalang di jalan raya.


...****************...


Di rumah...


Bu Mirna dan juga pak Tarno menunggu kepulangan Malik dengan Vania.


Bu Mirna juga sudah menyiapkan makan siang untuk mereka kalau nanti pulang.


Mereka berdua duduk di teras rumah sambil mengobrol tentang sekolah Vania.


"Pak,nanti kalau Vania sudah pulih,apa mungkin dia mau kembali lagi ke sekolah? Sedangkan teman-teman nya sudah mau lulus," kata bu Mirna cemas,khawatir nanti anaknya menjadi pusat intimidasi teman sekolah nya.


"Iya ya bu,bagaimana nanti Vania menghadapi teman sekolahnya? Bapak juga khawatir," pak Tarno sebagai seorang bapak jelas sangat mengkhawatirkan anak gadisnya itu.


"Bagaimana kalau kita pindahkan saja sekolahnya di kota dekat toko milik Malik?" Akhirnya bh Mirna memberi usul.


"Apa tidak kejauhan bu,kasihan kan kalau dia naik sepeda ke sekolah,"


"Ya biar dia naik angkot pak,kan banyak angkot yang menuju kesana,"


Mereka menunggu kepulangan Vania dan Malik hampir satu jam.


Namun,yang di tunggu belum datang juga. Harap-harap cemas.


"Kok mereka belum sampai rumah ya pak? Biasanya tidak sampai Dzuhur sudah di rumah,sekarang sudah lewat jam satu siang namun mereka belum sampai rumah," bu Mirna mulai cemas.


"Sudah jangan cemas,mungkin di sana lagi ngantri," pak Tarno mencoba membuat hati istri nya tenang.


"Iya mungkin ya pak," jawab bu Mirna mencoba untuk menenangkan diri sendiri.


"Kita masuk yuk,panas di sini,bapak tidak tahan," pak Tarno mengajak istrinya untuk masuk ke rumah.


Cuaca hari itu memang sedang terik,panas menyengat.


Membuat orang malas untuk pergi keluar.


Di toko Malik...


"Van,kamu tidak sholat dulu?" Malik keluar dan menghampiri Vania yang sedang bengong melihat hiruk pikuk jalanan di tengah terik mentari siang ini.


"Iya mas," jawab Vania sambil menoleh ke arah Malik dan dia berdiri.


"Firman,tolong antar Vania ke tempat sholat ya,biar toko saya jaga sebentar," perintah Malik kepada Firman.


"Baik pak,mari mbak Vania saya antar ke dalam," ajak Firman ke pada Vania.


Vania mengikuti Firman dari belakang. Terlihat lumayan luas toko milik Malik ini.

__ADS_1


"Silahkan mbak,ini tempat sholatnya,di ujung sana tempat untuk berwudhu," ucap Firman menunjukkan kepada Vania.


Vania mengangguk dan berlalu menuju tempat wudhu sebelum menjalankan sholat dzuhur.


Firman juga berlalu pergi meninggalkan Vania yang sedang menjalankan sholat.


Firman melihat Malik sedang melayani pembeli.


Lalu dia mendekat,"Biar saya saja pak," ucap Firman kepada Malik.


"Sudah gak papa,kamu lanjut kan saja tugas mu tadi yang tertunda," jawab Malik kepada Firman.


Firman pun mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.


"Firman,aku beli makanan dulu ya,buat makan siang kita bertiga,bilang sama Vania untuk menunggu di sini," ucap Malik.


"Baik pak,"


Malik pun pergi meninggalkan toko dan pergi ke warung sebelah untuk membungkus nasi untuk makan siang mereka.


Tak berapa lama,Vania keluar dari dalam toko itu.


Celingukan seperti mencari sesuatu,Firman menyadari itu dan berkata,"Pak Malik keluar beli nasi mbak,"


Vania menoleh ke arah Firman dan mengangguk pelan.


Dia kembali duduk di pinggir kaca sambil melihat orang yang berlalu lalang di jalan raya.


Seperti sedang memikirkan sesuatu,Vania yang baru berusia dua belas tahun,namun dia seperti sudah dewasa.


Semenjak kejadian buruk menimpa dirinya waktu itu.


Sekarang dia lebih pendiam dan suka melamun.


Dia juga lebih suka menyendiri. Kalau melihat seorang lelaki,dia merasa jijik.


Dia sadar jika dari tadi Firman menatapnya dari jauh,namun dia tidak menghiraukan.


Perut Vania sudah mulai keroncongan,terasa begitu lapar.


Kebetulan Malik sudah balik membawa bungkusan nasi.


"Van,kamu sudah selesai sholatnya?" Tanya Malik yang baru balik dari warung langsung menghampiri Vania.


"Sudah mas," jawabnya singkat.


Malik mengeluarkan bungkusan.


"Firman,Ini makan dulu,mumpung masih hangat," Malik menyodorkan sebungkus untuk Firman.


Firman mendekat dan mengambil bungkusan itu. "Terimakasih pak," ucap Firman dan Malik pun tersenyum.


"Van,yuk makan dulu,sehabis makan kita langsung pulang,kasihan bapak sama ibu pasti sedang menunggu,"


Vania dan Malik pun makan seadanya di toko itu.


Bu Mirna sudah menyiapkan makan siang,siapa yang akan memakan nya jika Vania sama Malik sudah makan di toko?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2