
Danu Sampai di rumah menjelang isya',dia buru-buru memasukkan motornya ke dalam garasi samping rumahnya.
Segera dia membuka pintu rumah dan di rumah terlihat begitu sepi.
Dia ingat ibunda nya sedang pergi ke rumah bibinya di desa sebelah. Katanya malam ini akan ada acara lamaran sang keponakan Danu-Melody.
Bisa jadi ibunya akan menginap di sana,besok pagi baru beliau pulang. Di rumah sendiri membuat Danu merasakan sepi.
Apa lagi jika teringat kejadian tadi sore,teringat cerita dari pak Liwon. Membuat Danu merasa merinding.
Cepat-cepat dia masuk ke dalam kamar untuk menaruh tas pungung nya dan segera dia keluar lagi dan menuju ke kamar mandi untuk mandi dan menjalankan sholat isya'.
Selesai menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim,Danu duduk di Ruang tv mencoba untuk menonton tv dan dia juga membuka laptop di sana.
Mengerjakan pekerjaan rumah yang telah di berikan oleh sang dosen tadi siang.
Waktu berjalan sedikit lambat menurut Danu,dia melirik ke arah jam dinding,sudah tengah malam.
Menjelang tengah malam dia merasa lapar,dengan usia yang sudah beranjak dewasa,dia pergi ke dapur,hendak memasak mie instan.
Sayup-sayup dia mendengar pintu di ketuk dari luar,dia mempertajamkan pendegarannya,apa halusinasi dia atau benar pintu di ketuk?
Tok!!
Tok!!
Tok!!
Semakin keras ketukan itu terdengar,tanpa pikir panjang dia bergegas hendak membuka pintu. Pasti ibu,dia membatin dalam hati.
Baru sampai di ruang tengah,dia di kagetkan suara vas bunga yang jatuh,
Prang!!
Dia menoleh dan melihat ke arah sumber suara tersebut,lantas dia mendekat perlahan takut ada orang asing di dalam rumah,ternyata tidak ada siapa-siapa.
Suara pintu kembali di ketuk.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
Dia bergegas dan akan segera membuka pintu,tangannya meraih gagang pintu dan belum sampai terbuka di kejutkan lagi oleh suara tv yang menyala.
Di barengi bau melati,minyak wangi khas mbak Kunti.
__ADS_1
Dia mulai bergidik,merinding,dia gemetar,berdiri mematung di depan pintu,sampai-sampai dia hampir ngompol di tempat.
Di sudut ruangan terlihat sesosok wanita berambut panjang,mengenakan gaun merah muda membelakangi Danu.
Aneh,dia merasa badannya terasa kaku dan tidak bisa di gerakkan. Mulutnya pun seakan terkunci rapat tidak bisa bersuara.
Berdiri mematung melihat sesosok wanita itu,perlahan sosok itu menoleh melihat ke arah Danu.
Danu semakin bergidik melihat wajah sosok itu,wajah yang mulai membusuk dan di huni banyak belatung di sana.
Apa yang harus dia lakukan,tidak bisa berlari apa lagi berteriak.
Sosok itu mendekati Danu,dia hanya bisa berdoa dalam hati. Jangankan berteriak,dia hendak memejamkan mata saja terasa begitu berat.
Angin dingin menyapu tubuh nya,semakin mencekam malam itu.
Dengan kekuatan doa dalam hati,akhirnya dia bisa bersuara dan bergerak.
Allahuakbar!!!
Danu berteriak dan membacakan ayat kursi,perlahan sosok itu menghilang dalam kegelapan dan meninggalkan Danu dengan suara khasnya.
Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya,terasa begitu lemas,dengan gontai dia berjalan menuju ke kamar hendak beristirahat.
Sunguh kejadian yang benar-benar mencekam. Mencoba memejamkan mata masih tidak bisa.
Berharap pagi segera datang. Dan ibu Segera pulang.
Pagi begitu indah,Terlihat Malik Dengan sang ayah sedang duduk di teras sambil menyeruput kopi panas buatan Anjani.
Ada pisang goreng juga di atas piring.
Anjani juga sedang sibuk di dapur membantu ibu mertuanya masak untuk sarapan.
Satu bulan sudah Anjani tinggal di rumah mertua,satu atap dengan mertua dan juga ipar membuat Anjani kurang betah.
Namun mau bagaimana lagi,dia di sana untuk ikut sang suami.
Anjani juga mulai menyadari kalau ibu mertuanya tidak begitu menyukainya.
Apapun yang di kerjakan selalu salah. Tidak pernah ada benarnya.
Terdengar di teras Malik dengan sang bapak sedang membicarakan sesuatu,seperti sedang membahan rumah yang akan di bangun ustadz Maulana untuk di tingagali Malik beserta istrinya Anjani.
"Malik,menurut kamu,di sebelah mana yang akan kamu bangun rumah?" Tanya sang bapak kepada anak nya.
"Saya inginnya bikin rumah yang dekat sama persawahan pak,tidak terlalu bising," Malik menjawab pertanyaan sang bapak.
__ADS_1
"Dekat sawah,yang ada di seberang jalan itu?" Tanya pal Maulana lagi untuk memastikan.
"Iya pak,biar Anjani bisa leluasa jika ingin berkebun,di sana cukup luas untuk bikin rumah dan juga kebun kecil."
"Ya sudah,besok bapak akan mencari tukang dan membeli material bangunan."
Anjani keluar menuju teras untuk memanggil bapak mertua dan juga suaminya untuk sarapan.
"Pak,mas Malik,sarapan sudah siap,mari kita sarapan dulu," ajak Anjani,dan mereka berdua pun berdiri dan berjalan menuju ruang meja makan.
Sudah ada Sarah beserta suami dan juga anaknya,sedang menunggu bapak nya untuk makan sarapan bersama.
Sambil makan sarapan mereka juga mengobrol mengutarakan niat untuk membangun rumah baru untuk Malik dan Anjani. Awalnya sang ibu keberatan namun akhirnya dia pun setuju.
Selesai makan,Anjani membersihkan meja makan dan juga piring yang kotor hendak mencuci nya. Dia merasa seperti pembantu di rumah suami. Tidak di anggap sebagai menantu,terutama ibu mertuanya,sangat pandai sandiwara.
Dia baik ketika ada Malik atau bapak nya,namun perangai yang sebenarnya muncul jika kedua orang itu tidak ada. Bahkan dia pernah di caci maki di depan Sarah dan Sarah tidak bisa membela Anjani karena watak sang ibu yang keras.
Hanya pak ustadz yang mampu mengendalikan ibu mertuanya itu. Anjani hanya pasrah,merasa numpang di rumah mertua,hanya kesabaran yang ada dalam diri Anjani.
Dan tadi mendengar akan di buat kan sebuah rumah,seperti mendapat angin segar bagi Ajani. Hidup satu atap dengan sang mertua seperti neraka.
Selesai mencuci piring,Anjani berjalan menuju kamarnya,berniat hendak berunding dengan suaminya. Namun sayang sang suami tidak ada di kamarnya.
Dia mencoba keluar dan mencari Malik,ternyata dia ada di belakang rumah sedang memberi makan unggas. Bergegas Anjani mendekati sang suami.
"Mas Malik,saya mau mengatakan sesuatu," ucap Anjani seraya mendekati suaminya.
"Ada masalah apa An?" Tanya sang suami kepadanya.
"Mas,ijinkan saya bekerja lagi di toko baju milik bu Ida,ya," Anjani sedikit memelas.
"Kenapa kamu ingin bekerja lagi di sana? Apa di rumah tidak menyenangkan bagimu?" Tanya Malik sedikit ketus .
"Bu-bukan begitu mas," jawab Anjani terbata sambil menundukkan wajahnya.
Malik sedikit kesal,mengingat Anjani masih belum bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri ketika di kamar. Ya,Anjani masih belum mau di sentuh sama Malik meski usia pernikahan mereka sudah satu bulan,Malik mencoba untuk bersabar karena,memaksa bukanlah gaya Malik.
"Biar ku pikirkan lagi,aku akan memberimu jawaban besok pagi," jawab Malik sambil berlalu meninggalkan sang istri sendiri di belakang rumah.
Anjani hanya merenung,meratapi nasib yang menurutnya begitu malang. Menikah di usia muda memang tidak ada enak nya.
Biasa bebas dan bermain sesuka hati,kini di kekang dan kemanapun harus minta ijin dulu. Bahkan pergi ke warung untuk belanja pun harus minta ijin. Kalau tidak kepada ibu mertua ya kepada suaminya.
Jika suami bilang tidak,maka dia akan diam diri di rumah. Tidak akan pernah berani membantah apa pun perkataan sang suami.
Sungguh malang nasibmu Anjani,gadis yang dulu periang,suka bercanda dan tawa,kini semua seakan hilang dari nya.
__ADS_1
Semenjak menikah,dia jarang sekali tersenyum apa lagi tertawa. Di depan keluarga suami dia hanya bisa memamerkan senyum palsu. Ya,semua yang ada pada Anjani sekarang semua palsu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*